Nationaltag dan Bahasa Jerman Modern


Penulis: Pipit Apriani, Guru Bahasa Jerman SMA Kolese Kanisius, Associate Researcher GFI, dan alumni Pasca Sarjana Ilmu Politik UI
Indonesia dan Jerman ternyata memiliki kesamaan dalam pemerolehan kesadaran berbangsa melalui satu bahasa sebagai bahasa nasionalnya. Dua-duanya didapatkan karena berada di bawah pemerintahan negara asing. Kesadaran berbahasa Indonesia didapatkan karena kegelisahan para pemuda dari berbagai daerah yang kemudian berkumpul di Kongres Pemuda di masa kolonialisme Belanda tahun 1926 dan 1928 yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda. Kesadaran bangsa Jerman untuk memiliki bahasa nasional muncul di masa invasi dan peperangan yang dilakukan oleh Napoleon dan sebagian kecil Jerman berada di bawah kekuasaan Denmark sekitar abad 18.
Jerman sebagai sebuah negara yang kita kenal sekarang, bukanlah sebuah negara yang sejak awal adalah sebuah negara kesatuan, melainkan kumpulan dari ratusan negara kecil merdeka dengan bahasa yang sama di wilayah yang berdekatan. Bangsa Jerman saat itu terdiri dari Königreich (Kerajaan), Groβherzogtümern (Grand Duchy, adipati), Kurfürstentum (electorates), Fürstentümern (kepangeranan), Freie Städten (imperial cities), Landgrafen (landgraviates, gelar dari Kekaisaran Romawi Suci), Markgrafschaft (margraviates, wilayah gubernur militer), Bistümer (bishoprics, wilayah keuskupan) – yang merupakan warisan dari Kekaisaran Romawi. Setelah bubarnya Kekaisaran Romawi, pendudukan Napoleon, rekonfigurasi wilayah Jerman dan reorganisasi politik di Eropa pada Kongres Wina 1815 menghasilkan konfederasi negara-negara Jerman, Der Deutscher Bund.
Pendudukan bangsa asing membentuk kesadaran baru sebagai sebuah bangsa. Sebagai akibat dari perang Napoleon, bahasa Jerman menjadi simbol dari kesatuan politik yang dinanti-nantikan dan ini diinisiasi oleh tujuh orang termasuk Brother Grimm yang kita kenal dengan kumpulan dongengnya. Padahal Jakob Grimm sebenarnya adalah profesor dan pustakawan di Universitas Göttingen dan kemudian Universitas Berlin. Sedangkan Wilhelm Grimm adalah ahli bahasa, penulis dan ahli antropologi. Pencatatan dan pengumpulan dongeng-dongeng lisan dari penutur bahasa Jerman dari berbagai dialek dan mengumpulkan kosakata yang menjadi kamus Deutsches Wörterbuch, juga buku aturan tata bahasa Deutsche Grammatik merupakan bagian dari kegiatan akademik mereka.
Germanistik atau ilmu bahasa Jerman adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan yang meneliti berbagai bentuk kemunculan bahasa Jerman yang umumnya bahasa lisan. Yang diteliti tidak saja perkembangan sejarah, juga kaitannya dengan manifestasi, ekspresi yang berbeda dan hubungan fungsi setiap sistem bahasa. Bahasa Jerman yang dipelajari di seluruh dunia termasuk sekolah-sekolah di Indonesia adalah Hochdeutsch, Bahasa Jerman standar dan resmi yang digunakan dalam surat menyurat kantor, sekolah dan berita dan dipahami oleh penutur bahasa Jerman di wilayah berbahasa Jerman. Negara-negara berbahasa Jerman saat ini adalah Jerman, Austria dan Swiss, serta di beberapa daerah di negara-negara sekitarnya.
Negara Republik Federal Jerman baru saja merayakan Nationaltag atau Hari Nasional tanggal 3 Oktober yang lalu. Awalnya disebut Wiedervereinigungstag, hari penyatuan dua negara Jerman yang terbelah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur akibat Perang Dunia 2 pada tahun 1990. Pemilihan kata Nationaltag memiliki makna yang lebih mendalam daripada Wiedervereinigungstag. Nationaltag bukan hanya sekedar Hari Nasional, tapi juga sekaligus memperingati nasionalisme atau kesadaran berbangsa yang baru, yang dilaksanakan dengan sangat hati-hati.
Selamat Hari Nasional, rakyat Republik Federal Jerman.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, rakyat Republik Indonesia.

Rusman
Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.


