Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida


Orisinalitas teoretis saya tampak jelas pada keberatan eksplisit saya terhadap pemikiran postrukturalis Jacques Derrida. Saya berargumen bahwa Teori Dekonstruksi Derrida gagal membedakan secara tegas batas epistemologis antara “kontradiksi” dan “paradoks”.
Bagi Derrida, kontradiksi linguistik melahirkan aporia—sebuah titik buntu makna yang tidak terselesaikan dan membiarkan teks hancur di dalam dirinya sendiri.
“Teori Dekonstruksi Derrida tidak sampai kepada perbedaan ‘paradoks’ dan ‘kontradiksi’. Derrida mengotot membahas kontradiksi sebagai oposisi biner atau aporia belaka. Saya mengembangkan paradoks dalam Semiotika saya.”
Bagi saya, paradoks tidak boleh dipandang sebagai kebuntuan destruktif, melainkan sebuah entitas produktif. Paradoks adalah titik pijak dialektis yang justru memicu penjelajahan hermeneutis guna melahirkan sintesis makna yang lebih kaya dan utuh.
5 September 2026
(Narudin Pituin)

Rusman
Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.


