Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Ekonomi & Bisnis

Empat Hari di Tepian JambiTepian Jambi

Rusman

Rusman·21 September 2026·2 menit baca

Bagikan
Empat Hari di Tepian Jambi

Penulis oleh: Agung Marsudi

BUKAN perjalanan yang menguras energi, melainkan empat hari mengukur jalan bumi—menemukan arti nasionalisme yang berakar pada hati hutan, bukan pada spanduk, baliho dan pidato. Di desa Merbau, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebuah Kijang putih tua merayap perlahan di jalan berjerebu. Di sisi kiri, hutan lindung berdiri tegak; di sisi kanan, konsesi hutan tanaman industri membentang luas. Di sana, terlihat jelas satu realita yang tak terelakkan: pertarungan antara lapar lahan dan lapar perut—pertarungan yang kerap berakhir kemelut.

Dari dekat, jejak perusahaan besar tampak nyata. Penebangan, pembukaan lahan, pembakaran—semuanya berlangsung di bawah narasi pembangunan, ekonomi, dan kepedulian lingkungan. Padahal, menebang di luar Rencana Kerja Tahunan (RKT), menggali kanal dan jalur dengan alat berat, lalu membakar lahan, bukanlah rahasia. Namun ketika langit Indonesia menggelap, terutama Kalimantan dan Sumatera—yang disalahkan justru bukan mereka yang memegang kendali gergaji. Tuduhan jatuh pada petani kecil, pada cuaca ekstrem, pada apa saja kecuali sistem yang merusak.

Asap yang membawa penderitaan tak lagi mengenal batas wilayah. Ia menyelimuti Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Filipina. Hutan hujan tropis Kalisuma (Kalimantan Sumatera) yang dahulu menjadi paru-paru dunia, kini berubah menjadi sumber sesak napas bagi jutaan umat manusia.

Empat hari menyusuri tepian Jambi, ratusan kera menyambut dari sela-sela pepohonan yang tersisa. Melalui jendela kendaraan, kami menyodorkan potongan roti; lensa kamera merekam pertemuan itu. Namun di balik keharmonian sesaat itu tersimpan keprihatinan: satwa kita tak lagi betah di habitatnya sendiri. Kanopi hutan yang dulu lebat kini menganga.

Kita bangga menyebut diri sebagai produsen minyak sawit, minyak bumi, dan bubur kertas kelas dunia. Tetapi kebanggaan itu harus dibayar dengan harga sangat mahal: hutan yang tak lagi tersisa. Keanekaragaman hayati yang menjadi warisan bangsa, kini terperangkap dalam asap tebal, tak peduli siapa yang di istana.

Hutan kita telah lama menangis. Airmatanya kini berubah menjadi api—membakar mimpi dan masa depan generasi. Sementara itu, di kota-kota besar, para pemimpin negeri sibuk membakar semangat pendengarnya dengan pidato-pidato politik berbusa janji.

Dari desa Merbau, Mendahara, Tanjung Jabung Timur, Jambi—Indonesia menyala. Bukan karena kemajuan, melainkan karena kebakaran. Asap hitam membubung tinggi, semakin tinggi, semakin gelap—melintasi batas negeri, menelan masa depan dan mimpi.

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SelanjutnyaRekam Jejak Strategis Purbaya Yudhi Sadewa saat Menjabat

Lainnya di Ekonomi & Bisnis

Lihat semua
Rekam Jejak Strategis Purbaya Yudhi Sadewa saat Menjabat
Ekonomi & Bisnis

Rekam Jejak Strategis PurbayaPurbaya Yudhi Sadewa saat Menjabat

17 September 2026 · 2 menit baca

Membaca Suahasil Nazara dari Karya-Karyanya
Ekonomi & Bisnis

Membaca Suahasil NazaraSuahasil Nazara dari Karya-Karyanya

15 September 2026 · 9 menit baca

Purbaya Hilang, Suahasil Terbilang
Ekonomi & Bisnis

Purbaya Hilang, SuahasilSuahasil Terbilang

14 September 2026 · 6 menit baca

Terpopuler

  1. 01Empat Hari di Tepian Jambi
  2. 02Rangkuman Detail Diskusi “Presiden Prabowo Menjawab”
  3. 03Pentingnya Mentor dalam Menumbuhkan Etos Keguruan
  4. 04Rekam Jejak Strategis Purbaya Yudhi Sadewa saat Menjabat
  5. 05Membaca Suahasil Nazara dari Karya-Karyanya

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents