Pentingnya Mentor dalam Menumbuhkan Etos Keguruan


Penulis: Halim Tanaka, Pegiat Budaya Nusantara dan Kearifan Lokal, Global Future Institute (GFI)
Romo Stefanus Hendrianto dulunya merupakan seorang aktivis pergerakan dari kampus kondang di Yogyakarta, Universitas Gajah Mada. Pengalamannya sebagai aktivis pergerakan, yang puncaknya adalah ikut serta dari gelombang besar gerakana mahasiswa menumbangkan Presiden Suharto pada 1998, Stefanus Hendrianto yang di kalangan aktivis lebih dikenal dengan nama Hendri Kuok, pada gilirannya ikut pula membentuk diriinya menjadi pribadi yang berkarakter.
Ketika dirasa arah dan tujuan pergerakan 1998 sudah tidak sesuai lagi tujuan strategis perjuangan, Hendri Kuok panggilan lebih memilih mengambil jarak dari lingkaran kekuasaan. Ia lebih memilih jalur akademik, dan yang ini lebih mengejutkan lagi, memutuskan buat mempelajari dan menyelami dunia spiritual. Oleha karena ia berlatar belakang Katolik, tradisi agama yang dianutnya, berarti dari situlah semuanya bermula. Dan buku ini, yang ada di hadapan anda, sidang pembaca, Romo Hendri berbagi pengalamannya yang unik bersama Pater Schall, yang kelak menjadi mentor intelektual maupun spiritualnya.
Melalui episode ini saja, buku ini sudah memikat dari awal mencerahkan pikiran dan jiwa saya. Apalagi ketika menikmati episode demi episode buku ini, sontak saya teringat pengalaman pribadi saya sendiri yang tak kalah unik ketika berguru dan berkhidmad kepada Haji Mochtar Husein, yang seperti halnya Pater Schall, juga sudah wafat.
Yang unik dari pengalaman Romo Hendri ketika menyerap dan berkhidmad keilmuan dan spiritualitas kepada Pater Schall, bukan bagaimana Romo Hendri menguasai pengetahuan, melainkan bagaimana menumbuhkan rasa pengetahuan lewat buku yang dibacanya. Dan kepekaan intuitif untuk memetakan buku-buku apa yang bagus dan pastinya bermanfaat, sehingga menguasai pengetahuan dan punya rasa pengetahuan.
Tapi sebelum lebih jauh ula situ, bagaimana ceritanya sampai Hendri Kuok yang aktivis pergerakan itu bisa berlabuh dan akhirnya bermukim di Amerika Serikat? Bahkan kemudian banting stir dari aktivis jadi Romo?
Banyak yang bilang bahwa keputusannya menjadi seorang Romo adalah patah hati dengan pacar, padahal versis cerita yang sebenarnya seperti ia ketengahkan dalam bukunya, sama sekali bukan seperti itu. Yang terjadi adalah Romo Hendri lah yang kala itu membatalkan Pertunangan dengan pacarnya, dengan alasan Hendri Kuok beranggapan belum siap untuk menikah.
Di tanah air, mungkin karena dekade 1990-an Yogyakarta dan Salatiga relative berdekatan secara geografis, Hendri Kuok memandang Romo Mangunwijaya, budayawan dan rohaniawan Katolik Yogya, maupun Doktor Arief Budiman, pakar sosologi dan intelektual Universitas Indonesia, merupakan teman dialog dan mitra dialog dekat Hendri.
Tapi ya itu tadi. Oleh karena rasa kecewa terhadap arah dan oritentasi pergerakan 1998 yang berujung pada tumbangnya Presiden Suharto, Hendri memutuskan menjauh dari pusaran dan kancah politik. Inilah yang mengantarkannya pada putusan untuk memperdalam ilmu di Amerika Serikat. Bahkan yang lebih menariknnya lagi, akhirnya memutuskan bergabung dalam ordo Jesuit di Amerika serikat.
Di sanalah Romo Hendri bertemu dengan Peter Schall saat melaksanakan Tahun Orientasi Kerasulan (TOK). Ketika bertemu Pater Schall, Hendri memberanikan diri berbicara dengan Pater Schall yang namanya sering disebut sebut oleh para Romo yang dipandang mumpuni keahliannya di bidang filsafat, politik dan ilmu pemerintahan selain ilmu tentang Ordo Jesuit. Oh ya, Hendri sendiri ke Amerika untuk mendalami disiplin Ilmu Politik dan Pemerintahan.
Barang tentu Hendri senang sekali Pater Schall mempersilahkan Hendri datang ke tempat beliau kapan saja di tempat yang bernama Jati Kudus di California.
Begitulah. Sabtu Bersama Pater Schall: Tentang Buku, Persahabatan, dan Cinta adalah sebuah memoar yang ditulis Hendri ihwal perjalanan dan pertumbuhan Hendri baik secara intelektual, melainkan juga spiritual. Bisa lah saya sebut ini semacam Transformasi Kesadaran dan Wawasan. Pater Schall, adalah guru, mentor dan akhirnya sahabat.
James V. Schall atau Romo Schall, meski seorang Romo dan filsuf, namun juga merupakan seorang guru besar Ilmu Politik dan Pemerintahan. Di lingkar akademik inilah, Hendri dan Pater Schall ditakdirkan bertemua. Lantaran mempelajari ilmu yang sama. Di sinilah evolusi kesadaran dan cara pandang Hendri dalam mengakses dan mengolah pengetahuan, semakin meluas dan mendalam.
Melalui pertemuan “Sabtuan” keduanya membahas mengenai banyak hal, seperti pemikiran para filsuf, sampai pada pandangan tentang kehidupan sehari-hari, atau bahkan kehidupan pribadi penulis. Pater Schall juga banyak memberikan insight/wawasan, wejangan/petuah, dan pesan untuk penulis yang saat itu tengah menjalani pendidikan sebagai Romo dan Imam Katolik.
TOK atau Tahun Orientasi Kerasulan, dimana ia harus menjalani serangkaian pendidikan sebelum akhirnya ditahbiskan sebagai imam Katolik.
Ketika melihat buku ini buat pertama kalinya aku berpikir bahwa buku ini akan membahas banyak soal spiritualitas atau ilmu agama Katolik, soalnya penulisnya adalah seorang imam dan mentornya pun seorang imam senior. Tapi, rupanya aku salah.
Tentu saja buku ini ada banyak pengetahuan soal spiritualitas dan iman Katolik, tapi kalau kubilang, itu cuma sekitar 20%. Sisanya bener-bener murni ilmu pengetahuan. Pengetahuannya tentang ilmu pemerintahan. Tentang caranya memperoleh pengetahuan, bagaimana merasakan pengetahuan. Wawasan Keilmuan itu intisari isi buku yang sejauh bisa kuserap.
Yang menjadi tokoh atau figur intelektual, seperti Romo Franz Magnis Suseno, S.J. yang dikenal sebagai filsuf dan pengajar filsafar. Ordo S.J. juga mewajibkan para anggotanya untuk menjalani bertahun-tahun pelatihan sebelum ditahbiskan sebagai imam.
Di saat-saat itulah, Romo Hendri bertemu dengan Pater Schall. Dalam tiap pertemuan, mereka akan berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari pemikiran para filsuf yang menjadi dasar ilmu mereka, sampai kepada hal-hal seperti pentingnya membaca buku, memelihara perpustakaan pribadi, sampai menghadapi pergumulan pribadi penulis tentang hubungan beliau dengan orangtuanya yang kompleks dan tidak selalu akur.
Tapi di sisi lain, pelajaran dan pengetahuan tentang kehidupan maupun ilmu-ilmu pengetahuan pun meluas dan mengembang. Aku mendapat banyak hal baru dari buku ini, misalnya seperti teori manusia pasca-Indonesia, yaitu manusia dari Indonesia yang melebarkan sayapnya dan berkarya di tanah asing seperti Romo Hendri, tapi tidak pernah lupa akan akar dan asal-usulnya.
Atau misalnya tentang pentingnya memelihara perpustakaan pribadi dalam hidup supaya kehidupan intelektual kita tetap terjaga. Tidak hanya penulis, aku sebagai pembaca pun merasa mendapat banyak petuah dan masukan dari Pater Schall.
Salut banget aku sama Romo Hendri dan Pater Schall karena pengetahuan dan kearifan mereka yang luas. Membaca buku ini rasanya seperti menemukan sesuatu yang segar. Dan hebatnya lagi, justru dari genre nonfiksi alias kisah nyata. Sontak kusadari, kadang ilmu dan pengetahuan dapat lebih mudah dicerna dan diingat lewat jalinan cerita. Inilah kekuatan buku Hendri Kuok yang kelak setelah jadi Romi lebih dikenal sebagai Stefanus Hendrianto atau Romo Hendri.
Sajian tulisan berupa penuturan kisah, selain plot demi plot mengalir serta mendetail untuk segala macam hal, sehingga pembaca bisa membayangkankan secara imajinatif pergumulan seperti apa yang dihadapi oleh penulis, tempat-tempat atau kota-kota seperti apa yang didatangi penulis, berikut detail-detail lainnya. Banyak banget wejangan, pesan, dan pelajaran yang bisa didapat dari Pater Schall sebagai Romo Senior.
Dalam pertemuan pertama di pesta Loyola dengan Pater Schall ada pembahasan memarik, dengan Romo Hendri, yaitu tentang Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) aku pun sempat terkejut saat membacanya.
Pater Schall salah satu orang yang tidak percaya akan paham HAM, beliau menjelaskan paham HAM adalah salah satu gagasan paling subversif dalam dunia modern, HAM adalah gagasan modern yang muncul dari cendekiawan Inggris Thomas Hobbes.
Perkembangan dunia dalam lima dasawarsa terakhir tampak bahwa pembangkangan terhadap hukum kodrat telah dilakukan dengan dalih HAM, khususnya pengertian Hobbes, kita akan menemukan polanya pada kasus aborsi, homoseksual, eutanasia dan hal lain yang berakar pada paham HAM. Menurut Schall, ada perbedaan prinsipil antara hak yang sejatinya merupakan kodrat alam dan kehendak. HAM akarnya kehendak, bukan sesuatu yang sudah kodrat alamnya seperti itu.
Menurut Leo Strauss peradaban barat tersusun dari dua unsur hakiki yaitu Yarusalem (kitab suci) dan Athena (filsafat Yunani).
Pater Schall mengatakan Strauss ingin menyelamatkan umat manusia dari bahaya konsekuensi politik proyek dunia modern dengan mengajukan gagasan bahwa kita harus kembali ke filsafat politik klasik dengan menimba inspirasi dari Yarusalem dan Athena, Kristianitas sebagai unsur ketiga (selain Yarusalem dan Athena) punya kontribusi khas dalam peradaban barat.
Tentu saja pembaca, termasuk saya, bisa setuju bisa juga tidak. Namun buku ini banyak mengetengahkan dialog-diolog yang sarat pemgetahuan tingkat tinggi, namun disajikan secara renyah sehingga mudah dicerna. Sayapun membacanya seolah oleh saya lah yang sedang berdialog dengan Pater Schall.
Satu lagi poin pesan tersirat dalam buku ini: membaca buku cetak adalah teknologi kuno yang sangat efektif di dunia modern yang saat ini semakin berkembang, koleksi buku buku menjadi sebuah harta yang tak ternilai harganya.
Segi yang mengesankan saya secara pribadi, Hendri dan Pater Schall tidak ada jarak seperti murid dan guru yang kaku, berjarak dan dipisahkan oleh sekat-sekat fisik maupun psikologis. Sama sekali tidak seperti itu. Hubungan Guru-Muridn yang terjalin merupakan persahabatan yang berbagi cerita dan gagasan. Makanya tepat sekali ketika Hendri mengistilahkan proses hubungan Hendri dan Schall ini lah senbagai “Pembelajaran Jenis lain.” Bukan berupa pendidikan yang formal akan tetapi dalam bentuk pertemuan tatap muka antara Hendri dan Peter Schall setiap hari sabtu dengan berdialog santai dengan saling bercerita dan saling bertanya.
Setelah membaca buku yang mencerahkan pikiran, informatif dan sangat menginspirasi itu, sontak saya merenungkan kembali pengajian panjang saya bersama almarhum Haji Mochtar Hussein. Bedanya, kalau Hendri secara rutin mengaji ilmu di asrama Pater Schal di Jati Kudus, California, saya di kediaman alm. Mochtar Husein di Rumah Bambu, Jakarta Timur.
Ada benang merah yang menautkan saya dan pengalaman Romo Hendri. Betapa sejatinya penguasaan dan penghayatan pengetahuan itu bermula dari dorongan minat dan fokus perhatian. Fokus Perhatian menyalakan Energi. Dari situlah Niat muncul untuk menyalakan informasi dan wawasan. Dari itulah pengetahuan yang kita kuasa jadi berjiwa dan bernyawa. Bahkan dari itu pula, pengetahuan dan wawasan yang kita miliki, kita jadi tahu siapa sejatinya masing masing kita. Dan sebagai ap akita dulu, sekarang dan nanti.
Info Buku:
Judul Buku: Sabtu Bersama Pater Schall, tentang Buku, Persahabatan dan Cinta
Penulis: Romo Stefanus Hendrianto, S.J.
Penerjemah: Y. D. Anugrahbayu.
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).
Jumlah halaman: 291 halaman
Tentang diskusi, tukar pikiran, dan perjalanan spiritual penulis dengan romo senior di AS.

Rusman
Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.


