Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Pancaroba GlobalPancaroba Global — Dunia Kehilangan Kompas

Rusman

Rusman·27 Januari 2026·5 menit baca

Bagikan
Pancaroba Global — Dunia Kehilangan Kompas

Ngobrol Bareng Ichsanuddin Noorsy: dari Davos ke Gaza, Retaknya Barat, Delegitimasi Mandat Global, dan Transisi Tatanan Internasional

Secara harfiah, pancaroba adalah masa peralihan musim (dari kemarau ke hujan atau sebaliknya). Ini ditandai dengan cuaca tidak menentu, dan banyak angin. Jika dikiaskan pada situasi, dapat diartikan sebagai keadaan serba kalut.

Pancaroba Geopolitik

Tak pelak, pancaroba kini menerjang dunia (geo) politik baik di level global, regional maupun nasional. Kondisinya kalut. Serba tak menentu. Tatanan berbasis atura (rule-base order) sudah ditinggalkan. Tapi tatanan berbasis kekuasaan (power-base order) belum mapan. Selain masih mencari bentuk, praktiknya juga menimbulkan pro kontra di sana-sini. Itu karena kekuasaan disandarkan pada kekuatan. Bukan berdasarkan kesepakatan bersama.

Dan agaknya, kontroversi atas tatanan keteraturan dan tatanan kekuasaan tidak hanya terjadi di konsep dan pidato (WEF 2026, Davos) melalui substansi materi pidato Trump, Carney, dan Macron. Nampak power-base order vs rule-base order bertabrakan. Benturan juga berlangsung pula di level operasional. Di berbagai media sosial Barat muncul pertanyaan, pidato siapa yang terbaik, dan siapa yang sukses meraih simpati publik yang hadir. Trump dianggap sukses karena retorikanya menarik perhatian yang hadir. Bahkan memantik diskusi kalangan intelektual Barat yang tidak hadir. Tentu karena Trump telah “telanjang” menggunakan kekuatan militer untuk memenuhi hasratnya.

Awalnya penempatan militer beberapa anggota NATO di Greenland, dicurigai sebagai false flag operation (operasi bendera palsu). Ini karena NATO merupakan pilar utama yang sejak usai Perang Dunia II turut menopang hegemoni AS — ternyata sinyalir itu keliru. Realitas konflik di internal militer Barat antara AS dan Eropa cq NATO benar-benar terjadi. Barat mulai retak. Carney mengutip pasal 5 aturan dasar NATO. Artinya, Kanada yang didukung Denmark memperoleh dukungan anggota NATO karena salah satu anggota NATO diserang secara militer.

Trump kemudian mengubah cara. Dia bilang AS mau membeli Greenland. Lalu disahuti Greenland tidak dijual. Vestisen anggota parlemen UE mengatakan, fuck off, Trump.

Enam Poin Penolakan NATO

Pun tatkala Trump membentuk Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian guna mengakhiri konflik di Gaza. Meski ia telah mengantongi mandat DK PBB —Resolusi 2803— toch beberapa pentolan NATO (Inggris, Prancis, Swedia, Slovenia, Norwegia, Denmark, Spanyol dan lain-lain) tetap menolak BoP. Ini menjukkan, BoP sekadar bermuatan subjektif Trump dan Netanyahu.

Adapun rangkuman penolakan jajaran NATO terhadap BoP, antara lain adalah sebagai berikut:

(1) BoP adalah ancaman terhadap multilateralisme;

(2) Upaya AS untuk mengendalikan kebijakan internasional;

(3) Ancaman terhadap kemandirian negara-negara kecil;

(4) Cara Trump mengendalikan kebijakan internasional;

(5) Tidak melibatkan Palestina sebagai subjek;

(6) Dianggap merusak hukum internasional, dan lainnya.

Pisau FLUX, bukan lagi analisis VUCA

Di sini, pisau FLUX (Fasting, Liquid, Unchartered, Experimental) benar-benar tepat menggantikan analisis VUCA yang hampir tak lagi dijadikan pedoman para analisis geopolitik. Kecepatan perubahan misalnya, atau mencairnya pakta pertahanan, langkah yang tak terpetakan (merambah kemana-mana). Atau putusan berbasis uji coba cepat dan sebagainya.

Ya. Metode FLUX dapat dijadikan salah satu rujukan guna menganalisis pancaroba di panggung global.

“Aku adalah Dunia”

Setiap pembentukan lembaga internasional hampir pasti menyimpan hidden agenda. Demikian juga dengan BoP bentukan Trump. Niscaya ada agenda tersembunyi yang ingin diraih. Selain terindikasi 6 (enam) poin penolakan jajaran NATO di atas, juga keanehan muncul ketika diikutsertakan Israel di BoP di satu sisi, sementara pada sisi lain — Palestina justru ditinggal. Ini sangat janggal.

Satu lagi kejanggalan, bahwa Trump akan terus menjadi Chairman di BoP meski ia tidak lagi menjadi Presiden AS. Secara filosofis, sepertinya Trump ingin mengatakan:

“Aku adalah dunia; dunia adalah aku”. Atau, Aku adalah Raja.

Pertanyaan selidik yang muncul ialah, “Apa prakiraan hidden agenda dari BoP alias Dewan Perdamaian yang diusung oleh Trump?”

Hidden Agenda Dewan Perdamaian

Ada asumsi liar beredar di kalangan pengkaji geopolitik global:

“Israel adalah AS Kecil, sedangkan AS ialah Israel Besar.”

Sementara, setiap POTUS wajib memegang dogma, AS adalah pemimpin tunggal yang menguasai tatanan global.

Asumsi tersebut, hingga kini terus berputar-putar di langit geopolitik. Yang jelas setiap vonis terhadap Israel di PBB, AS memveto. Mari kita audit berbasis data dan uji narasi.

Masih ingat konsep Israel Raya?

Tak pelak, ini adalah konsep ideologis dan historis yang merujuk pada perluasan kedaulatan Israel ke wilayah lebih luas mencakup Tepi Barat, Jalur Gaza, dan sebagian Yordania, Lebanon, Suriah, Irak, hingga Mesir.

Berbasis data, bahwa kepentingan AS selama ini di Timur Tengah selalu terkait geoekonomi — khususnya energi, stabilitas dolar dan (keamanan) Israel.

Pro kontra gagasan Two-State Solution (solusi dua negara) karena seolah menormalisasi kolonialisme Israel di Palestina, itu patut diduga dalam rangka mengamankan Israel secara eksistensial dengan menggandeng negara non-Barat lainnya. Israel adalah senjata relatif memadai untuk mengendalikan Timur Tengah.

Juga, adanya projek. Connected Gaza — adalah bagian dari megakota yang membentang dari Amman – Tel Aviv melalui Yerusalem, dengan Haifa di utara dan Gaza di selatan, semuanya terhubung melalui infrastruktur, perdagangan, dan spesialisasi, dengan fokus spasial di sekitar empat pusat yang disebut Gateway Gaza, Core Gaza, Wadi Gaza, dan Beach Gaza dan lain-lain.

Dua gagasan di atas seperti menjawab kenapa Gaza diratakan.

Penutup: Tolok Ukur MBO

Singkat kata, jika Israel Raya merupakan tujuan pokok, maka Two-State Solution dan Connected Gaza adalah sasaran antara.

Hal lain yang tak kalah strategis dari dua hal di atas —solusi dua negara dan projek Connected Gaza— bahwa adanya pembangunan Kanal Ben Gurion —ini membelah Gaza— yang kelak mampu menyaingi Teruzan Suez serta rencana eksploitasi minyak gas di Blok Levent Basin (laut yang tepat di depan Gaza) akan berjalan secara mulus.

Dan menurut Management by Objective (MBO), jika sasaran antara telah tercapai maka identik tujuan utama hampir selesai, bahkan dianggap telah tercapai. Tentu rencana mereka boleh bercerita. Kekuasaan Yang Amat Maha Adil yang memutuskanya.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaASEAN Harus Menjadi Kekuatan Nonblok Yang Bebas Dari Pengaruh AS dan TiongkokSelanjutnyaMenlu Sugiono dan Geopolitik Yang Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents