Kolonialisme, Kapitalisme dan Rasisme


Judul Buku: Kolonialisme, Kapitalisme dan Rasisme
Penerbit: Jakarta, Pustaka Obor, 2024
Tebal Halaman: 323 halaman
Namanya Jan Breman, seorang antropolog Belanda yang sejak tahun 1960-an bolak-balik ke Jawa untuk meneliti kehidupan orang-orang yang paling jarang masuk buku sejarah: buruh perkebunan, kuli, tukang becak, pekerja harian, dan semua orang kecil yang memikul ekonomi dengan punggung mereka.
Ia bukan turis akademik yang datang sebulan lalu pulang menulis teori. Ia tinggal lama, belajar bahasa, mengikuti kampung demi kampung, dan pulang ke Belanda membawa sesuatu yang tidak nyaman: kesimpulan bahwa negaranya sendiri belum pernah benar-benar diadili atas apa yang mereka tinggalkan di negeri jajahannya.
Tahun 2024, Pustaka Obor menerbitkan karyanya dalam 323 halaman, dengan kata pengantar yang ditulis oleh Bonnie Triyana. Di dalamnya ada sebelas esai yang disusun seperti kronik, bukan dongeng kemerdekaan, melainkan catatan panjang tentang apa yang terjadi sesudah kemerdekaan. Judulnya sudah merangkum semuanya: kolonialisme, kapitalisme, dan rasisme.
Tiga kata yang menurut Breman tidak boleh dibaca terpisah, karena ternyata saling menguatkan dan saling mewarisi sampai hari ini. Dan pesan utamanya sederhana, tetapi menyakitkan: merdeka secara politik tidak otomatis berarti bebas dari cara berpikir dan cara menindas yang ditinggalkan penjajah.
Karena itu ia menggunakan kata pascakolonial dengan sengaja. Maksudnya, kolonialisme tidak berakhir saat bendera Belanda diturunkan. Ia berubah wujud, pindah ke sistem ekonomi yang baru, ke kebiasaan berpikir yang lama, ke cara pandang yang membuat ketidakadilan terasa normal.
Pola yang sama yang dulu membuat kuli perkebunan diperas tanpa ampun, hari ini bisa berulang dalam bentuk pekerja informal yang lelah sepanjang hari tanpa jaminan apa-apa. Yang berubah hanyalah pakaiannya, bukan logikanya.
Rasisme, menurut Breman, juga tidak selalu berwujud penghinaan atau larangan masuk. Sering kali ia jauh lebih halus dan justru lebih berbahaya: ia berwujud rasa normal. Rasa normal bahwa ada orang yang memang pantas lelah, pantas miskin, pantas berada di bawah, dan pantas tidak pernah ditanya pendapatnya.
Cara pandang seperti ini tidak dibawa pulang Belanda, ia ditinggalkan di sini, diwariskan lewat sistem pendidikan, lewat hierarki pekerjaan, lewat cara orang memandang orang lain. Dan yang paling sulit diakui: kadang yang merawatnya justru kita sendiri, tanpa sadar.
Maka tidak heran kalau buku ini terasa berat dibaca oleh dua pihak sekaligus. Bagi orang Belanda, ia seperti cermin yang menolak berdusta tentang sejarah negaranya. Bagi orang Indonesia, ia seperti seseorang yang menunjukkan bahwa penjajah sudah lama pergi, tetapi cara kerjanya ada yang masih kita pelihara.
Di sinilah letak keberanian Breman yang sesungguhnya: ia tidak menulis untuk menyenangkan siapapun. Ia menulis karena puluhan tahun meneliti orang-orang kecil membuatnya tidak bisa lagi pura-pura tidak melihat.
Ada satu pelajaran yang paling sunyi dari semua ini, dan mungkin justru itu yang paling perlu kita bawa pulang. Kebenaran tidak selalu datang dari arah yang kita harapkan. Kadang ia datang dari mulut orang asing yang mengenal kampung kita lebih jauh daripada kita mengenalnya sendiri.
Dan hal yang membuat kita tidak nyaman belum tentu salah, ia bisa jadi justru adalah hal yang selama ini kita hindari untuk dilihat. Kritik yang jujur, dari manapun ia datang, adalah tanda bahwa sesuatu masih bisa diperbaiki. Diamnya justru tanda bahwa kita sudah menyerah.
Maka satu pertanyaan untuk kamu yang membaca sampai sini: setelah hampir delapan puluh tahun merdeka, apakah kita sudah cukup berani bertanya apakah kita benar-benar bebas, atau kita sudah terlalu nyaman dengan jawaban lama. Tulis satu kalimat di komentar tentang apa yang kamu pikirkan, aku ingin membacanya satu per satu, pelan-pelan.
Dan kalau kamu mau merasakan sendiri beratnya cermin ini, bacalah Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme: Kronik Pascakolonial karya Jan Breman. Kamu tidak harus setuju dengan semuanya, justru bagus kalau kamu menentangnya dengan bacaan yang juga serius.
Simpan dulu, kirim ke orang yang menurutmu siap diganggu pikirannya malam ini, lalu biarkan pertanyaan itu bekerja dalam diam.
Diolah kembali oleh Tim Riset Global Future Institute dari berbagai sumber.

Rusman
Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.


