About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

International

Maka Dibagikan Fungsi TandinganFungsi Tandingan

Rusman

Rusman·27 March 2026·4 min read

Share
Maka Dibagikan Fungsi Tandingan

Oleh: Abdurrahman Wahid
(TEMPO, No. 4, Thn. XII, 27 Maret 1982)

Libanon saat ini adalah bangsa, bukan hanya negara, yang terpecah belah dalam pengelompokan kecil-kecil. Bagai remukan kaca yang tidak beraturan dari sebuah cermin yang dahulunya indah. Terlebih-lebih bagi negara lain, yang berwajah bopeng. Ia adalah satu-satunya negara Arab demokratis dalam artian perwakilan rakyat penuh kekuasaan, dan kemerdekaan bicara dijamin penuh. Kehidupan mencerminkan pluralitas dalam artian sebenarnya. Kosmopolitanisme menjadi orientasi.

Ternyata semuanya hancur berantakan, setelah perang saudara (atau perang-bukan-saudara) berkepanjangan yang belum selesai hingga saat ini. Banyak nyawa terbantai. Negara pariwisata yang menyenangkan berubah menjadi kebencian yang tidak mau berdamai dengan kenyataan. Keramahan berganti menjadi permusuhan, termasuk kepada orang asing yang tidak tahu-menahu. Yang terlebih mengibakan hati adalah punahnya semua keceriaan dan harapan masa depan gemilang yang menjiwai kehidupan manusia Libanon sepanjang tiga dasawarsa.

Dan, ternyata, tidak hanya Libanon yang terkena akibat; kehancurannya. Prospek perdamaian di Timur Tengah menjadi lebih diperkecil, padahal tadinya memang juga tidak terlalu besar. Kreativitas Arab secara keseluruhan mengalami pukulan dahsyat: Libanon adalah tempat penyaluran bakat dan kebolehan mereka di hampir semua bidang pemikiran, kesenian dan budaya.

Hilanglah kepeloporan yang didambakan dari Libanon oleh bangsa Arab keseluruhan. Nyanyian Fairuz yang melankolik tetapi dengan lancar mengikut dabkah, tarian rakyat yang berusia panjang, kini berubah menjadi lagu kemurungan hidup. Sastra Libanon yang penuh semangat mencoba segala hal baru, dari realisme-sosial-nya kaum komunis hingga novel- novel surrealistik yang tidak dimengerti kecuali oleh Tuhan (karena penulisnya sendiri juga tidak mengerti), kini menjadi ungkapan duka.

Memang, di antara semua puing itu kini dicoba oleh bangsa Libanon (yang masih waras, tentunya) untuk membangun kembali kohesi nasional mereka dan fungsionalisasi pemerintahan. Sedikit demi sedikit. Titik-titik pertama mulai terlihat untuk menyusun sebuah aturan permainan baru di semua bidang di antara sekian banyak suku, kelompok agama dan satuan budaya.

Kewibawaan pemerintah Libanon mulai ditegakkan kembali untuk menyongsong perombakan total dalam sistem pengadilan, yang selama ini memang terlalu berpihak kepada ‘kelas-kelas maju’ atas kerugian ‘kelas-kelas tertinggal’ dalam percaturan modernisasi.

Walau demikian, ada sebuah fungsi yang tidak akan dapat lagi diraih kembali. Yaitu fungsi Libanon selaku tandingan Mesir. Selama tiga dasawarsa lebih, peranan sebenarnya yang paling utama dari Libanon adalah menjadi tandingan. Bukan karena ia kuat: fungsi itu justru muncul karena kekecilan dan kelemahan politis-militer Libanon sendiri. Tandingan yang di- maksud adalah sebagai titik temu (rallying point) negara-negara Arab lain yang takut kepada dominasi Mesir.

Di zaman pemerintahan Nasser, dengan politik dalam dan luar negeri yang sosialistik, Libanon adalah eksponen sikap non sosialistik dalam segala hal. Dengan demikian ia didukung negara-negara Arab lain yang takut pada sosialisme Pan-Arabis Nasser, terutama negara-negara monarki. Nasser main hantam saja ekonomi kapitalistik, main babat perusahaan asing dengan jalan nasionalisasi dan boikot. Libanon justru menjadi surga usaha transnasional yang kebanyakan datang dari Barat. Nasser mengumandangkan kolektivisme sosial dalam hampir semua aspek hidup, Libanon justru penjunjung tinggi individualisme, seperti tercermin dalam produk budaya dan seninya.

Mesir, lagi, senantiasa menjadi ancaman bagi sistem ekonomi mana pun di kalangan negara-negara Arab, karena fungsinya sebagai pasar massif dan penyedia bahan mentah pertanian. Libanon justru menjadi pusat sistem perbankan regional, untuk mengkoordinasi upaya mengurangi akibat negatif dari potensi dominatif Mesir. Di bidang politik, arogansi Mesir sebagai ‘negara besar di tengah negara-negara kecil’ ditandingi oleh fungsi sebagai pengimbang yang sanggup menyusun koalisi untuk menetralkan hegemoni politik Mesir.

Fungsi tandingan itulah yang kini telah hilang – mungkin selama-lamanya. Beberapa tahun terakhir ini belum begitu terasa perlunya fungsi tersebut. Karena Sadat membuat Mesir lemah dan terisolasi dari perkembangan umum kehidupan Dunia Arab. Tetapi munculnya Husni Mubarak ada kemungkinan akan membawa kepada ‘pernyataan diri kembali’ bangsa Mesir. Bagaimanapun ia harus menyantuni aspirasi politis Pan-Arabis, sebagai harga yang harus dibayar untuk kolaborasi golongan Nasseris nanti. Juga inisiatif perdagangan yang agresif, untuk menyelesaikan program ekonomi yang dijadikannya tolok ukur keberhasilan kepemimpinannya sendiri.

Untuk menghadapi kemungkinan seperti itulah negara-negara Arab mempersiapkan sebuah ‘pola tandingan’ baru secara diam-diam. Fungsi ‘juru bicara Arab’ di bidang politik, umpamanya, kini dipindahkan dari Libanon ke Tunisia, seperti terbukti dengan penonjolan peranan antar-Arab dari negara kecil itu.

Fungsi Libanon sebagai pusat jaringan finansial Arab kini bergeser ke Timur, bermukim di negara-negara Teluk Persia. Bank-bank antar-Arab dan internasional bermunculan di ‘kota-kota negara’ seperti Abu Dhabi, Kuwait, Bahrain. Peranan tandingan kultural mulai direbut Irak. Bahkan ada kemungkinan, kalau mampu menggabungkan fungsi tandingan politik dan kultural dalam sebuah pola integral yang kokoh, Irak akan mampu menjadi ‘negara besar di tengah negara-negara kecil’ Dunia Arab. Seperti Mesir dulu.

Dengan kemampuan finansial Irak yang begitu besar sebagai hasil petrodollar, walau jaringan finansialnya lebih berwatak nasional daripada regional, mau tidak mau akan tertunjang fungsi tandingan politis-kultural tersebut. Pertanyaan pokok yang terlebih dulu harus dijawab: mampukah Irak menyelesaikan perangnya dengan Iran sekarang, melalui sebuah kemenangan militer atau penyelesaian terhormat?

Jelaslah fungsi Libanon sebagai pembanding potensi dominatif Mesir telah dibagi-bagi. Walau belum mati penuh dan kejang, Libanon ternyata sudah diperlakukan sebagai bangkai oleh negara-negara Arab lain. Sayang!

Sumber: TEMPO, No. 4, Thn. XII, 27 Maret 1982

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousHormuz: Kuburan Ambisi PerangNextKetika Langit Dijaga Rudal, Rahasia Bocor di Daratan

More in International

View all
Strategi Indo-Pasifik Amerika Serikat, Apa Agenda Strategis Australia?
Analysis

Strategi Indo-PasifikIndo-Pasifik Amerika Serikat, Apa Agenda Strategis Australia?

11 September 2026 · 6 min read

Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01G30S/CIA!?
  2. 02Menyoal Rencana Pembentukan BLU Sektor Energi (1)
  3. 03Empat Hari di Tepian Jambi
  4. 04Rangkuman Detail Diskusi “Presiden Prabowo Menjawab”
  5. 05Pentingnya Mentor dalam Menumbuhkan Etos Keguruan

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents