Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

“Bunuh DiriBunuh Diri Geopolitik”

Rusman

Rusman·15 Januari 2026·5 menit baca

Bagikan
“Bunuh Diri Geopolitik”

Analisis Geopolitik tentang Kebangkrutan Amerika dan Perang Dunia III dari Perspektif Gejala

Hari ini, dunia tidak sedang menuju keteraturan baru. Ia berada di fase kesemrawutan namun seolah-olah terkelola. Padahal sich kacau balau. Ditandai dengan tata dunia lama mulai runtuh, sementara tatanan baru belum terbangun. Masih dicari polanya. Maka sebagai implikasi, kekuasaan pun beroperasi secara improvisatif, agresif, dan nyaris tanpa rasa malu.

Barangkali inilah momen untuk melihat teori Antonio Gramsci (1891 – 1937) silam:

“The old world is dying, and the new world struggles to be born; now is the time of monsters.”

(Terjemahan bebas: dunia lama sedang sekarat, dan tatanan baru berjuang untuk lahir; sekarang zaman para monster).

Dalam konteks kekinian, dampak perilaku (geo) politik Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini yang cenderung brutal – layak dijuluki sang monster seperti isyarat Gramsci. Penyebutan monster dimaksud, bukan karena faktor kekuatannya — itu dulu. Kini lebih condong pada keletihan, kepanikan, bahkan kegagapan dalam menjalani masa kini serta menatap masa depan. Pertanyaan menarik muncul, “Kenapa AS bisa panik?” Nanti kita ulas sepintas.

Maka lahirnya Trump Corollary bukan tanpa alasan (silakan baca: Trump Corallary: Ke Mana Melaut dan Berlabuh?), ia justru simpton jujur dari kegagalan AS memelihara rule-based order yang dahulu didesainnya sendiri. Ketika hukum internasional tak lagi menguntungkan, ia abaikan. Tatkala multilateralisme menjadi beban, diubahnya menjadi komoditas yang dapat ditawar. Inilah paradoks imperium tua. Semaunya sendiri. Ia menuntut kepatuhan global di satu sisi, sembari menginjak aturan pada sisi lain. Begitu potret sekilas perilaku Paman Sam di panggung geopolitik global.

Isu Greenland adalah cermin hipokrasi tersebut. Rencana aneksasi sebenarnya bukan pilihan rasional-logis bagi siapapun adidaya. Secara tatanan, tak hanya amoral, nir-etika, tak beradab — tapi biaya (geo) politiknya pun sangat mahal. Yang diinginkan AS sebenarnya bukan prosedur formal, melainkan kontrol riil di lapangan. Penguatan pangkalan militer (Thule Air Base), misalnya, atau konsesi sumber daya, eksklusivitas investasi, ataupun menjinakkan posisi Denmark (pemilik Greenland) via NATO. Ini neokolonialisme terbaru di abad ke-21. Tanpa bendera, tanpa deklarasi, tanpa rasa bersalah, dan tanpa rasa malu.

Bagi para adidaya, Greenland adalah aset masa depan. Investasi jangka panjang — bukan target simbolik yang perlu direbut dengan cara kasar. Aneksasi formal justru akan menjadi “bunuh diri massal geopolitik”. Di sana, memang disebut-sebut menyimpan deposit mineral strategis (rare earth elements/REE dan uranium) yang nilai asetnya tak terhingga lagi belum disentuh, plus jalur baru pelayaran global di utara via (chokepoint) Laut Arktik. Jalur ini akan mengubah rute pelayaran lazimnya. Kapal tanker atau kargo dari Shanghai ke Rotterdam contohnya, bila lewat jalur ini bisa memangkas waktu 40% lebih cepat ketimbang melintasi Terusan Suez.

Dalam operasional Trump Corollary, langkah tersebut identik “sekali dayung dua pulau terlampaui”. Secara (geo) ekonomi menguasai REE dan uranium tak terhingga. Secara (geo) strategi, mengendalikan chokepoints Arktik.

Muncul tiga analisis strategis atas rencana aneksasi tersebut:

Pertama, aneksasi secara terbuka akan meretakkan, bahkan meruntuhkan bangunan NATO yang selama ini menopang hegemoni AS;

Kedua, mempercepat disintegrasi Barat; dan

Ketiga, justru memperkuat narasi perlawanan BRICS dan Global South kepada AS sendiri.

Inilah yang dikatakan sebagai bunuh diri geopolitik secara massal.

Seyogianya strategi yang dipilih adalah silent capture. Dominasi tanpa gegap gempita, pengambilalihan tanpa kegaduhan. “Pendudukan sunyi.” Itulah pola cerdas yang harusnya ditempuh. Cara dan model yang kini tengah dijalankan oleh Israel di Somaliland.

Hal lain, Iran menjadi isu yang mampu mematahkan mitos kedigdayaan AS. Hingga detik ini, Negeri Para Mullah terbukti tak mampu ditumbangkan. Yang bisa dilakukan AS hanya melemahkan kapasitas Iran. Tak lebih. Lewat sanksi ekonomi, misalnya, atau sabotase teknologi, proxy war, pembatasan nuklir, perang intelijen dan laimnya. Semua manuver non militer AS tadi bermuara pada pelemahkan kebangkitan Iran, bukannya penghancuran.

Mengapa begitu?

Sebab, Iran memiliki “senjata” yang jarang dipunyai negara lain, yaitu persenjataan geografi alias weaponization of geography. Di mata global, Selat Hormuz itu ibarat pisau bedah yang ditempel di leher sistem ekonomi global. Seandainya Hormuz ditutup dengan alasan kepentingan nasionalnya terganggu —ini dibolehkan dalam UNCLOS 1982— niscaya timbul dampak berantai lagi meluas. Entah kolapsnya ekonomi, inflasi sistemik, krisis kawasan, hingga instabilitas global.

Kenapa demikian?

Harga minyak pasti terbang tinggi, karena setiap hari hampir 40-an persen minyak global hilir mudik di Selat Hormuz. Itulah kenapa AS tidak pernah benar-benar berani melampaui batas tertentu dalam menghadapi Iran. Kudunya ia menyadari, bahwa Iran bukan negara yang mutlak ditaklukkan, tapi implikasi risiko yang harus diminimalisir. Dikendalikan.

Balik ke Paman Sam. Semua tadi sebenarnya hanya sekadar gejala belaka. Sumber penyakitnya justru di tubuh AS sendiri. Bahwa hegemoni butuh harga tinggi. Itu pasti. Sedangkan kini ia tak mampu lagi membiayai kiprah hegemoninya. Isu deindustrialisasi menggerogoti basis ekonomi, defisit fiskal membengkak tanpa kendali, dolar kehilangan aura absolutnya, narkotika dan pengangguran mewabah, sementara aliansi globalnya berubah menjadi relasi transaksional yang rapuh dan penuh rasa curiga.

Itulah sebabnya AS menarik diri dari 66 organisasi internasional yang dulu ia sponsori. Bukan tak paham fluktuasi geopolitik, semata-mata karena faktor kebangkrutan. Imperium yang sudah tidak sanggup membiayai hegemoninya cenderung memilih hard power daripada konsensus. Dan Trump — dengan segala vulgaritasnya, hanya potret buram dari kelelahan Imperium Amerika.

Dalam kondisi seperti ini, seyogianya ia tidak lagi bicara ambisi hegemoni, ekspansi dan/atau upaya pemenangan. Yang ideal itu penundaan. Strategi utamanya bukan lagi menaklukkan dunia, tapi memperlambat hilangnya kendali. Delay strategy menjadi opsi rasional bagi sebuah hegemoni yang tengah kehabisan napas.

Sejarah mengajarkan, ketika suatu imperium hanya mampu menunda, sejatinya sudah kalah – hanya saja belum mengakui.

Sebelum mengakhiri catatan kecil ini, penulis teringat pidato Bung Karno (BK) soal Kapitalisme, bahwa:

“Kapitalisme yang terjebak krisis akhirnya membuahkan fasisme, sedang fasisme ialah perjuangan para monopolis yang terancam bangkrut“.

Agaknya, praktik Trump Corollary di Amerika Latin dan Greenland seperti merefleksikan tata cara fasisme seperti isyarat BK. Yaitu perjuangan kapitalis yang cenderung bangkrut berubah menjadi fasis.

Celakanya, AS punya pengalaman emas soal pemulihan krisis lewat tata cara perang. Dulu. Ketika ia dilanda Great Depression 1930-an — diletuskanlah perang dunia (PD II), seketika nadi ekonomi AS pun kembali menggeliat, bahkan paling kuat pasca-PD II.

Simpulan lama, PD II secara efektif mengakhiri Great Depression karena menciptakan lapangan kerja besar-besaran, mendorong produksi industri strategis, memacu belanja pemerintah, konsumsi publik dan lainnya. Artinya, perang dunia berfungsi sebagai “mesin ekonomi” yang mempercepat pemulihan ekonomi AS.

Pertanyaan menggelitik muncul di ujung catatan, “Apakah AS bakal mengulang pola keberhasilan pemulihan ekonomi meniru Great Depression tempo doeloe?”

Nah, pada momen itulah, Trump Corollary akan menulis takdirnya sendiri.

Demikian. Terima kasih.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaGreenland: Keserakahan Bersama AncamanSelanjutnyaAntara Demokrasi, Oligarki dan Reformasi di Indonesia

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents