Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Geopolitik

Tatanan Geopolitik Melawan TuhanMelawan Tuhan

Rusman

Rusman·16 Januari 2026·2 menit baca

Bagikan
Tatanan Geopolitik Melawan Tuhan

Ngobrol Bareng Ichsanuddin Noorsy dan Arief Sulistyanto tentang Spiritual Geopolitik di Zhaid123 Coffee, Candi Baru, Semarang

Dalam sejarah geopolitik purba, monopoli adalah kejahatan paling tua di muka bumi. Ia lahir dari kerakusan, bertumbuh lewat kuasa, dan bertahan melalui legitimasi. Dalam istilah sederhana: serakahnomic.

Pada fase ideologi modern, monopoli berubah wajah. Kapitalisme memonopoli modal finansial, terutama uang dan mata uang global. Sosialisme dan komunisme memonopoli massa, menjadikan rakyat sebagai alat produksi sekaligus legitimasi kekuasaan. Keduanya bertolak dari pijakan yang sama: materialisme.

Ketika dua kekuatan itu bersenyawa (one country and two system) —sebagaimana terlihat pada Cina— hasilnya jauh lebih dahsyat. Massa berada dalam kendali, modal berada dalam genggaman. Ke dalam diterapkan disiplin komunal, ke luar dijalankan ekspansi kapital. Dunia pun dikendalikan. Singapura menjalankan pola serupa, dengan kemasan dan nama berbeda. Efektif. Namun, tetap materialistik.

Sebelum dan sesudah Perang Dingin (Cold War), ideologi-ideologi itu dibenturkan melalui apa yang disebut invisible hands. Dunia diyakinkan bahwa pasar (bebas) akan mengatur dirinya sendiri. Kenyataannya, tangan itu tak pernah benar-benar ada. Yang bekerja hanyalah hegemoni berbasis legitimasi palsu. Ketika kebohongan itu runtuh, ideologi materialisme pun mengalami krisis multidimensi.

Pelarian berikutnya adalah teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Di era AI dan Industri 5.0, bentuk monopoli paling berbahaya bukan lagi sekadar modal atau massa, melainkan monopoli persepsi. TIK membangun ilusi kolektif: citra yang menyerupai realitas, fantasi yang terasa faktual. Robot, otomatisasi, dan digitalisasi membuat yang semu bercampur dengan yang hakiki.

Dampaknya fatal: monopoli kebenaran yang semu.

Algoritma menentukan siapa berbicara dan siapa dibungkam. Yang sejalan akan “distabilkan”, yang melawan akan “dihapus”. Manusia direduksi menjadi data. Nilai digantikan metrik. Martabat ditakar oleh klik dan engagement.

Maraknya industri AI —ChatGPT, Meta AI, Gemini dan lain-lain— bukan sekadar alat. Ia adalah “pasukan baru” dalam perang opini global, lomba menggiring manusia menuju monokultur: satu persepsi, satu kebenaran, satu tafsir hidup. Di baliknya — berdiri segelintir pemilik modal yang menentukan arah, batas, dan makna kebenaran.

Inilah tatanan terbaru dunia materialis untuk melawan Tuhan.

Ironisnya, perlawanan itu menunggangi hukum-hukum Tuhan sendiri. Mereka menggunakan frekwensi ciptaan Tuhan. Sudah pasti ia rapuh, tidak teguh, dan tak pernah teduh. Bangunan peradaban semacam ini mustahil melahirkan ketenteraman sejati.

Negara yang menjadikan materialisme sebagai fondasi, lalu melengkapinya dengan perangkat TIK, akan gagal membebaskan rakyatnya dari ketertindasan, kebodohan, kemiskinan, ketimpangan, dan kehinaan. Teknologi tanpa etika hanya mempercepat kejatuhan. Kekuasaan tanpa iman hanya menyempurnakan kezaliman.

Dan kebenaran —betapapun ia coba dimonopoli— pada akhirnya selalu kembali kepada pemiliknya. Kebenaran tak bisa dikalahkan, ia hanya bisa disingkirkan. Itupun sejenak.

Terima kasih.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaGreenland: Keserakahan Bersama AncamanSelanjutnya“Bunuh Diri Geopolitik”

Lainnya di Geopolitik

Lihat semua
Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents