About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

HormuzHormuz: Kuburan Ambisi Perang

Rusman

Rusman·27 March 2026·4 min read

Share
Hormuz: Kuburan Ambisi Perang

Prolog: Ketika Mimpi Perang Kilat Salah Alamat

Jika perang darat antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran benar-benar meletus, maka satu hal yang hampir pasti: ini bukan perang cepat, bukan pula peperangan konvensional lazimnya. Skenario akan berubah menjadi perang panjang alias tempo lama, sangat mahal, penuh ketidakpastian, juga bertebar ilusi kemenangan. Dan pusat ilusi itu bernama: Selat Hormuz.

Selama ini, doktrin militer Barat (decapitation strike) bertumpu pada satu keyakinan: kuasai dan bombardir dari udara, lumpuhkan target, kemudian masuk pasukan darat untuk pendudukan. Pola ini tergolong sukses pada Perang Teluk 1991. Tapi itu dulu. Bagi AS, pokok permasalahan sekarang: “Iran itu bukan Irak.” Ia bukan medan terbuka yang dapat dibombardir hingga lumpuh. Iran adalah negara yang sejak lama bersiap-diri untuk diserang, lalu menjebak penyerangnya dalam killing ground (medan pembantaian). Buktinya, sudah lima jet tempur AS-Israel —salah satunya F-35— meledak dirudal ketika mencoba masuk di langit Negeri Para Mullah. Dalam hal ini, faktor “cumemu” (cuaca, medan, musuh) dalam pertempuran juga dalam genggaman militer Iran.

Strategi Iran: Membuat Musuh Bangkrut (Pyrrhic Victory)

Bayangkan sebuah selat sempit, hanya puluhan kilometer (33-an km) lebarnya, tapi ia dilintasi hampir seperlima energi dunia. Kemudian bayangkan lagi, jika selat itu ditanami ranjau laut, dikelilingi rudal anti-kapal, drone siap serang, kapal-kapal kecil yang bergerak bak kawanan serigala lapar, dan kapal selam kecil pengganggu dari sisi dalam perairan. Itulah Selat Hormuz hari ini. Di situ nanti, kapal induk bukan lagi simbol kedigdayaan, ia bisa berubah menjadi target sasaran melalui swarm attact (serangan keroyokan). Model serangan yang kerap dilatihkan oleh militer Iran di selat tersebut.

Iran tidak perlu mengalahkan lawan. Mereka hanya perlu melakukan satu hal yakni membuat perang menjadi terlalu mahal untuk dimenangkan. Pelajaran dari Perang Vietnam dan Perang Afghanistan seharusnya masih jelas dalam catatan para analis militer-geopolitik di Barat, bahwa kekuatan besar bisa balik kandang bukan karena kalah total, tetapi tidak sanggup menanggung beban baik politik, biaya ekonomi, uka-luka sosial maupun beban moral. Itulah yang disebut pyrrhic victory. Boleh “menang” tapi Anda bangkrut, sehingga tak mampu meneruskan pertempuran. Itu eufemisme dari istilah kalah perang.

Agaknya, di jantung ekonomi global, Selat Hormuz memberi panggung bagi Iran untuk menulis ulang skenario pyrrhic victory dimaksud.

Perang atau Bisnis?

Di balik retorika geopolitik, ada pertanyaan sinis lagi tajam: apakah realitas ini benar-benar soal politik-keamanan, atau bisnis berkedok konflik?

Cermati secara dalam. Setiap Donald Trump melempar retorika — mencla-mencle — di publik, maka tren saham bereaksi di pasar modal. Naik-turun. Lalu, siapa yang diuntungkan? Ini yang perlu dicermati secara tajam. Trump sepertinya menghindari kata perang, ia lebih memilih istilah konflik. “Konflik Iran” (IN, 2026). Hal ini bukan tanpa maksud, jelas terselip hidden agenda . Dalam politik AS, satu kata bisa menentukan legalitas, anggaran, termasuk dukungan publik.

Di sisi lain, konsep Military-Industrial Complex bekerja senyap di balik layar: mengubah ketegangan menjadi kontrak, menyulap konflik jadi keuntungan segelintir orang. Dari perspektif ini, konflik adalah komoditas. Sekali lagi, ternyata perang bukan hanya tentang operasi militer. Ia adalah industri.

Penutup: Antara Menang atau Ilusi Kemenangan

Yang paling berbahaya dari semua ini adalah ilusi: bahwa perang bisa dikendalikan, cepat diselesaikan, lalu ditutup rapi sebab-akibatnya dengan propaganda dan citra. Realitas semu. Lakon semacam Rambo, misalnya, akan diproduksi ulang, atau film Kolonel Braddock dan seterusnya bakal digebyarkan guna menutup kelemahan sebagaimana kekalahan AS tempo lalu di Perang Vietnam.

Tapi sepertinya, Selat Hormuz bakal menghancurkan ilusi itu. Begitu tembakan pertama dilepas, dampaknya tidak akan berhenti di Kawasan Teluk. Harga energi semakin melonjak, ekonomi global keras terguncang, inflasi berantai, dan konflik bisa meluas kemana-mana.

Ya. Jika perang darat jadi pecah di Iran, mungkin tidak ada yang benar-benar tampil sebagai pemenang. Menang jadi abu, kalah seperti debu. Iran bisa saja hancur, meski tidak mudah ditaklukkan, karena histori-kronologi Ras Arya —Iran— adalah bangsa petarung. AS dan sekutunya boleh saja unggul secara fisik-militer, namun terkuras anggaran dan luruh berbagai sumber dayanya. Bahasa ekstremnya: “Amerika bunuh diri massal”. Dunia turut menanggung dampaknya. Niscaya terdapat domino effect akibat tumbangnya “raksasa” (AS). Sedangkan taburan debunya saja membuat mata kelilipan, apalagi yang tertindas tubuhnya?

Selat Hormuz nantinya bukan sekadar jalur energi, ia bisa menjadi monumen bersejarah sekaligus kuburan bagi ambisi perang. Hormuz bakal dikenang sebagai area di mana dunia pernah belajar tentang hikmah, bahwa entitas dan kekuatan besar, modern, serta didukung mesin-perang canggih — tidak selalu memenangkan peperangan.

Wait and see!

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousKrisis Energi di Timur Tengah dan Potensi Rusia Sebagai Negara Pemasok Alternatif di Asia Pasifik dan EropaNextKetika Langit Dijaga Rudal, Rahasia Bocor di Daratan

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents