Membaca Masa Depan Ekonomi Indonesia Sesudah 10 Tahun di Bawah Jokowi


Csaba Moldicz. “Indonesia’s Economy After Joko Widodo: Economic Growth and Transformation.” Penerbit: Palgrave Macmillan, 2025. Tebal: 189 halaman
Ada pertanyaan besar yang menyertai pergantian kepemimpinan nasional di Indonesia: setelah satu dekade pembangunan di bawah Joko Widodo, ke mana arah ekonomi Indonesia selanjutnya? Apakah pembangunan infrastruktur, industrialisasi, dan upaya menarik investasi asing telah cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi?
Ataukah Indonesia justru menghadapi tantangan baru berupa ketergantungan pada modal asing, nilai tambah industri yang belum optimal, dan dilema mempertahankan kemandirian strategis di tengah persaingan kekuatan besar?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi pintu masuk buku Indonesia’s Economy After Joko Widodo: Economic Growth and Transformation, karya Csaba Moldicz, yang diterbitkan Palgrave Macmillan pada 2025. Buku akademik setebal 189 halaman ini membahas transformasi ekonomi Indonesia selama pemerintahan Jokowi, sekaligus menelaah pilihan-pilihan pembangunan yang akan menentukan prospek Indonesia pada tahun-tahun berikutnya.
Meski judulnya menggunakan frasa “After Joko Widodo”, buku ini bukan semata-mata kajian tentang kebijakan ekonomi setelah Jokowi meninggalkan Istana. Fokus utamanya justru terletak pada warisan pembangunan selama periode 2014–2024 dan persoalan struktural yang harus dihadapi pemerintahan penerusnya. Dengan demikian, buku ini relevan untuk membaca tantangan ekonomi yang diwarisi Presiden Prabowo Subianto.
Dari Pertumbuhan Menuju Transformasi
Salah satu pokok penting buku Moldicz adalah pembedaan antara pertumbuhan ekonomi dan transformasi ekonomi. Pertumbuhan menunjukkan peningkatan aktivitas atau output ekonomi, sedangkan transformasi menuntut perubahan yang lebih mendasar pada struktur produksi, kemampuan teknologi, produktivitas, dan posisi suatu negara dalam rantai nilai global.
Indonesia telah memperlihatkan kemampuan mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan membangun infrastruktur dalam skala besar. Namun, pertanyaan yang lebih menentukan adalah apakah kemajuan tersebut telah mengubah struktur ekonomi secara cukup mendalam sehingga Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor komoditas mentah, investasi eksternal, atau kegiatan produksi dengan nilai tambah terbatas.
Buku ini menyoroti sektor manufaktur, jasa, dan pembangunan infrastruktur sebagai bagian penting dari proses transformasi tersebut. Indonesia membutuhkan bukan sekadar lebih banyak investasi, melainkan investasi yang dapat memperkuat kapasitas produksi nasional, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan menciptakan hubungan yang lebih erat antara industri, teknologi, serta pasar domestik.
Dalam kerangka itu, keberhasilan pembangunan tidak cukup dinilai dari berapa banyak jalan, pelabuhan, kawasan industri, atau fasilitas baru yang dibangun. Pertanyaan berikutnya adalah apakah infrastruktur tersebut mampu menurunkan biaya logistik, meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan kerja berkualitas, dan membuat industri Indonesia semakin kompetitif.
Investasi Asing dan Risiko Ketergantungan
Moldicz mengangkat dilema penting yang dihadapi negara berkembang: bagaimana mempertahankan laju pembangunan tanpa menciptakan ketergantungan berlebihan pada sumber pembiayaan dari luar negeri?
Investasi asing dapat membawa modal, teknologi, akses pasar, dan kesempatan kerja. Bagi negara yang membutuhkan pembiayaan pembangunan dalam jumlah besar, kehadiran investor internasional merupakan salah satu instrumen penting. Namun, manfaatnya tidak otomatis muncul hanya karena modal masuk.
Persoalan terletak pada kualitas investasi dan struktur hubungan ekonomi yang terbentuk. Seberapa besar teknologi ditransfer kepada perusahaan domestik? Berapa banyak tenaga kerja lokal yang memperoleh keterampilan baru? Apakah industri nasional mendapatkan kesempatan masuk ke rantai pasok? Dan berapa besar nilai tambah yang benar-benar tertinggal di dalam negeri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting dalam menilai strategi hilirisasi mineral, pengembangan industri baterai, dan pembangunan ekosistem kendaraan listrik. Kebijakan yang menarik investasi dan membangun fasilitas pengolahan merupakan langkah awal, tetapi keberhasilan jangka panjang juga bergantung pada kemampuan Indonesia menguasai teknologi, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, dan memperluas peran perusahaan nasional.
Di sinilah gagasan kemandirian ekonomi memperoleh relevansi. Kemandirian bukan berarti menutup diri dari modal asing atau perdagangan internasional. Kemandirian berarti memiliki kapasitas yang cukup untuk menentukan arah pembangunan, mengelola risiko eksternal, dan memperoleh manfaat yang lebih besar dari keterlibatan dalam ekonomi global.
Infrastruktur dan Tantangan Negara Kepulauan
Bab mengenai pembangunan infrastruktur di negara kepulauan juga mengangkat persoalan khas Indonesia. Sebagai negara yang terdiri atas ribuan pulau dengan pusat-pusat ekonomi yang tersebar, Indonesia menghadapi tantangan konektivitas yang berbeda dari negara dengan wilayah daratan yang relatif menyatu.
Infrastruktur dapat membantu menghubungkan sentra produksi dengan pelabuhan, memperlancar distribusi barang, dan membuka akses wilayah yang sebelumnya terisolasi. Namun, pembangunan yang efektif harus mempertimbangkan biaya, kebutuhan nyata, kualitas pemeliharaan, dan manfaat ekonomi jangka panjang.
Pembangunan yang cepat dan murah mungkin menarik dari sisi anggaran, tetapi penghematan biaya awal tidak selalu menghasilkan efisiensi apabila fasilitas yang dibangun kurang produktif atau membutuhkan biaya pemeliharaan besar. Sebaliknya, proyek yang mahal juga tidak otomatis bermanfaat jika tidak menghasilkan aktivitas ekonomi yang sepadan.
Karena itu, infrastruktur perlu ditempatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan produktivitas, bukan sekadar simbol keberhasilan pembangunan. Ukuran keberhasilannya terletak pada manfaat yang diterima masyarakat dan dunia usaha, termasuk penurunan biaya transportasi, peningkatan akses pasar, dan pemerataan kesempatan ekonomi.
Kemandirian Strategis di Tengah Persaingan Global
Salah satu bagian paling menarik dari buku ini adalah pembahasan mengenai hubungan antara kebijakan luar negeri dan tujuan pembangunan ekonomi. Moldicz menghubungkan transformasi ekonomi dengan kemampuan Indonesia menjaga otonomi strategis di tengah perubahan tatanan internasional.
Persaingan Amerika Serikat dan China, perubahan rantai pasok global, serta kompetisi untuk memperoleh bahan baku strategis menciptakan peluang sekaligus risiko bagi Indonesia. Posisi Indonesia sebagai pemilik sumber daya alam penting dan pasar domestik yang besar memberinya daya tawar. Akan tetapi, daya tawar itu hanya akan menghasilkan keuntungan jangka panjang apabila didukung oleh kapasitas industri dan teknologi yang memadai.
Dalam konteks tersebut, kebijakan ekonomi dan diplomasi tidak dapat dipisahkan. Pilihan mitra investasi, akses terhadap teknologi, kerja sama perdagangan, dan orientasi hubungan luar negeri dapat memengaruhi ruang gerak pembangunan nasional.
Indonesia perlu menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan besar tanpa kehilangan kemampuan menentukan prioritasnya sendiri. Namun, strategi semacam ini tidak cukup dijalankan melalui diplomasi yang seimbang. Ia harus ditopang oleh struktur ekonomi yang lebih kuat, sehingga Indonesia memiliki pilihan yang lebih luas dan tidak mudah tertekan oleh perubahan kondisi eksternal.
Persoalan ini relevan bagi pemerintahan Prabowo. Ambisi memperkuat posisi Indonesia di tingkat internasional perlu berjalan seiring dengan pembangunan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguatan kapasitas teknologi di dalam negeri.
Bonus Demografi: Peluang yang Tidak Otomatis Menjadi Keuntungan
Buku ini juga membahas pemanfaatan bonus demografi. Penduduk usia produktif yang besar dapat menjadi sumber pertumbuhan apabila tersedia pekerjaan yang produktif, pendidikan yang relevan, keterampilan yang dibutuhkan industri, serta kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Namun, jumlah penduduk usia kerja yang besar tidak dengan sendirinya menghasilkan dividen ekonomi. Jika penciptaan lapangan kerja berkualitas tertinggal dari pertumbuhan angkatan kerja, bonus demografi justru dapat disertai persoalan pengangguran, pekerjaan informal, dan produktivitas rendah.
Tantangan Indonesia adalah memastikan transformasi ekonomi menghasilkan pekerjaan yang mampu menyerap tenaga kerja sekaligus meningkatkan keterampilan dan pendapatan mereka. Pendidikan, pelatihan vokasi, kebijakan industri, dan investasi teknologi perlu bergerak dalam arah yang saling mendukung.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya produk domestik bruto, tetapi juga oleh kemampuan ekonomi menciptakan peluang yang luas dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Membaca Buku Ini Secara Kritis
Kekuatan buku Moldicz terletak pada upayanya menghubungkan sejumlah persoalan yang kerap dibahas secara terpisah: pembiayaan pembangunan, modernisasi industri, infrastruktur, demografi, dan kebijakan luar negeri. Semuanya ditempatkan dalam satu pertanyaan besar, yakni bagaimana Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan sambil memperkuat kapasitas ekonomi dan kemandirian strategisnya.
Struktur buku mencakup tujuh bab utama, mulai dari gambaran statistik ekonomi Indonesia, dilema pembiayaan eksternal, modernisasi ekonomi dan peningkatan nilai tambah domestik, pembangunan infrastruktur, kemandirian strategis, bonus demografi, hingga dilema pembangunan Indonesia secara keseluruhan.
Meski demikian, buku ini sebaiknya dibaca sebagai analisis struktural atas ekonomi Indonesia, bukan evaluasi lengkap atas seluruh kebijakan pemerintahan Prabowo. Karena diterbitkan pada 2025 dan berfokus pada transformasi selama era Jokowi, buku ini tidak dapat dianggap sebagai penilaian menyeluruh terhadap hasil kebijakan Prabowo yang baru berjalan ketika buku tersebut diterbitkan.
Pembaca juga perlu membedakan antara kerangka analisis yang ditawarkan penulis dan bukti empiris yang mendukung setiap kesimpulan. Untuk menilai perkembangan terbaru, analisis buku ini sebaiknya dilengkapi dengan data resmi mengenai produktivitas, investasi, nilai tambah industri, kualitas pekerjaan, dan perkembangan perdagangan Indonesia.
Penutup: Pertumbuhan Saja Tidak Cukup
Pesan utama buku Indonesia’s Economy After Joko Widodo dapat diringkas dalam satu gagasan: tantangan Indonesia bukan hanya mempertahankan pertumbuhan, melainkan mengubah pertumbuhan itu menjadi kemampuan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Pembangunan infrastruktur perlu menghasilkan produktivitas. Investasi asing perlu memperkuat industri domestik. Hilirisasi perlu diikuti penguasaan teknologi dan peningkatan nilai tambah. Bonus demografi perlu diterjemahkan menjadi pekerjaan berkualitas. Sementara itu, diplomasi ekonomi perlu memperluas pilihan Indonesia, bukan menciptakan ketergantungan baru.
Warisan pembangunan Jokowi dengan demikian bukanlah garis akhir, melainkan titik berangkat bagi agenda transformasi berikutnya. Bagi Prabowo, persoalan terbesarnya bukan sekadar melanjutkan proyek-proyek yang sudah berjalan, tetapi memastikan bahwa pembangunan tersebut membentuk fondasi ekonomi yang lebih produktif, inklusif, dan mandiri.
Di tengah persaingan kekuatan besar dan perubahan ekonomi global, Indonesia membutuhkan lebih dari pertumbuhan yang stabil. Indonesia membutuhkan kemampuan untuk menghasilkan teknologi, memperkuat industri, meningkatkan kualitas tenaga kerja, dan menentukan arah pembangunan berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri.
Itulah relevansi utama buku Csaba Moldicz: mengingatkan bahwa ukuran kemajuan sebuah negara bukan hanya seberapa cepat ekonominya tumbuh, tetapi juga seberapa jauh pertumbuhan tersebut mengubah kapasitas dan masa depannya.
Jakarta, 14 Oktober 2026
Satrio Arismunandar, Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Penulis Indonesia

Rusman
Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.


