Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Meneropong Ragam Operasi Militer Gaya Baru Melalui Kiprah Korporasi Militer SwastaKorporasi Militer Swasta

Rusman

Rusman·25 Oktober 2026·7 menit baca

Bagikan
Meneropong Ragam Operasi Militer Gaya Baru Melalui Kiprah Korporasi Militer Swasta

Penulis: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

 Subyek kajian yang masih belum banyak ditelaah secara mendalam adalah fenomena maraknya Korporasi Militer Swasta (KMS). Beberapa waktu lalu saya lewat situs ini sempat menyorot salah satu KMS yaitu Blackwater. Namun pada perkembangannya, rupanya ada yang lebih kompleks daripada sekadar Blackwater sebagai sebuah fenomena. Penulis mengolah beberapa data penting dari buku karya Veronika Sintha Saraaswati, Imperium Militer Swasta. Neoliberalisme dan Korporasi Bisnis Keamanan Kontemporer.

Keputusan Presiden George W. Bush untuk menginvasi Afghanitasn pada 2001 dan Irak pada 2003, membuka kotak Pandora yang sebelumnya sudah dilihat namun belum dikenali konsekwensi strategisnya pada saat itu. Yaitu semakin maraknya kehadiran ratusan perusahaan keamanan swasta yang kelak menamakan dirinya sebagai KMS itu tadi. Rupanya fenomena maraknya KMS lebih rumit daripada sekadar perusahaan-perusahaan yang menawarkan jasa perekrutan serdadu-serdadu sewaan.

KMS pada perkembangannya kemudian meluaskan lingkup kegiatannya sebagai lembaga “perusahaan bisnis” yang mengutamakan pada kepentingan bisnis dalam bidang ketrampilan militer.

(Veronika Sintha Saraaswati, Imperium Militer Swasta. Neoliberalisme dan Korporasi Bisnis Keamanan Kontemporer. Yogyakarta: Resist Book, 2009).

Catatan dari Veronika yang menurut saya sangat penting bahwa tidak benar kalau KMS digolongkan sekadar sebagai tentara bayaran korporasi. Veronika menulis:

“Tentara bayaran masih bertempur pada orientasi uang semata, tapi dalam konteks kapitalisme global, beberapa kelompok organisasi tentara bayaran  menjadi korporasi yang berfungsi seperti perusahaan konsultasi dan telah membuat jarak antara mereka dan aktivitasnya. Lebih-lebih KMS terbukti meningkatkan efisiensi dan aturan kinerjanya mempengaruhi cara pemerinttah memandang tentara bayaran sebagai instrument negara.”

Namun segi krusial yang tergambar dalam buku karya Veronika tadi, praktek operasional KMS yang tidak didasari regulasi yang jelas, membuka peluang seringkali berada di ambang batas antara  “bisnis legal” dan “bisnis “ilegal.” Misal? Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentan tentara bayaran tidak jarang menemukan catatan buruk bahwa KMS sering terlibat dalam beragam perdagangan ilegal seperti jual-beli senjata, obat bius(narkoba), perdagangan perempuan, dan pelbagai jenis perdagangan gelap lainnya.

Bukan itu saja. Pada prakteknya juga sulit membuat pembedaan secara tegas antara membantu sistem pertahanan negara atau sebagai penerima jasa tertentu ataupun juga kontrak kerja untuk membantu penyerangan terhadap sebuah negara, katakanlah seperti Afghanistan atau Irak. Atau penyeran terhadap kelompok tertentu seperti Al-Qaeda pada Pasca Aksi Terorirsme pada September 2001, atau kelompok milisi bersenjata seperti terhadap Houthi Yaman yang lagi dapat banyak sorotan belakangan ini ketika melancarkan serangan militer ke Arab Saudi. Atau milisi/paramiliter seprti Hizbullah yang berbasis di Lebanon Selatan.

Yang mengerikan kalau merujuk pada tugas pokok dan fungsi KMS seperti yang mereka sendiri secara umum definisikan: KMS merupakan perusahaan yang beroperasi untuk mencapai keuntungan dengan menyediakan jasa pelayanan yang sebelumnya dilaksanakan oleh angkatan militer nasional, termasuk pelatihan militer, intelijen, logistik dan pertempuran ofensif, juga keamanan di wilayah konflik.”

Definisi terkait dengan tugas pokok dan fungsi KMS inilah yang kemudian seringkali mengundang kontroversi lantaran banyak perusahaan menutup diri dan tidak terbuka dalam menjelaskan terhadap wilayah aktivitas mereka.

Kalau menelisik kesejarahannya, KMS didirikan kali pertama oleh Sir David Stirling menemukan “Watch Guard-International”, yaitu sebuah perusahaan yang mempekerjakan bekas personil British SAS untuk melatih militer di luar negeri. Sejak saat itu SAS KMS menjadi industri yang makin bertumbuh yang berpengaruh pada lahirnya sejumlah konflik. Maka lahirlah “Executive Outcomes”, Sandline International dan MPRI, yang para rekrutannya dilibatkan dalam perang di Angola, Sierra Leone, dan Kroasia. KMS-KMS lain yang terlibat di Afrika antara lain “Silver Shadow” dan “Levdan” dari Israel, “International Defence and Security Ltd” , IDAS dari Belgia, “Teleservices and Alpha 5” dari Angola, dan “Compagnie Francaise d’Assistance Specialisee (COFRAS) dari Prancis.

Di Amerika Serikat, KMS juga marak, beberapa di antaranya cukup berskala global seperti Halliburton Company, Lockheedn Martin Corporation, DynCorp, Blackwater, The Carlyle Group dan Raytheon. Segi penting lain yang tak kalah menarik, para rekrutan sebagian besar pernah menjadi bagian dari unit elit Special Force seperti Navy Seals, Delta Force dan Komando Special Force dan Rangers (Amerika Serikat). Special Air Service, Special Boat Service, Airborne Commandos (Inggris).

Berapa masing-masing personil itu dibayar per hari? Selama mereka punya kompetensi tingkat tinggi dalam bidang tempur, intelijen/spionase, KMS berani bayar antara 500 hingga 1,500 dolar AS per hari.

Sekilas Beberapa Profil KMS

KMS Amerika Serikat

Saya mulai dari yang paling menghebohkan dunia internasional saat tentara AS menginvasi Irak pada 2003.

Blackwater, didirikan oleh Erik Prince di Carolina Utara pada 1997. Gary Jackson, presidennya, pernah aktif di angkatan laut USA Seal. Sewaktu Blackwater diberi tugas ke Irak, perusahaan tersebut diserahi tugas menjaga keamanan dan helikopuntuk kepala Coalition Provisional Authority (CPA) Paul Bremer dan Duta Besar AS untuk Irak John Negroponte. Untuk penangan hal-hal itu, Blackwater mendapat kontrak sebesar 21 juta dolar AS. Bahkan pada 2004, pemerintahan Bush telah membayar Blackwater lebih dari 330 juta dolar AS.

DynCorp

DynCorp ini milik Veritas Capital, sebuah perusahaan investasi swasta yang mempekerjakan 25.000 karyawan. Perusahaan ini memenangkan kontrak senilai 2 miliar dolar AS pada 2006 lalu, untuk menangani lingkup jasa pelayanan miliuter termasuk membangun camp, membangun perbatasan, dan melindungi presiden Afghanistan Hamid Karzai. Namun DynCorp juga melibatkan diri dalam linkaran prostitusi dengan memperdagangkan anak-anak perempuan berusia 12 tahun. Sementara lainnya dituduh membuat film perkosaan pada dua orang perempuan.

Military Professional Resources Inc (USA)

Perusahaan yang kerap disebut MPRI tersebut didirikan pada 1987 oleh pensiunan pejabat milter AS, MPRI punya 3000 pekerja dan mempunuai dekingan pejabat militer berkedudukan tinnggi lebih banyak daripada Pentagon. MPRI menyediakan pelatihan militer taktis untuk Kosovo Liberation Army sebelum pengeboman NATO, dan menjalin kolaborasi dengan pemerintah Kolombia. Jangkauan program uga meluas ke Afrika, negara-negara yang pernah bergabung dalam Uni Soviet, Asia dan Timur Tengah.

Northbridge Services Group Ltd (Inggris)

Ketika AS berencana untuk menginvasi Liberia pada 2003, Northbridge mengatakan sanggup menyebarkan 500 hingga 2000 orang bersenjata untuk negara dalam waktu 3 minggu untuk menghentikan pertempuran dan menawarkan untuk menangoap presiden Liberia Charles Taylor seharga  4 juta dolar AS. Pada 2003, pemerintah Inggris di depan umum menghukum Northbridge atas adanya laporan bahwa perusahaan itu telah menyewa tentara bayaran Inggris, Prancis, dan Afrika Selatan atas nama pemerintah Pantai Gading. Yang mengejutkan bahkan bagi Northbridge, mantan menteri luar negeri Inggris era Tony Blair, Jack Straw, ternyata mendukung penggunaan tentara sewaan tersebut.

Untuk sementara cukup sekian dulu sekilas profil beberapa KMS. Aspek lain yang tadi sudah sempat saya ketengahkan sekilas adalah KMS sebagai penyedia Jasa Intelijen. Ini menarik buat dipelajari secara saksama. Sebab berarti melampaui lingkup penugasan di bidang pertempuran militer saja.

Melainkan juga dalam lingkup penugasan intelijen dan spionase seperti pengintaian udara dan satelit, interpretasi foto dan analisis seperti SIGINT dan MASINT. SIGNTmerupakan fungsi jasa intelijen dalam tugas-tugas berkaitan dengan analisis data-data elektronik dan kode-kode sinyal komunikasi tertentu. Adapun MASINT berfungsi untuk analisis dan pengkajian data-data kasus secara lebih mendalam baik kualitatif maupun kuantitatif.

Namun dalam lingkup penyediaan jasa intelijen ini, juga mencakup Perang Psikologis dan Perang Informasi. Hal ini juga krusial di era digital dan abad informasi yang begitu pesat perkembangannya seperti sekarang ini. Bahkan melampaui prediksi Alvin Toffler dalam bukunya Future Shock yan terbit pada 1970.

Misalnya salah satu perusahaan AS, Diligence LLC, yang ditemukan oleh mantan anggota CIA dan perusahaan Inggris MI5, telah menyediakan informasi komersial dan analisis intelijen yang bersifat kompetitif secara bisnis. Beberapa perusahaan lainnya malah ada  yang mengkhususkan diri dalam operasinya melacak dan mengawasi penyelundup obat bius. Di Laut Cina Selatan KMS seperti Trident, Marine Risk Management dan Satellite Protection Service, melakukan tugas-tugas anti-pembajakan. Banyak pula dari perusahaan seperti ini melibatkan personil-personil sewaannya untuk naik ke pesawat dan membuat persetujuan dengan para pembajak.

Perusahaan AS seperti CACI, MZM, dan Titan, melibatkan personil intelijen, interrogator, interpreter dan translator di Irak. Adapun perusahaan AS lainnya, Air-Scan Inc, melakukan pengawasan pesawat maritime dan pesawat darat di Amerika Latin, Asia, dan Afrika. Perusahaan AS BMD, menyediakan jasa penerjemah bahasa untuk operasi militer AS di Somalia, Haiti, Bosnia, Asia Tengah dan Teluk Persia.

Begitu juga Special Operation Consulting-Security Management Group telah merekrut informan Irak. Perusahaan ini juga menyediakan intelijen membantu perusahaan dalam memperkirakan musuh-musuhnya. Di Timor Leste, Perserikan Bangsa-Bangsa menggunakan perusahaan intelijen swasta untuk mendampingi UNS Transitional Administration. Northbridge Services Group Ltd (Inggris), yang stafnya adalah bekas anggota CIA, menyediakan jasa pelayanan intelijen dan kontra intelijen. Sementara Kellog Brown & Root menjalankan program kontrol alat pendengaran rahasia di markas tentara AS di Irak. Air-Scan menggunakan pesawat Cesna 337 yang dilengkapi dengan banyak sensor untuk pengintaian di udara di kawasan pinggiran instalasi minyak di Cabinda, Angola. Sekadar info, kebanyakan stafnya dimiliki oleh Chevron. Yang tak kalah penting, Rubicon International milik Inggris, menyajikan Daily Risk Report  untuk beberapa negara termasuk Irak dan Arab Saudi.

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SelanjutnyaMemahami Evolusi Pemikiran Politik Sukarno dalam Hubungan Indonesia-Tiongkok (1956-1965)

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Memahami Evolusi Pemikiran Politik Sukarno dalam Hubungan Indonesia-Tiongkok (1956-1965)
Analisis

Memahami Evolusi Pemikiran Politik SukarnoPolitik Sukarno dalam Hubungan Indonesia-Tiongkok (1956-1965)

12 Oktober 2026 · 15 menit baca

Sengketa Wilayah Perbatasan Filipina-China Potensial Mengguncang Stabilitas Politik-Keamanan Asia Tenggara
Analisis

Sengketa Wilayah Perbatasan Filipina-China Potensial Mengguncang Stabilitas Politik-Keamanan Asia Tenggara

6 Oktober 2026 · 2 menit baca

Membaca Ulang G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian 2)
Analisis

Membaca Ulang G30 September 1965G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian 2)

2 Oktober 2026 · 11 menit baca

Terpopuler

  1. 01Meneropong Ragam Operasi Militer Gaya Baru Melalui Kiprah Korporasi Militer Swasta
  2. 02Mantan Perwira Intelijen MI5 Kaitkan Kematian Putri dengan Isu Palestina
  3. 03380 Juta Yen untuk “Ianfu”: Ketika Penyelesaian Negara Tidak Sampai kepada Penyintas
  4. 04Membaca Masa Depan Ekonomi Indonesia Sesudah 10 Tahun di Bawah Jokowi
  5. 05Revolusioner yang Tak Pernah Selesai dengan Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents