Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Internasional

Konflik Iran-Israel: Momentum IndonesiaMomentum Indonesia Bangkitkan Kembali Semangat KAA 1955

Rusman

Rusman·11 Juli 2025·3 menit baca

Bagikan
Konflik Iran-Israel: Momentum Indonesia Bangkitkan Kembali Semangat KAA 1955

Beberapa poin pandangan Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future

Dalam Diskusi Terbatas Bertajuk “Konflik Israel-Iran terhadap Indonesia: Tantangan, Peluang dan Strategi menghadapi Dinamika Global. Kamis 10 Juli 2025 jam 15 WIB sampai selesai. Di Parle, Senayan.

1. Dalam pandangan AS, Inggris dan Uni Eropa, Iran merupakan mata rantai kekuatan kekuatan glòbal yang sedang bangkit bersama sama Cina, Rusia, berpadu dengan aspirasi negara negara berkembang yang sekarang kita kenal dengan Global South. Maka terbentuknya Shanghai Cooperation Organization (SCO) pada 2001, BRICS pada 2005 dan Forum Kerja Sama Ekonomi Eropa-Asia pada 2015, merupakan buah terciptanya pergeseran geopolitik dari unipolar yang mana AS jadi kekuatan global tunggal, menjadi ragam kutub alias multipolar.

2. Inilah yang meresahkan Barat terutama AS dan Inggris yang merupakan dwitunggal penguasa tatanan global baik di era kolonialisme klasik berbasis merkantilisme maupun kolonialisme modern berbasis kapitalisme korporasi. Sebab dengan adanya SCO. Brics dan forum kerja sama ekonomi asia eropa, negara negara berkembang yang selama ini terlibat konflik abadi seperti Arab Saudi versus Iran, India versus Pakistan, tiba tiba bisa duduk satu meja dan jalin kerja sama multilateral mewujudkan aspirasi negara negara berkembang.

3. Di sinilah konteks kekuatiran AS, blok Barat dan tentunya termasuk Israel, sebagai ujung tombak pelestarian kolonisasi Amerika dan Inggris di Timur Tengah pasca Perang Dunia II, kepada Iran.

4. Selain Iran muncul sebagai mata rantai kekuatan global baru seturut semakin solidnya aliansi strategis Cina-Rusia, ketahanan budaya Iran yang mampu menjelma sebagai ketahanan nasional, di luar perhitungan AS dan kekuatan kekuatan mapan di Barat. Saya suka dengan frase yang digunakan pakar hubungan internasional Dina Sulaeman, Independensi Iran.

5. Bagi Barat utamanya AS, kebangkitan Cina sebagai adidaya baru yang setara dengan Amerika, merupakan disruption berupa gangguan yang bisa mengubah aturan main dalam tata dunia yang mereka kuasai sejak pasca perang dunia II hingga pasca perang dingin. Yang lebih mengkuatirkan lagi, kebangkitan Cina, aliansi strategis Cina-Rusia yang kemudian membuahkan pergeseran geopolitik ke arah multipolar yang memberi ruang alternatif bagi negara negara berkembang, sama sekali tidak mengikuti skema neoliberalisme dan kapitalisme korporasi ala AS dan Barat.

6. Inilah yang kemudian AS berikut Israel sebagai mata tombaknya di Timur Tengah, memandang Iran bukan lagi sebagai disruption atau gangguan, melainkan sebagai ancaman. Maka insiden serangan Israel ke pusat pusat program nuklir Iran di Fordo, Natanz dan Isfahan, tadinya dianggap akan menciptakan efek bola salju di dalam negeri Iran. Ternyata tidak menciptakan efek yang diharapkan. Kondisi nasional Iran malah makin solid. Sebaliknya serangan balik Iran ke Israel, menciptakan rasa ketidakpastian dan kekuatiran di kalangan warga sipil Israel yang sejatinya berasal dari diaspora Yahudi dari kawasan Eropa Barat, Eropa Timur dan Amerika. Yang mana mereka tidak bersenyawa dengan budaya timur tengah. Sehingga tak ada patriotisme untuk hidup dan mati membela wilayahnya seperti Iran.

7. Dalam konstelasi geopolitik internasional seperti ini, pemerintah Indonesia maupun berbagai komponen strategis bangsa, harus berpedoman pada Spirit Konferensi Asia Afrika Bandung 1955 dan KTT Gerakan Nonblok Beograd 1961. Bahwa visi yang mendasari politik luar negeri Bebas Aktif kita sejak 1948 hingga kini adalah Alinea 1 Pembukaan UUD 1945 yaitu nasionalisme anti kolonialisme dan imperialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya. Dan Alinea ke 4 Pembukaan UUD 1945 yang mewajibkan Indonesia sebagai aktor kunci dan pelopor untuk memprakarsai terciptanya perdamaian berdasarkan tatanan dunia yang berkeadilan sosial. Di sinilah pentingnya para pemimpin dan elit strategis bangsa, mengaktualisasikan dan merevitalisakan Politik Luar Negeri Bebas Aktif atas dasar visi nasional dari Alinea 1 dan Alinea 4 Pembukaan UUD 1945 secara imajinatif. Kalau para founding father kita mampu jadi aktor kunci dan pelopor KAA Bandung 1955 maupun Gerakan Nonblok Biograd 1961, mengapa kita sekarang tidak bisa?

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaBenturan di Suriah SelatanSelanjutnyaAktivitas Laboratorium Biologi Militer AS di Luar Negeri Harus Segera Dihentikan

Lainnya di Internasional

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analisis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 Agustus 2026 · 6 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents