About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Skenario Di Atas Skenario

Rusman

Rusman·2 June 2023·3 min read

Share
Skenario Di Atas Skenario
Dongeng Kecil Politik Update Situasi Penggalan video wawancara eksklusif antara Yusuf Wanandi (YW) dengan Rosianna Silalahi (RS) dari Kompas TV terkait politik cukup menarik dan tanpa tedeng aling-aling. YW adalah tokoh di tiga zaman, pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS), dulu pernah jadi think tank Orde Baru. Kenapa wawancaranya menarik, bahwa pointers dialog seperti membuka tabir (hidden agenda) pemilihan presiden (pilpres) 2024 yang tertutupi oleh beragam retorika. Katakanlah, seumpama dinamika politik (praktis) selama ini ialah hal-hal tersurat di atas permukaan, maka poin wawancara dimaksud justru menguak apa yang tersirat —skenario yang dijalankan— di bawah permukaan. Apakah substansi cuplikan dialog antara YW dengan RS? Secara tersirat, YW memberi clue bahwa ‘Koalisi Keberlanjutan’ hanya ingin dua pasangan yang nanti berlaga dalam pilpres. Tidak ada tiga pasangan calon, apalagi empat pasangan. Tak ada. Agaknya, sinyalemen Partai Demokrat melalui Andi Arief mulai nyambung dengan poin dialog YW – RS, bahwa sepertinya hanya ada dua pasangan yang akan bertarung dalam pilpres 2024. Pertanyaan selidik pun muncul, “Siapa dua pasangan yang akan ‘terpilih’ oleh Koalisi Keberlanjutan dari tiga calon presiden (capres) yang sudah beredar di publik?” Kalau boleh jujur mengatakan, di antara tiga capres yang beredar —Prabowo, Ganjar dan Anies— hanya Anies-lah yang mengusung slogan PERUBAHAN, termasuk gabungan partai pengusung (NasDem, Demokrat, PKS) pun menamakan diri Koalisi Perubahan; sedang capres lainnya —Ganjar dan Prabowo— cenderung mengusung KEBERLANJUTAN meski tak diungkap langsung, hanya melalui gimik politik. Intinya, keduanya ingin melanjutkan program strategis Jokowi yang belum tuntas pada dua periode masa jabatannya. Gilirannya, dinamika politik berikutnya terutama pemilihan cawapres menjadi kurang menarik lagi. Kenapa? Jika kemarin orang masih bilang, bahwa penetapan cawapres akan menentukan kemenangan dalam kontestasi 2024; atau, cawapres tidak lagi dianggap ban serep; cawapres bukan patung, dan lainnya. Nah, isyarat YW nyaris mereduksi persepsi publik, bahwa siapapun cawapresnya, hanya ada dua pasangan! Logika intelektual liar berasumsi atas isu serta desas-desus yang berkembang, antara lain: 1) isu pro kontra soal perpanjangan jabatan Ketua KPK menjadi lima tahun; 2) Peninjauan Kembali ke MK atas Partai Demokrat oleh Moeldoko; 3) adanya rumor akan diloloskan sistem proposional tertutup oleh MK berawal dari informasi DI serta menimbulkan kontroversi di publik; dan 4) isu ditetapkannya JGP sebagai tersangka korupsi BTS. Keempat isu di atas, arahnya tak lain adalah bagian yang tidak terpisah dari ‘Skenario Keberlanjutan’ sebagaimana isyarat YW dalam wawancara di Kompas TV. Apakah Skenario Keberlanjutan akan berjalan mulus dan sukses? Tergantung situasi dan kondisi yang berkembang. Bisa berjalan sesuai skenario, namun bisa juga gagal total. Mengapa? Ada dua isu aktual yang mutlak kudu dicermati serta perlu ditelusuri kemana ia bakal berlabuh, yaitu: Pertama, penetapan tersangka JGP oleh Kejagung RI mulai beranak-pinak. Konon babak ini disebut ‘Anoman Obong’. Dengan kata lain, bancaan korupsi BTS/Rp 8 triliun telah menyeret nama beberapa petinggi partai dan sudah tentu ‘membakar’ dua partai besar peserta pemilu yang ikut terseret. Meski isu dimaksud sempat dianggap serius karena disampaikan Prof Mahfud MD, Menko Polhukam dalam press cönference, tetapi akhirnya dibantah sendiri oleh beliau sebab cuma gosip politik; Kedua, kegelisahan Ketum PDI-P Prof (HC) Megawati atas praktik operasional permajelisan (MPR) yang kini setara dengan parlemen/dewan (DPR), sehingga ketika timbul persoalan mendesak, maka upaya penyelesaian berkisar antara diterbitkannya Keppres, ataupun Perppu. Mengapa begitu? Hal itu diakibatkan bahwa MPR kini tidak lagi bisa mengeluarkan Ketetapan/TAP yang bersifat regeling alias mengatur karena status dan kedudukannya —akibat amandemen UUD 1945— berubah menjadi selevel BPK, MK, DPD, dan lain-lain. Ya. MPR kini hanya Lembaga Tinggi, bukan lagi Lembaga Tertinggi Negara. Akibat dua isu aktual tersebut, prakiraan intelektual pun berkelindan di ruang logika publik, bahwa bakal ada ‘Skenario Lain’ di atas ‘Skenario Keberlanjutan’ yang hanya memunculkan skenario tunggal: “Dua pasangan dalam pilpres”. Retorika pamungkas muncul, “Apakah ‘Skenario Lain’ tersebut merupakan penggal implementasi dari Kedaulatan Tuhan yang tengah bekerja melalui caranya sendiri secara senyap?” Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousAntara Investasi Atau Invansi: “Menari Dalam Gendang Yang Ditabuh Asing”NextPergeseran Paradigma Kepemimpinan dari Masa ke Masa (2/Habis)

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents