G30S/CIA!?


Lagi-lagi kita dihadapkan pada bulan September. Bulan yang buat sebagian orang itu romantis karena hujan mulai turun, tapi buat sejarah bangsa ini, September itu selalu punya aroma yang beda. Aroma amis, rasa cemas, dan tumpukan narasi yang sengaja dibikin gelap berpuluh-puluh tahun.
Kalian pasti ingat, dari kecil kita disuapi satu cerita tunggal. Cerita yang begitu rapi, begitu hitam-putih, mirip sinetron primetime. Ada yang jahat banget, ada yang jadi pahlawan penumpas. Tapi ya, kalau mau jujur dan mau sedikit saja membuka mata, sejarah itu gak pernah sesederhana cerita dongeng sebelum tidur.
Dunia tahun 1965 itu bukan cuma Jakarta, Guys. Dunia waktu itu lagi panas-panasnya Perang Dingin. Blok Barat dan Blok Timur lagi main catur di papan global. Dan tebak siapa yang jadi papan caturnya? Ya, negeri kita tercinta ini. Indonesia.
Bung Karno waktu itu lagi galak-galaknya. Beliau bilang “Go to hell with your aid!” ke Amerika. Beliau membentuk poros Jakarta-Peking. Bagi Washington, ini alarm bahaya level tertinggi. Asia Tenggara tidak boleh jatuh ke tangan komunis. Dan bagi CIA, membiarkan Sukarno tetap berdiri dengan gaya politiknya yang berapi-api itu adalah ancaman buat pengaruh mereka di kawasan ini.
Lalu meletuslah peristiwa malam itu.
Pertanyaannya sederhana: Apakah PKI yang merancang semuanya dari A sampai Z? Atau mereka diprovokasi CIA?
Dokumen-dokumen rahasia yang dibuka puluhan tahun kemudian menunjukkan satu hal jelas: Amerika tidak tinggal diam. Mereka punya kepentingan, mereka punya jaringan, dan mereka punya list nama. Ketika konflik internal di tubuh tentara dan perselisihan antar faksi politik memuncak, spion-spion itu tinggal memainkan pion-pionnya.

Tapi anehnya, berpuluh-puluh tahun kita cuma disuruh fokus pada satu narasi lokal, seolah-olah dunia luar itu cuma penonton yang bertepuk tangan di tribun. Kita dibikin lupa bahwa di balik tragedi berdarah yang mengorbankan ratusan ribu anak bangsa, ada dalang-dalang berjas rapi yang duduk nyaman di Washington sambil minum kopi, tersenyum puas melihat peta geopolitik Asia Tenggara akhirnya berubah sesuai skenario mereka.
Kita ini bangsa besar, tapi sering kali terlalu lugu. Mau saja diadu domba oleh agenda orang lain, lalu setelahnya kita saling bantai, dan generasi berikutnya disuruh menanggung beban traumanya.
Jadi, kalau sekarang kita bicara soal G30S, jangan cuma berhenti di narasi lama yang penuh propaganda. Lihat gambaran besarnya. Lihat bagaimana sebuah negeri kaya bernama Indonesia dikocok ulang oleh kepentingan global.
Sejarah itu bukan untuk dendam, tapi untuk pelajaran. Supaya apa? Supaya di masa depan, kita tidak lagi jadi bidak yang dengan mudah digerakkan oleh panggung luar.
Penasaran kan? Ya digali lagi sejarahnya, jangan cuma nelen mentah-mentah apa yang sudah disuapin dari dulu.
Kali ini seruput es kopi dulu, Guys. Biar kepala tetap dingin di tengah sejarah yang panas.
DRSM | Democracy Religion Society Market

Rusman
Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.


