Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sosial

Nationaltag dan Bahasa JermanJerman Modern

Rusman

Rusman·25 Oktober 2026·2 menit baca

Bagikan
Nationaltag dan Bahasa Jerman Modern

Penulis: Pipit Apriani, Guru Bahasa Jerman SMA Kolese Kanisius, Associate Researcher GFI, dan alumni Pasca Sarjana Ilmu Politik UI

Indonesia dan Jerman ternyata memiliki kesamaan dalam pemerolehan kesadaran berbangsa melalui satu bahasa sebagai bahasa nasionalnya. Dua-duanya didapatkan karena berada di bawah pemerintahan negara asing. Kesadaran berbahasa Indonesia didapatkan karena kegelisahan para pemuda dari berbagai daerah yang kemudian berkumpul di Kongres Pemuda di masa kolonialisme Belanda tahun 1926 dan 1928 yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda. Kesadaran bangsa Jerman untuk memiliki bahasa nasional muncul di masa invasi dan peperangan yang dilakukan oleh Napoleon dan sebagian kecil Jerman berada di bawah kekuasaan Denmark sekitar abad 18.

Jerman sebagai sebuah negara yang kita kenal sekarang, bukanlah sebuah negara yang sejak awal adalah sebuah negara kesatuan, melainkan kumpulan dari ratusan negara kecil merdeka dengan bahasa yang sama di wilayah yang berdekatan. Bangsa Jerman saat itu terdiri dari Königreich (Kerajaan), Groβherzogtümern (Grand Duchy, adipati),  Kurfürstentum (electorates), Fürstentümern (kepangeranan), Freie Städten (imperial cities), Landgrafen (landgraviates, gelar dari Kekaisaran Romawi Suci), Markgrafschaft (margraviates, wilayah gubernur militer), Bistümer (bishoprics, wilayah keuskupan) –  yang merupakan warisan dari Kekaisaran Romawi. Setelah bubarnya Kekaisaran Romawi, pendudukan Napoleon, rekonfigurasi wilayah Jerman dan reorganisasi politik di Eropa pada Kongres Wina 1815 menghasilkan konfederasi negara-negara Jerman, Der Deutscher Bund.

Pendudukan bangsa asing membentuk kesadaran baru sebagai sebuah bangsa. Sebagai akibat dari perang Napoleon, bahasa Jerman menjadi simbol dari kesatuan politik yang dinanti-nantikan dan ini diinisiasi oleh tujuh orang termasuk Brother Grimm yang kita kenal dengan kumpulan dongengnya. Padahal Jakob Grimm sebenarnya adalah profesor dan pustakawan di Universitas Göttingen dan kemudian Universitas Berlin. Sedangkan   Wilhelm Grimm adalah ahli bahasa, penulis dan ahli antropologi. Pencatatan dan pengumpulan dongeng-dongeng lisan dari penutur bahasa Jerman dari berbagai dialek dan mengumpulkan kosakata yang menjadi kamus Deutsches Wörterbuch, juga buku aturan tata bahasa Deutsche Grammatik merupakan bagian dari kegiatan akademik mereka.

Germanistik atau ilmu bahasa Jerman adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan yang meneliti berbagai bentuk kemunculan bahasa Jerman yang umumnya bahasa lisan. Yang diteliti tidak saja perkembangan sejarah, juga kaitannya dengan  manifestasi, ekspresi yang berbeda dan hubungan fungsi setiap sistem bahasa. Bahasa Jerman yang dipelajari di seluruh dunia termasuk sekolah-sekolah di Indonesia adalah Hochdeutsch, Bahasa Jerman standar dan resmi yang digunakan dalam surat menyurat kantor, sekolah dan berita dan dipahami oleh penutur bahasa Jerman di wilayah berbahasa Jerman. Negara-negara berbahasa Jerman saat ini adalah Jerman, Austria dan Swiss, serta di beberapa daerah di negara-negara sekitarnya.

Negara Republik Federal Jerman baru saja merayakan Nationaltag atau Hari Nasional  tanggal 3 Oktober yang lalu. Awalnya disebut Wiedervereinigungstag, hari penyatuan dua negara Jerman yang terbelah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur akibat Perang Dunia 2 pada tahun 1990. Pemilihan kata Nationaltag memiliki makna yang lebih mendalam daripada Wiedervereinigungstag. Nationaltag bukan hanya sekedar Hari Nasional, tapi juga sekaligus memperingati nasionalisme atau kesadaran berbangsa yang baru, yang dilaksanakan dengan sangat hati-hati.

Selamat Hari Nasional, rakyat Republik Federal Jerman.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, rakyat Republik Indonesia.

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SelanjutnyaDi Bawah Asuhan Gontor

Lainnya di Sosial

Lihat semua
Di Bawah Asuhan Gontor
Sosial

Di Bawah Asuhan GontorGontor

24 September 2026 · 6 menit baca

G30S/CIA!?
Sosial

G30SG30S/CIA!?

21 September 2026 · 2 menit baca

Empat Hari di Tepian Jambi
Ekonomi & Bisnis

Empat Hari di Tepian JambiTepian Jambi

21 September 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Nationaltag dan Bahasa Jerman Modern
  2. 02Meneropong Ragam Operasi Militer Gaya Baru Melalui Kiprah Korporasi Militer Swasta
  3. 03Mantan Perwira Intelijen MI5 Kaitkan Kematian Putri dengan Isu Palestina
  4. 04380 Juta Yen untuk “Ianfu”: Ketika Penyelesaian Negara Tidak Sampai kepada Penyintas
  5. 05Membaca Masa Depan Ekonomi Indonesia Sesudah 10 Tahun di Bawah Jokowi

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents