Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Sengketa Wilayah Perbatasan Filipina-China Potensial Mengguncang Stabilitas Politik-Keamanan Asia Tenggara

Rusman

Rusman·6 Oktober 2026·2 menit baca

Bagikan
Sengketa Wilayah Perbatasan Filipina-China Potensial Mengguncang Stabilitas Politik-Keamanan Asia Tenggara

Penulis: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI) Sengketa perbatasan/border dispute antara Republik Rakyat China dan Filipina, selalu menarik untuk dicermati. Baru-baru ini pemerintah Filipina menolak klaim China bahwa mereka punya hak yuridiksi dan kedaulatan di lepas pantai, Batanes, yang…

Penulis: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Sengketa perbatasan/border dispute antara Republik Rakyat China dan Filipina, selalu menarik untuk dicermati. Baru-baru ini pemerintah Filipina menolak klaim China bahwa mereka punya hak yuridiksi dan kedaulatan di lepas pantai, Batanes, yang masuk provinsi bagian utara Filipina.

Baca: Philippines Rejects Chinese Claim to ‘Sovereign Rights’ Over Waters Around Batanes (ini link-nya: https://thediplomat.com/2026/10/philippines-rejects-chinese-claim-to-sovereign-rights-over-waters-around-batanes/)

Sebagai sekutu tradisional Amerika di kawasan Asia Tenggara, ketegangan diplomatik apalagi militer antara China-Filipina, pastinya dipandang sebagai ancaman potensial terhadap stabilitas politik dan keamanan di Asia Tenggara. Apalagi setelah Penjaga Pantai Filipina mendapati adanya kapal penelitian China di wilayah itu dan mengusirnya, yang berkeliaran di sekitar 37 mil barat laut Batenes selama 4 hari, eskalasi konflik bisa semakin menajam ketika  sebuah kapal Penjaga Pantai China juga bergerak masuk dan “berulang kali mencoba melindungi kapal penelitiannya.

Namun dalam konteks konflik geopolitik China-Amerika Serikat di Asia Pasifik yang semakin memanas saat ini, manuver militer China melalui kasus Batenes tersebut, sebagai perang urat syaraf saat ini China unggul satu set. Seperti diutarakan oleh juru bicara Kedutaan Besar China, pemerintah Beijing menyatakan bahwa kapal penelitian China tersebut “melakukan operasi normal di perairan di bawah yurisdiksi China sesuai dengan hukum internasional. Nah, ini dia. Satu kasus lagi muncul, ihwal sengketa wilayah perbatasan yang potensial mengguncang stabilitas Politik-Keamanan di Asia Tenggara.’

Apalagi kemudian pihak pemerintah Filipina juga bersikukuh menyatakan bahwa bahwa kapal penelitian Tiongkok tersebut beroperasi di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil laut negara itu, di mana, menurut Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), penelitian ilmiah kelautan hanya dapat dilakukan “dengan persetujuan negara pantai.”

Kalau menelisik kejadian-kejadian serupa sebelumnya, sengketa wilayah perbatasan antara Filipina dan China berlangsung di wilayah Laut China Selatan. khususnya di Scarborough Shoal dan di berbagai bagian Kepulauan Spratly.

Jadi rupanya pada Akhir Juni lalu, panel para ahli dari Universitas Jinan, China, menggelar simposium yang mana kemudian para pakar dari berbagai lembaga penelitian dan riset tersebut menyimpulkan bahwa Kepulauan Batenes sebagai “perpanjagan  geografis alami” Taiwan. Oleh sebab itu China merasa berhak terhadap kepulauan tersebut.

Kalau dipikir masuk akal juga. Bukankah hingga kini pemerintah China menganggap Taiwan pun merupakan bagian integral dari wilayah kedaulatan China?

Saya kira inti soal bukan soal wilayah yang jadi obyek sengketa Filipina dan China. Pun juga inti soal bukan soal Kepulauan Batenes atau Laut China Selatan. Inti soal, seturut dengan semakin menajamnya konflik Amerika vs China seturut terbentuknya persekutuan militer empat negara (QUAD) Amerika, Australia, Jepang dan India yang berada di bawah payung Strategi Indo-Pasifik Amerika Serikat, konflik sekecil apapun seperti sengketa kepulauan Batenes, sewaktu-waktu bisa menjadi faktor pemicu konflik politik dan militer dalam skala yang lebih luas.

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SelanjutnyaMembaca Ulang G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian 2)

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Membaca Ulang G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian 2)
Analisis

Membaca Ulang G30 September 1965G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian 2)

2 Oktober 2026 · 11 menit baca

Membaca Ulang G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian-1)
Analisis

Membaca Ulang G30 September 1965G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian-1)

30 September 2026 · 17 menit baca

Strategi Indo-Pasifik Amerika Serikat, Apa Agenda Strategis Australia?
Analisis

Strategi Indo-PasifikIndo-Pasifik Amerika Serikat, Apa Agenda Strategis Australia?

11 September 2026 · 6 menit baca

Terpopuler

  1. 01Njoto, Intelektual PKI, Penggerak Pers, dan Tokoh yang Tersisihkan Menjelang G30S 1965
  2. 02Sengketa Wilayah Perbatasan Filipina-China Potensial Mengguncang Stabilitas Politik-Keamanan Asia Tenggara
  3. 03James T. Siegel
  4. 04Dari Pratikno Hingga Rocky Gerung: Membaca Makna Wantimpres Prabowo Menuju 2029
  5. 05Membaca Ulang G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian 2)

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents