Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Membaca Ulang G30 September 1965G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian-1)

Rusman

Rusman·30 September 2026·17 menit baca

Bagikan
Membaca Ulang G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian-1)

Penulis: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Tak terasa 61 tahun sudah peristiwa tragis 30 September 1965 yang menewaskan 6 jenderal angkatan darat dan seorang perwira pertama yang oleh para operator penculikan dan pembunuhan para pucuk pimpinan angkatan darat disangka sebagai jenderal Abdul Haris Nasution.

Melalui telaah sejarah umum sudah tahu bahwa yang tewas terbunuh dalam apa yang disebut Gerakan Tigapuluh September (GESTAPU) telah menewaskan Jenderal Ahmad Yani, Kepala Staf Angkatan Darat dan beberapa deputi Kepala Staf Angkatan Darat: Jenderal Sutoyo, Jenderal DI Panjaitan, Jenderal Suprapto, Jenderal MT Haryono, dan Jenderal Sutoyo. Adapun Jenderal Nasution, seperti saya jelaskan tadi, selamat dari sasaran penculikan dan pembunuhan, namun menewaskan Ade Irma Suryani, putri Jenderal Nasution, dan Kapten Piere Tendean, ajudan Nasution.

Apa yang sesungguhnya terjadi dalam apa yang kelak kita kenal sebagai Gerakan 30 September 1965? Untuk mengurai kembali peristiwa 61 tahun yang lalu itu, John Rossa dalam bukunya bertajuk Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September # Kudeta Suharto, mengutip Blaise Pacal (1623-1662):

“Kebenaran tentang perebutan kekuasaan tidak boleh dibikin jelas; pada mulanya ia terjadi tanpa alasan tapi kemudian menjadi masuk akal. Kita harus memastikan bahwa kebenaran itu dianggap sah dan abadi; adapun asal-mulanya sendiri harus disembunyikan, jikla kita tidak ingin kebenaran itu cepat berakhir.”

Sepertinya kutipan dari Blasé Pascal yang bernas dan jitu itu mencerminkan kegelisahan John Rossa ketika menulis buku tersebut tadi. Kejadian 30 September 1965 selain masih misterius hingga kini, jalinan ceritanya saat kita berupaya mengurai lapisan demi lapisan kejadian tersebut, terkesan menghadapi teka-teki yang kemudian digunakan untuk menutupi atau menyelubungi yang juga penuh teka-teki di dalamnya.

Berita pertama yang bergulir pada 1 Oktober 1965, merupakan lapisan pertama dari teka-teka itu. Melalui siaran radio lewat RRI, para konspirator mewartakan bahwa aksi mereka pada dini hari 30 September bertujuan melindungi Presiden Sukarno dari komplotan jenderal kanan yang bermaksud melancarkan kudeta. Mereka menyebut nama pemimpin mereka, Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalyon Kawal Kehormatan Cakrabirawa, yang bertanggungjawab mengawal presiden.

Namun teka-teki lapisan berikutnya adalah, apa yang kita kelak kenal sebagai G-30-S menjadi sulit kita pahami karena gerakan tersebut sudah kalah sebelum kebanyakan orang Indonesia menyadari sepenuhnya apa yang sesungguhnya terjadi. Apalagi menjawab pertanyaan paling krusial: Apakah ini gerakan kontra kudeta yang dilancarkan pasukan militer yang setia kepada Bung Karno, atau sebaliknya, justru bagian integral dari kudeta bertahan yang ujung-ujungnya bukan sekadar menghancurkan dan mencitraburukkan Partai Komunis Indonesia (PKI), melainkan untuk menumbangkan Presiden Sukarno itu sendiri.

Mengapa G-30-S bisa kita katakan sudah kalah sebelum cerita sesungguhnya di balik aksi penculikan dan pembunuhan 6 jenderal dan seorang perwira pertama tersingkap para aktor intelektual dan jejaring operator pendukungnya yang memainkan peran di lapangan? G-30-S tumbang secepat kemunculannya. Begitu istilah yang menurut saya tepat dari John Rossa, untuk menggambarkan misteri dan teka-teki gerakan tersebut.

Maka itu sangat tepat pula ketika John Rossa memulai paragraph awal bukunya itu dengan kalimat: “Bagi sejarawan yang ingin memahami perjalanan sejarah Indonesia modern, hal yang terkadang menimbulkan rasa frustrasi ialah justru karena kejadian yang paling misterius ternyata merupakan salah satu babak kejadian yang terpenting.”

Artinya, meskpun G-30-S bernapas pendek, namun dampak dan daya rusaknya bukan alang kepalang. Artinya ada ironi besar di sini. Semula dikatakan G-30-S adalah untuk melindungi dan menyelamatkan Presiden Sukarno dari percobaan kudeta yang dilancarkan oleh para jenderal sayap kanan. Itulah Prolognya. Namun epilognya yang kita sama-sama ketahui pula, G-30-S menandai awal berakhirnya masa kepresidenan Sukarno yang mulai berkuasa secara resmi pada 18 Agustus 1945. Sehari setelah bersama Mohammad Hatta, memproklamirkan Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945.

Bagaimana ceritanya kok yang semula dipandang sebagai aksi menyelamatkan dan melindungi Sukarno lantas tiba-tiba malah menjadi salah satu plot terpenting menuju tumbangnya kekuasaan Sukarno? Sebab seturut G-30-S, Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Mayor Jenderal Suharto, salah satu pimpinan angkatan darat yang tidak masuk daftar untuk diculik dan dibunuh, sejak 1 Oktober 1965 mengambil alih komando operasi struktur komando angkatan darat. Dan dengan kewenangan yang secara sepihak ia tetapkan sendiri, kemudian menetapkan bahwa G-30-S didalangi oleh aktor-aktor kunci dari PKI.

Di sinilah berbagai hipotesis dan teori bermunculan, terutama yang dari awal skeptis atau meragukan bahwa unsur-unsur PKI lah yang mendalangi G-30-S. Bahwa G-30-S kemudian digunakan oleh Suharto dan pimpinan angkatan darat sebagai dalih untuk merongrong legitimasi kekuasaan Sukarno, dengan memaksa Sukarno harus memilih antara melindungi PKI yang di benak Sukarno pastinya ia yakini bukan dalang utama, atau menuruti tekanan yang dilancarkan pihak tentara untuk membubarkan PKI.

Lapisan berikut dari teka-teki yang hingga kini masih gelap dan belum terang-benderang, wajah para konspirator G-30-S yang berhasil ditangkap sama sekali tidak memperlihatkan adanya keterkaitan antara politbiro PKI dan unsur-unsur angkatan darat yang bersimpati dan mendukung G-30-S. Apalagi mengungkap pengorganisasian di balik layar dan tujuan yang mendasarinya. Sehingga publik pada dekade 1960an hingga kini masih tetap meraba-raba jejaring 1965 macam apa yang saat itu sejatinya beroperasi, dan bagaimana metode kerjanya?

Kolonel Abdul Latief, memang merupakan satu-satunya pemimpin kunci G-30-S yang lolos dari regu tembak, bahkan akhirnya berhasil bebas dari tahanan. Namun hingga wafatnya, Latief menolak untuk menjelaskan G-30-S secara rinci. Dalam pidato pembelaannya di muka persidangan pada 1978, memang sempat mengejutkan publik ketika mengatakan bahwa Suharto Latief sudah memberitahu Suharto tentang adanya rencana gerakan itu sebelumnya.

Sayangnya, pernyataan Latief yang menyeret nama Suharto yang kala itu sudah berkuasa 11 tahun sebagai presiden menggantikan Sukarno, bukanya berfungsi untuk membuka tabir, malah semakin menutup tabir itu rapat-rapat. Sebab meski Latief sempat menyinggung kaitan Suharto dengan rencana G-30-S, namun Latief pada dasarnya tetap tidak bersedia menceritakan barang sedikitpun tentang  G-30-S itu sendiri.

Alhasil, dalang dan skenario gelaran G-30-S tersebut sampai sekarang masih berkabut. Kelihatan namun masih remang-remang. Namun bukan berarti tidak ada petunjuk sama sekali.

Skema dan Strategi Global Amerika

Mari kita mulai dengan mengurai dari Skema, Strategi dan Skenario lapangannya, meskipun masih pada taraf hipotetis atau atas dasar dugaan kita yang terbaik. Muasalnya harus dilacak dalam keterkaitan G-30-S dengan Amerika Serikat.

Dalam pandangan geopolitik Amerika berdasarkan beberapa laporan, analisis dan prognosis yang disampaikan Kementerian luar Negeri Amerika maupun CIA,  Indonesia dipandang sebagai kartu domino terbesar di Asia Tenggara. Sehingga lepasnya Indonesia dari pengaruh Amerika akan menjadi kehilangan besar, yang jauh lebih mahal daripada lepasnya Indocina (Vietnam, Kamboja dan Laos).

Lebih dari itu, selain berpenduduk terbesar kelima di dunia dan keluasan geografisnya sebagai kepulauan yang terbentang 3000 mil lebih dari timur ke barat, juga sumberdaya alamnya yang melimpah seperti minyak mentah, emas, timah dan nikel. Menariknya lagi, berdasarkan laporan dari sejarawan Gabriel Kolko, sejak 1950an , Amerika telah menyerahkan Indonesia di bawah pengaruh ekonomi Jepang; minyak, mineral, logam, termasuk emas, perak, dan bahan-bahan pangan. Dengan itu, Amerika berpendapat keamanan Jepang harus dijaga dalam menguasai aksesnya kepada sumberdaya alam Indonesia. Dan agar tetap berada di kubu Amerika.

Begitulah penilaian Gabriel Kolko berdasarkan pernyataan kebijakan Dewan Keamanan Nasional tahun 1952 yang berjudul, United States Objectives and Courses of Action with Respect to Southeast Asia.”  (Tujuan dan Arah Tindakan Amerika Serikat untuk Asia Tenggara).

Makanya sejak era kepresidenan Hary S. Truman, Dwight Eisenhower, Kennedy hingga Lindon B. Johson, Washington menganggap jatuhnya pemerintah Indonesia di bawah kekuasaan komunis, merupakan malapetaka besar. Bahkan menurut logika teori domino Amerika, negeri-negeri Indocina yang sebenarnya relatif tidak begitu straegis, tetap saja harus diamankan dari komunisme agar negeri-negeri yang lebih penting di Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia dapat tetap dipagari dari pengaruhnya.

Richard Nixon, wakil presiden era Presiden Eisenhower yang kelak menjadi presiden menggantikan Lindon B. Johson oleh karena terbunuhnya presiden petahana John F. Kennedy, dalam pidatonya pada 1965 pernah mengakui bahwa pemboman atas Vietnam Utara sebenarnya bertujuan untuk melindungi “potensi mineral yang luar bisa di Indonesia.”

Meskipun Nixon seperti juga para pemimpin Amerika menggembar-gemborkan adanya ancaman komunisme di kawasan Asia, namun sejatinya ancaman sesungguhnya bagi Washington bukan komunis,  melainkan para pemimpin yang berjiwa nasionalisme dengan pemikiran sosialisme yang kuat. Dengan itu, menggulirkan ancaman komunisme, hanya sebagai dalih untuk menyerang dan mengintimidasi para pemimpin nasionalis di Asia yang dipandang mandiri dan menolak diatur-atur negara besar. Dengan kata lain, para pemimpin Asia yang berhaluan nasionalisme kerakyatan dan menolak skema Neokolonialisme Amerika itulah, musuh Washington sesungguhnya. Bukan komunisme.

Jadi, bagaimana suasana psikologis para petinggi Amerika menjelang meletusnya G-30-S 1965? Beberapa memorandum dan prognosis para aktor kunci di kementerian luar negeri Amerika tergambarn jelas melalui pandangan Wakil Menteri Luar Negeri George Ball pada Agustusn 1965. George Ball merasa perlu mengingatkan bahwa Indonesia paling tidak sama pentingnya dengan seluruh Indocina. Sehingga pengambil-alihan kekuasaan oleh sayap kiri di Indonesia diyakini sudah semakin dekat. Bahkan William Bundy, yang hadir dalam pertemuan kelompok kecil yang dipimpin George Ball, menyuarakan keyakinan kelompok kecil di kementerian luar negeri Amerika itu, bahwa pengambil-alihan  kekuasaan seperti itu akan meninbullan “efek menjepit sangat kuat bagi negeri-negeri non-komunis di Asia Tenggara.”

Menariknya, pada 1967, jadi setelah G-30-S berlalu dengan konsekwensi strategisnya yang begitu merusak seturut hancurnya legitimasi kekuasaan Sukarno, Robert McNamara, menteri pertahanan Amerika dalam era Kennedy dan Johnson,  dalam salah satu memorandumnya mengatakan bahwa Amerika seharusnya mengurangi keterlibatannya di Indocina setelah pembasmian kaum komunis di Indonesia oleh Suharto. Rupanya dalam pandangan geopolitik McNamara, begitu domino besar di Asia Tenggara sudah aman di tangan tentara Indonesia, para pembuat kebijakan Amerika harusnya menyadari bahwa Vietnam sebenarnya tidak sepenting seperti Indonesia. Menurut McNamara, kekalahan permanen PKI di Indonesia, atau mungkin yang dibenak McNamara adalah lumpuhnya kekuasaan Sukarno seja 1966-1967, Amerika sudah saatnya mengurangi pertaruhan riilnya di Vietnam Utara secara substansial.

Mengurai Seluk-Beluk dan Anatomi Operasi G-30-S

Ada banyak keganjilan ketika kita memeriksa kembali para aktor yang secara kasat mata tampil sebagai para konspirator G-30-S. Salah satu keganjilan pertama, munculnya Brigadir Jenderal Supardjo, yang dalam siaran radio pagi hari 1 Oktober 1965, diwartakan sebagai salah satu dari wakil komandan gerakan yang berada di bawah komando Letnan Kolonel Untung. Betapa tidak, ia seorang berpangkat jenderal bintang satu namun dalam rencana operasi, berada di bawah pimpinan seorang Letnan Kolonel.

Keganjilan kedua, sebagai satuan tugas operasi penculikan dan pembunuhan para pucuk pimpinan Angkatan Darat, sedari awal operasi itu sudah rumit dari awalnya, baik sebagai simpul pergerakan maupun prosesnya yang berliku-liku dan tidak praktis. Apalagi di kalangan para aktor penggeraknya baik di tataran poros pusat komando maupun lapangan, punya motivasi dan pengharapan yang berbeda-beda. Parahnya lagi, dengan tingkat pengetahuan mengenai rencana aksi yang berbeda-beda pula.

Dalam mempelajari kegagalan G-30-S yang sepertinya memang dirancang untuk gagal alih-alih berhasil, John Rossa maupun Coen Holtzappel, punya pandangan yang sama. Coen Holtzappel dalam sebuah artikelnya bertajuk, Gerakan 30 September: Suatu Gerakan Politik Angkatan Bersenjata atau Operasi Intelijen?, melihat keganjilan yang paling mencolok ketika tokoh sentral PKI sekaliber DN Aidit harus mengandalkan seseorang dari Biro Khusus seperti Sjam Kamaruzaman, untuk menjalin kontak strategis dengan pihak angkatan darat.

Mengapa dua pentolan angkatan darat yang belakangan dianggap merupakan representasi dari keterlibatan angkatan darat dalam G-30-S seperti Letkol Untung dan Kolonel Latief tidak mendesak untuk menemui langsung Aidit tanpa harus diperantarai oleh Sjam? Hotzappel punya teori, Untung pada akhirnya menahan diri untuk mendesak bertemu langsung Aidit, karena merasa lebih bijaksana untuk tidak terlalu konfrontatif terhadap Sjam meskipun secara instingtif Untung tidak mempercayai Sjam. Lagipula, ada tujuan yang menurut Untung lebih strategis untuk tetap menjaga hubungan baik dengan Sjam. Sjam adalah satu-satunya tali penghubung gerakan angkatan darat Untung dengan pihak angkatan udara yang bermarkas di Halim Perdana Kusuma.

Menurut Hotzappel pula, sebenarnya tidak ada bukti yang konkret serta berdiri sendiri bahwa pernah ada pertemuan rahasia antara Aidit dan Sjam terkait politbiro PKI. Semua informasi dan fakta terkait adanya pertemuan rahasia Aidit-Sjam, hanya Sjam sendiri yang melaporkan selama persidangan yang diadakan oleh Mahkaman Militer Pasca G-30-S.

Hanya lewat klaim Sjam itu pula, kemudian terjalin cerita bahwa dirinya merupakan pembantu pribadi Aidit dalam soal-soal “intelijen” sekaligus sebagai kepala biro untuk operasi-operasi politik rahasia. Maka sangatlah wajar ketika pada perkembangannya kemudian Komite Sentral PKI sama sekali tidak tahu menahu tentang kegiatan Sjam.

Sayangnya, Aidit sendiri sudah tidak bisa lagi membela diri dan mengetengahkan cerita versinya sendiri karena saat Sjam bertindak sebagai saksi yang memberatkan Aidit dan PKI, Aidit sendiri sudah mati terbunuh saat tertangkap tentara di Jawa Tengah.

Keganjilan kedua, tidak ada bukti konkret yang secara langsung menunjukkan adanya hubungan rahasia antara Aidit dan para aktor kunci G-30-S. Keganjilan ini semakin diperkuat dengan gagalnya Untung secara langsung bertemu dengan Aidit. Sehingga Sjam lah yang mengisi kevakuman dari tidak adanya koneksi langsung antara Untung sebagai representasi angkatan darat dengan Aidit sebagai representasi PKI. Dalam kondisi seperti itu, Sjam dengan leluasa memainkan peran sebagai pengatur irama dan ritme permainan dari G-30-S sesuai skenario gerakan menurut misi operasinya sendiri.

Inilah peran terselubung dari Sjam dan Mayor Udara Sujono yang resminya mewakili misi operasi angkatan udara. Jadi ini mata-rantai yang hilang yang kala itu tidak diperhitungkan dampaknya dalam menggagalkan skenario operasi yang dalam misi utama Untung adalah menetralisasi Dewan Jenderal yang menurut informasi sedang menyusun rencana kudeta terhadap Presiden Sukarno. Untung memasuki pusaran dan kancah, sebagai representasi para perwira yang setia kepada Sukarno.

Namun kenyataan lapangan berbicara lain. Sjam dan Mayor Sujono lah yang memegang peran penting dalam menjalankan skema G-30-S. Apalagi kemudian terungkap fakta bahwa yang memperkenalkan para perwira angkatan darat kepada Sjam dan Bono adalah Mayor Sujono. Jadi ketika kali pertama Untung dipertemukan dengan Sjam pada 14 Agustus 1965, ia mendapat kesan Sjam dan Sujono sudah saling kenal baik. Kesan Untung rasanya cukup beralasan, sebab dalam pemeriksaan di persidangan Mahkamah Militer, banyak saksi mata yang ada di Halim menganggap Sjam adalah perwira angkatan udara. Sehingga beralasan jika muncul dugaan Sjam dari awal memang merupakan perwira intelijen angkatan udara.

Jadi ketika Sjam dan Bono diperkenalkan dengan unsur-unsur angkatan darat sebagai wakil dari Aidit dan Politbiro PKI, sejatinya Sjam dan Bono bagian integral dari para konspirator angkatan udara yang berada di bawah komando Mayor Udara Sujono. Maka ketika di sidang pengadilan Sujono bilang bahwa semula Sjam dikira perwira tetapi akhirnya diketahui kalau ia komunis, hal itu malah mengindikasikan bahwa Sjam memang memainkan peran kedua-duanya. Ya perwira militer, sekaligus jadi komunis sebagai kamuflase untuk membangun kesan ia mewakili Aidit.

Dari rangkaian penelitian dan riset terkait seluk-belum operasi G-30-S, Coen Holtzappel berani membuat hipotesis bahwa Sjam dan Bono sejatinya merupakan perwira angkatan udara. Tidak mengherankan kalau Sujono-Bono yang ditengarai mewakili operasi G-30-S malah merumuskan 4 bidang kegiatan berbeda-beda yang malah memberi kesan suatu operasi kontra intelijen alih-alih menjalankan misi G-30-S: (1) Indoktrinasi kepada para sukarelawan pendukuung gerakan: (2) Pendidikan Para Perwira Angkatan Darat yang tergabung dalam gerakan: (3) Membujuk para pemimpin komunis yang terlibat dalam program latihan angkatan udara untuk mendukung tujuan resmi gerakan: (4) Menghubungkan keterangan palsu dan tentang Gerakan kepada masyarakat umum.

Sulit disangkal bahwa ketiga jenis kegiatan terakhir dengan jelas menyalahi pekerjaan indoktrinasi yang normal. Holtzappel menilai, kegiatan tersebut lebih banyak menunjukkan arah pekerjaan para ahli cabang Operasi Khusus suatu Dinas Intel yang menghususkan diri dalam hal operasi-operasi kontra intelijen.

Meskipun belum terlalu yakin, namun pengamatan Holtzappel mengindikasikan bahwa intelijen angkatan udara memang secara khusus ditugaskan untuk menjalankan operasi-operasi kontra intelijen. Apalagi Letkol Heru Atmojo, wakil direktur cabang khusus itu secara aktif bertindak sebagai anggota Presidium Gerakan, bekerja sama dengan Brigadir Jenderal Supardjo sebagai representasi angkatan darat yang terlibat dalam gerakan.

Ketika G-30-S mengalami komplikasi di lapangan pada aksi 30 September dini hari, Heru Atmojo-Sjam-Bono sebagai unsur penting gerakan dari unsur angkatan udara, berhasil menciptakan sabotase dalam tubuh satuan tugas penculikan, dengan membunuh para jenderal yang masuk daftar sasaran. Sehingga dari awal trio Heru Atmojo-Sjam-Bono berhasil memburukkan citra operasi untung maupun seluruh misi G-30-S, bahkan pada akhirnya nama baik Presiden Sukarno pun juga diburukkan.

Oleh sebab kesimpangsiuran rantai komando gerakan, dan adanya tumpang-tindih perintah di lapangan, misi Letkol Untung yang sejatinya untuk mengamankan dan melindungi Presiden Sukarno terhadap upaya percobaan kudeta yang dilancarkan Dewan Jenderal, pada perkembangannya Letkol untung gagal memastikan perintah-perintahnya dilaksanakan sesuai misi operasinya.

Sebab kendali komando operasi berada di tangan Heru Atmojo dan Kolonel Latief. Dan dalam formasi seperti itu, yang mengendalikan lapangan adalah Kapten Suradi dari Dinas Intel Brigade Latief. Jadi secara konspiratif, komando Untung berhasil dilumpuhkan oleh kerja sama Heru Atmojo-Kolonel Latief, sehingga kendali komando Untung ke pasukan lapangan untuk mengamankan misinya, berhasil dicegat oleh Atmojo-Latief melalui Kapten Suradi.

Pembalikan skenario lapangan yang semula untuk melumpuhkan para jenderal kontra Sukarno yang didukung dari belakang layar oleh badan intelijen Amerika CIA, menjadi gerakan putsch atau makar yang kemudian dikambinghitamkan kepada PKI dan para perwira loyalis Sukarno seperti Letkol Untung.

Mata Rantai Hilang dari G-30S

Salah satu keganjilan lain lagi yang perlu dicermati, ketidakmampuan G-30-S menempatkan Presiden Sukarno di bawah perlindungannya. Hal ini terasa aneh mengingat fakta bahwa Letkol Untung bertindak sebagai komandan G-30-S. Untung lah yang harusnya tahu dimana keberadaan Presiden Sukarno, karena Untung yang memimpin satu batalyon pengawal istana. Mengapa Untung dalam kapasitasnya yang begitu strategis tidak bisa melacak keberadaan Sukarno dengan cukup menghubungi perwira-perwira lain dalam pasukan kawal istana.

John Rossa melihat ini sebagai keganjilan yang hingga kini luput dari perhatian. Seharusnya selain Kolonel Maulwi Saelan, wakil komandan Cakrabirawa dan Letkol Untung sebagai komandan batalyon kawal istana, dengan mudah bisa saling berkomunikasi. Tapi keganjilan itu justru nampak ketika Maulwi Saelan mendesak Sukarno agar tidak menuju Istana pada pagi hari itu, melainkan menuju rumah salah satu isterinya, Haryati, lantaran muncul informasi adanya pasukan tak dikenal di istana presiden. Padahal, sudah merupakan tugas pokok Untung sebagai komandan G-30-S untuk mengetahui lokasi keberadaan presiden, bahkan merupakan unsur yang paling penting dalam seluruh rencana.

Dari kajian beberapa sejarawan maupun ilmuwan politik asing, terlepas yang pro G-30-S maupun yang kontra Sukarno dan tentara dalam memandang kejadian 30 September-1 Oktober 1965, dalam satu hal mereka sepakat. Bahwa gagalnya pasukan Brigjen Supardjo yang ke istana menemui Sukarno pada pagi hari 1 Oktober 1965, lantaran tidak bermalam di istana, merupakan titik balik yang merusak fondasi G-30-S. Herannya lagi, baik Brigjen Supardjo maupun Letkol Untung, sama-sama tidak tahu ihwal keberadaan Sukarno yang sejak malam harinya ada di kediaman salah satu isterinya, Dewi Sukarno.

Begitupun, meski atas saran dan desakan dari Maulwi Saelan, Sukarno untuk sementara ke rumah salah satu isterinya yang lain lagi, Haryati, namun pada jam 9 atas kehendak Sukarno sendiri, berangkat ke Halim Perdana Kusuma. Nah saat berada di Halim itulah, Sukarno memandang wajah G-30-S pada 1 Oktober 1965 adalah Brigjen Supardjo. Sehingga Sukarno percaya bahwa apa yang diberitakan RRI tersebut adalah benar adanya. Suatu gerakan murni intern angkatan darat yang dirancang untuk membersihkan para perwira sayap kanan kontra Sukarno. Adapun keganjilan atas keterlibatan Brigjen Supardjo yang jenderal bintang satu tapi di bawah komando Letkol Untung, juga sempat mengundang pertanyaan kritis Sukarno kepada Supardjo. Namun seperti kesaksian Untung di pengadilan kemudian, atas pertanyaan Sukarno itu, Supardjo hanya memberi jawaban mengambanga: “Dialah yang kita anggap pantas.”

Lewat sekelumit cerita tadi, pertemuan Supardjo dan Untung dengan Presiden Sukarno di Halim, terkesan Sukarno beranggapan bahwa komando G-30-S sepenuhnya berada dalam komando Supardjo dan Untung. Padahal seperti dalam paparan saya sebelumnya, mata rantai komando lapangan sama sekali tidak berada dalam kendali Letkol Untung, melainkan lewat komando trio angkatan udara Heru Atmojo-Sjam-Bono yang terkoneksi dengan jalur pasukan lapangan lewat Kolonel Latief dan Kapten Suradi.

Nah, pertanyaan krusialnya, siapa yang sesungguhnya bermain di belakang komando dua jalur Heru Atmojo-Sjam-Bono dan Kolonel Latief-Kapten Suradi? Dalam bukunya, John Rossa memang hanya mengisyaratkan kemungkinan adanya aktor-aktor lain yang sebenarnya ikut memainkan perang strategis namun tersembunyi rapat di balik layar. Namun Coen Holtzappel dalam artikelnya yang saya sebut tadi, malah lebih berani mempertimbangkan kemungkinan peran orang dekat Nasution dan pernah jadi asisten intelijen Jenderal Nasution pada saat masih menjabat Kepala Staf Angkatan Darat, yaitu Mayor Jenderal Achmad Sukendro. Menurut Holtzappel, Sukendro lah tiada lain orang yang paling cakap dalam menghubungkan beragam jejaring di dalam tubuh militer. Yang masih jadi teka-teki, andaikan teori Holtzappel benar bahwa ia ikut bermain, apa misi yang ia bawa dalam operasi kontra intelijen menggagalkan G-30-S?

Sebab andai benar teori Holtzappel, reputasi intelijen Sukendro memang cukup fantastik dan patut diperhitungkan. Melalui operasi kontra intelijen Sukendro lah, usaha Kolonel Zulkifli Lubis untuk melumpuhkan Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat pada 1956, berhasil digagalkan oleh Sukendro. Pasukan-pasukan yang dimobilisi oleh Zulkifli Lubis dari Cirebon, dan beberapa kota di Jawa Barat, termasuk pasukan khusus RPKAD (sekarang Kopassus), berhasil digagalkan untuk masuk Jakarta.

Fakta bahwa Sukendro merupakan orang dekat Nasution namun tidak bisa dibilang punya hubungan akrab dengan Suharto yang kala itu adalah Panglima Kostrad, rasanya ada bagian yang hilang dalam mata rantai ini. Apakah operasi kontra intelijen mendorong G-30-S sebagai dalih untuk menghancurkan PKI? Masuk akal. Namun ketika tujuan selanjutnya adalah untuk melengserkan Presiden Sukarno dari tampuk kekuasaan? Sepertinya ada yang tidak pas. Namun uniknya, dalam sebuah operasi intelijen, tidak selalu masuk akal dan logis. Bahkan seringkali menerapkan Logika Terbalik. Yang jelas, berdasarkan beberapa classified documents CIA yang biasanya setelah 30 tahun dirilis ke publik, setidaknya nama Sukendro muncul sebanyak 76 kali di pelbagai dokumen CIA tersebut. Bahkan ketika sempat didakwa terlibat praktek korupsi, Sukendro dikirim ke Amerika untuk belajar di Universitas Princeton. Namun apakah ini menjelaskan hipotesis Holtzappel bahwa ia diduga ikut bermain menyabotase G-30-S? Ini juga lapisan demi lapisan teka-teki yang masih membuka berbagai temuan baru.

Bersambung ke Bagian 2

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SelanjutnyaStrategi Indo-Pasifik Amerika Serikat, Apa Agenda Strategis Australia?

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Strategi Indo-Pasifik Amerika Serikat, Apa Agenda Strategis Australia?
Analisis

Strategi Indo-PasifikIndo-Pasifik Amerika Serikat, Apa Agenda Strategis Australia?

11 September 2026 · 6 menit baca

Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Terpopuler

  1. 01Membaca Ulang G30 September 1965 Melalui Angle John Rossa dan Coen Holtzappel (Bagian-1)
  2. 02Kepercayaan Publik Terhadap Media Indonesia Turun
  3. 03Kolonialisme, Kapitalisme dan Rasisme
  4. 04Di Bawah Asuhan Gontor
  5. 05G30S/CIA!?

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents