About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Society

G30SG30S/CIA!?

Rusman

Rusman·21 September 2026·2 min read

Share
G30S/CIA!?

Lagi-lagi kita dihadapkan pada bulan September. Bulan yang buat sebagian orang itu romantis karena hujan mulai turun, tapi buat sejarah bangsa ini, September itu selalu punya aroma yang beda. Aroma amis, rasa cemas, dan tumpukan narasi yang sengaja dibikin gelap berpuluh-puluh tahun.

Kalian pasti ingat, dari kecil kita disuapi satu cerita tunggal. Cerita yang begitu rapi, begitu hitam-putih, mirip sinetron primetime. Ada yang jahat banget, ada yang jadi pahlawan penumpas. Tapi ya, kalau mau jujur dan mau sedikit saja membuka mata, sejarah itu gak pernah sesederhana cerita dongeng sebelum tidur.

Dunia tahun 1965 itu bukan cuma Jakarta, Guys. Dunia waktu itu lagi panas-panasnya Perang Dingin. Blok Barat dan Blok Timur lagi main catur di papan global. Dan tebak siapa yang jadi papan caturnya? Ya, negeri kita tercinta ini. Indonesia.

Bung Karno waktu itu lagi galak-galaknya. Beliau bilang “Go to hell with your aid!” ke Amerika. Beliau membentuk poros Jakarta-Peking. Bagi Washington, ini alarm bahaya level tertinggi. Asia Tenggara tidak boleh jatuh ke tangan komunis. Dan bagi CIA, membiarkan Sukarno tetap berdiri dengan gaya politiknya yang berapi-api itu adalah ancaman buat pengaruh mereka di kawasan ini.

Lalu meletuslah peristiwa malam itu.

Pertanyaannya sederhana: Apakah PKI yang merancang semuanya dari A sampai Z? Atau mereka diprovokasi CIA?

Dokumen-dokumen rahasia yang dibuka puluhan tahun kemudian menunjukkan satu hal jelas: Amerika tidak tinggal diam. Mereka punya kepentingan, mereka punya jaringan, dan mereka punya list nama. Ketika konflik internal di tubuh tentara dan perselisihan antar faksi politik memuncak, spion-spion itu tinggal memainkan pion-pionnya.

Tapi anehnya, berpuluh-puluh tahun kita cuma disuruh fokus pada satu narasi lokal, seolah-olah dunia luar itu cuma penonton yang bertepuk tangan di tribun. Kita dibikin lupa bahwa di balik tragedi berdarah yang mengorbankan ratusan ribu anak bangsa, ada dalang-dalang berjas rapi yang duduk nyaman di Washington sambil minum kopi, tersenyum puas melihat peta geopolitik Asia Tenggara akhirnya berubah sesuai skenario mereka.

Kita ini bangsa besar, tapi sering kali terlalu lugu. Mau saja diadu domba oleh agenda orang lain, lalu setelahnya kita saling bantai, dan generasi berikutnya disuruh menanggung beban traumanya.

Jadi, kalau sekarang kita bicara soal G30S, jangan cuma berhenti di narasi lama yang penuh propaganda. Lihat gambaran besarnya. Lihat bagaimana sebuah negeri kaya bernama Indonesia dikocok ulang oleh kepentingan global.

Sejarah itu bukan untuk dendam, tapi untuk pelajaran. Supaya apa? Supaya di masa depan, kita tidak lagi jadi bidak yang dengan mudah digerakkan oleh panggung luar.

Penasaran kan? Ya digali lagi sejarahnya, jangan cuma nelen mentah-mentah apa yang sudah disuapin dari dulu.

Kali ini seruput es kopi dulu, Guys. Biar kepala tetap dingin di tengah sejarah yang panas.

DRSM | Democracy Religion Society Market

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

NextEmpat Hari di Tepian Jambi

More in Society

View all
Empat Hari di Tepian Jambi
Economy & Business

Empat Hari di Tepian JambiTepian Jambi

21 September 2026 · 2 min read

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Society

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 August 2026 · 1 min read

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Society

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 July 2026 · 5 min read

Most Read

  1. 01G30S/CIA!?
  2. 02Menyoal Rencana Pembentukan BLU Sektor Energi (1)
  3. 03Empat Hari di Tepian Jambi
  4. 04Rangkuman Detail Diskusi “Presiden Prabowo Menjawab”
  5. 05Pentingnya Mentor dalam Menumbuhkan Etos Keguruan

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents