Memperluas Kerja Sama Komprehensif antara Indonesia-Korea Selatan Pendekatan Paradiplomasi


Penulis: Laode Muhamad Fathun
Pendahuluan
Selama ini banyak studi hubungan internasional (HI) hanya melihat relasi hubungan antar actor dari perspektif negara saja. Artinya pola pikir ini masih menunjukan kajian HI yang relatif klasik. Padahal realitas hubungan antar actor saat ini tidak lagi didominasi oleh negara, khususnya bidang diplomasi. Ada empat hal yang membuat perubahan itu terjadi 1) perubahan sistem internasional, 2) sifat prevelensi sifat perang, 3) revolusi peran negara dan peran Teknologi informasi (Carlnaes dkk, 2013). Perubahan landscape ini harusnya turut mengubah hubungan komprehensif yang dilakukan oleh negara. Mengapa ini penting karena hubungan komprehensif yang dilakukan selama ini tidak selalu dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Sebab terlalu makronya perspektif kerja sama yang dibangun dan diimplementasikan.
Kemudian, jika dilihat dari ruang lingkup studi HI itu sendiri khususnya poin kedua yang berkaitan dengan hubungan interdependsi antar actor melalui proses transnasional, menunjukan harusnya ada perubahan dinamika peran actor dan subtansi isu yang dibahas. (Fathun, 2022). Selain itu juga Keohane juga menyampaikan dinamika HI yang terjadi mengubah pola interaksi transnasionalisme menjadi hubungan saling ketergantingan akibatnya terjadi perubahan bentuk institusionalisme dalam HI yang diperankan oleh actor substate atau paradiplomasi (Kusnetsov, 2015). Keadaan ini menunjukan secara relasi negara bukan lagi satu-satunya actor yang bisa melakukan HI tetapi actor paradiplomasi juga bisa ikutserta mendukung dan berperan aktif dalam membangun relasi internasional.
Mengapa peran paradiplomasi khususnya kota penting untuk berperan karena adanya distribusi kekuasaan, globalisasi, desentralisasi, akselerasi potensi dan faktor lainnya ( Utomo, 2021). Kemudian, Acuto mempertegas dengan dua hal yakni terjadi bias internasional, dimana actor HI berubah signifikan dan realsi yang dibentuk semakin kompleks. Dari gagasan inilah hubungan komprehensif hubungan antarnegara tidak selalu harus melalui peran negara yang relatif terlalu rasional kalkulasi dan jarang mempertimbangkan faktor emosi dan psikologi realitas di lapangan. Akibatnya relasi antarnegara itu hanya dinikmati di level elitis dan Pemerintah Daerah yang menjadi bagian dari sistem pemerintahan desentralisasi tidak mendapatkan keuntungan signifikan. Karena seringkali berbeda pandangan antara kepentingan nasional dan kepentingan publik di daerah. Oleh sebab itulah penting menawarkan pendekatan lain dalam melihat hubungan komprehensif Indonesia dan Korea Selatan, khususnya bidang Teknologi informasi.
Legitimaserja Sama Paradiplomasi
Dasar argumennya adalah tertuang dalam PP. 28 / 2018, Permenlu No. 3 2018, UU.24 TAHUN 2000 dan UU No. 23 tahun 2014. Secara umum kontribusi Pemerintah daerah adalah melalui Kerja sama Daerah dengan Daerah biasanya berbentuk sister city dan sister province, kerja sama Daerah dengan Lembaga Luar misalnya mendapatkan bantuan bantuan kolaborasi seperti JICA, ASEAN dan lain-lain, dan kerja sama Daerah dengan Pihak ketiga yang biasanya berbentuk dana donor dan investasi. Namun sekalipun ada sejumlah aturan tersebut, tetap saja Kementrian Luar Negeri dan Kementrian Dalam Negeri sebagai katalisator, fasilitator, protector dalam kerja sama internasional oleh Pemerintah Daerah (Fathun; 2022)
Keterlibatan Pemerintah Daerah inilah sering disebut dengan Paradiplomasi yang merujuk pada kata Para yang artinya jamak dan diplomasi adalah aktifitas luar negeri. Sederhananya adalah diplomasi jamak yang dilakukan secara parallel, multilapis, dalam mencapai kepentingan daerah yang sejalan dengan kepentingan nasional (Mukti; 2021). Dalam konteks inilah konteks relasi hubungan Pusat dan Daerah harus bersinergi. Makanya konsep relasinya adalah formula comparative joint yang merujuk implementasi kebijakan luar negeri dilaksanakan secara sinergis anatar pusat dan daerah (Kusnetsov; 2015). Demikian juga yang dilakukan antara Indonesia dan Korea Selatan bukan hanya hubungan komprehensif di level pusat namun juga di level daerah. Realitas ini terlihat melalui hubungan kerja sama komprehensif antara Kota Bandung dan Kota Tanggerang Selatan.
Perluasan Landscape kerja Sama Melalui Sister City
Dalam merespon kerja sama komprehensif antara Indonesia dan Korea Selatan, tidak bisa hanya dipotret dari perspektif negara. Namun Pendekatan paradiplomasi atau subnegara bisa dipertimbangkan sebagai alternatif membangun hubungan yang komprehensif. Sebab membangun hubungan komprehensif antara Indonesia dan Korea Selatan, Peran Korea Selatan selama ini berperan aktif membangun relasi dengan Indonesia bukan hanya dalam tataran negara namun juga dengan subnegara atau hubungan antar kota. Faktualisasinya dalam sebuah Pidato Prabowo Subianto menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Korea Selatan harus semakin erat. Bahkan kedekatan komunitas budaya Korea Selatan yang ada di Indonesia berupa K-Pop harus diperluas. Pernyataan ini menunjukkan bahwa hubungan baik keduanya sangat komprehensif. Lebih lanjut jauh sebelum itu hubungan komprehensif antara Kota-Kota di Korea Selatan dan Kota di Indonesia menunjukan peran Korea Selatan yang sangat aktif untuk memajukan peran kota di Indonesia dalam berbagai isu strategis. Hal ini terlihat dari kerjasama Kota Bandung dan Kota Seoul.
Mengapa Kota Bandung menjadi sampe dalam tulisan ini karena 1) Kota Bandung merupakan Kota pertama di Indonesia yang melakukan kerja sama luar negeri antar Kota Bersama Kota Brownsesing di Jerman, sehingga pengalamannya sudah sangat banyak dalam memperluas implementasi kebijakan luar negeri Indonesia, 2) Kota Bandung merupakan Kota yang memiliki kurnag lebih 20 lebih kerja sama antar Kota dan salah satunya dengan Kota-kota di Korea Selatan, 3) kerja sama antar Kota Bandung dengan sejumlah Kota di Korea Selatan dalam berbagai bidang misalnya Pembangunan Pusat Budaya Korea di Bandung hingga kerja sama bidang teknologi informasi.
Efektifitas kerja sama Kota yang dilakukan Kota Bandung bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan lebih realistis. Salah satu bukti kongkrit kerja sama Kota Bandung dengan Kota Seoul adalah bidang teknologi informasi, khususnya pembangunan kota pintar di Kota Bandung. Dari beberapa bidang kerja sama tersebut membuat tata Kelola kota Bandung bisa menciptakan smart govermenet yang mengarah dan bermanfaat pada pelayanan publik yang cepat dan efisien. Selain itu ada juga smart link yang mengarah pada pelayanan kualitas kehidupan Masyarakat sehingga bisa terintegrasi dengan teknologi informasi. Kemudian smart environment yang mengarah pada pengelolaan lingkungan yang berbasis teknologi misalnya tata Kelola sampah , limbah dan lain-lain. Dan juga menciptakan smart branding yang mengarah pada pengenalan Kota Bandung dengan citra Kota pintar yang berbasis teknologi Salah satu manfaat kota pintar ini adalah bisa menggunakan website pemkot Bandung sebagai media komunikasi dan media promosi atau istilah lainya menjadi instrument e-diplomacy dan e-govermenent (Fathun; 2012).
Salah satu bukti kongkritnya adalah membuat Kota Bandung sebagai salah satu Kota kreatif di UNESCO. Penulis tidak mengklaim keberhasilan ini sebagai faktor Tunggal keberhasilan Kota Bandung namun akibat kerja sama Kota Pintar ini yang juga ada peran Seoul Korea Selatan sebagai fasilitator kerjasama antar Kota. Tetapi kerja sama tersebut bisa berkontribusi membuat Bandung sebagai Kota kreafif. Berikut ini adalah sejumlah data yang menunjukan kreatifnya Kota Bandung:
Tabel 1.1 Input dan Output Industri Kreatif Kota Bandung
| No | Jenis Industri Kreatif | Jumlah Asset
(Rp) |
Jumlah Tenaga
Kerja (Orang) |
Omset (Rp)/Hari |
| 1 | Periklanan | 4.000.000.000 | 15 | 7.000.000 |
| 2 | Arsitektur | 1.752.000.000 | 62 | 64.793.000 |
| 3 | Pasar Barang Seni dan Seni Pertunjukkan | 20.608.000.000 | 23 | 20.100.000 |
| 4 | Kerajinan | 10.178.000.000 | 424 | 197.368.000 |
| 5 | Desain | 1.512.000.000 | 41 | 36.656.000 |
| 6 | Fesyen | 37.275.050.000 | 1.217 | 2.506.731.000 |
| 7 | Video, Film dan Fotografi | 2.920.000.000 | 46 | 18.094.000 |
| 8 | Permainan Interaktif | 300.000.000 | 3 | 278.000 |
| 9 | Musik | 3.250.000.000 | 97 | 215.100.000 |
| 10 | Penerbitan dan Percetakan | 5.775.000.000 | 237 | 87.960.000 |
| 11 | Televisi dan Radio | 4.000.000.000 | 20 | 15.000.000 |
| 12 | Riset dan Pengembangan | 1.350.000.000 | 27 | 6.600.000 |
| Total | 102.881.050.000 | 2,659 | 3.175.680.000 |
Sumber: (Ishak & Somadi, 2019)

Gambar 1 Rata-rata Nilai Indikator Kota Bandung 2023 (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) Pemkot Bandung:2023
Dengan demikian data di atas menunjukan bahwa Kota Bandung mampu menunjukan keberhasilan kerja sama antar Kota khususnya dengan Seoul Korea Selatan. Sekalipun kerja sama tersebut bukan satu-satunya factor yang membuat Kota Bandung menjadi Kota kreatif, namun kerja sama nmelalui bidang teknologi bisa bermanfaat bagi Kota Bandung khususnya untuk menciptakan manfaat dan brandiung kota.
Bibliography
Kusnetsov, A. (2015). Theory and Practice Paradiplomacy. London: Routledge.
Utomo, A. B. (2021). Diplomasi Kota. Yogyakarta: Sulu Media.
,Carlesnaes Walter et al. (2013). Handbook Hubungan Internasional. Bandung.
Carlnaes, et al. (2013). Hndbook Hubungan Internasional. Bandung: Nusamedia.
Fathun, L. M. (2012). Peluang dan Tantangan E Diplomasi dalam Menarik Investasi Asing di Kota Makassar. Makassar: Repisitori UNHAS.
Fathun, L. M. (2022). Peran Paradiplomacy dalam Presidensi G20 Indonesia : Studi Kasus Diplomasi Kota Jakarta pada Urban 20. Indonesian Perspectives, 57-78.

Rusman
Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.


