About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Antara Investasi Atau InvansiInvestasi Atau Invansi: “Menari Dalam Gendang Yang Ditabuh Asing”

Rusman

Rusman·5 June 2023·3 min read

Share
Antara Investasi Atau Invansi: “Menari Dalam Gendang Yang Ditabuh Asing”
Cerpen Geopolitik tentang Perang Asimetris Jelang 2024 Tanpa kenal diri serta pengamalan geopolitik negerinya sendiri secara mendalam, sebuah bangsa akan sulit take off, bahkan ‘bingung’ menempatkan Kepentingan Nasionalnya dalam percaturan geopolitik global yang terus berubah dan bergeser (geopolitical shift). Inilah premis atau asumsi dalam cerita pendek (cerpen) bernapas geopolitik. Sudah barang tentu, implikasi (negatif) dari premis di atas pada sebuah bangsa dimaksud, ia bisa tak sadar diri —sekali lagi, tidak sadar— bahwa program dan kebijakan yang dielu-elukan sebagai projek strategis pun, jangan-jangan justru merupakan skema asing —hidden agenda— dalam rangka menguasai/menduduki negerinya secara nirmiliter alias asimetris (Occupation without troops). Atau, ‘sanepo’ yang kerap dilafalkan adalah, “Menari-nari dalam gendang yang ditabuh oleh asing”. Tentu, akibat ketidakpahaman para elitnya soal tren geopolitik. Nah, merujuk clue pada judul cerpen ini, pertanyaannya ialah: 1) apakah para elit kita memahami perbedaan antara investasi asing dan invasi (asing) secara nirmiliter alias asimetris; atau, tahu tetapi pura-pura tidak tahu? 2) apakah para perumus kebijakan negeri ini memahami bedanya komitmen dengan konspirasi; atau, justru sengaja merancukannya? Kenapa demikian, bahwa pengalaman diwaktu VOC ‘meruda paksa’ nusantara cuma lewat kongsi dagang merupakan sejarah pahit di negeri ini, sedang anak bangsa abai antara komitmen dan konspirasi yang dibangun dengan pihak asing. Ya. VOC dulu menyelipkan unsur konspirasi pada komitmen yang dibangun dengan raja-raja nusantara sehingga berujung ‘terjajah’ sampai ratusan tahun. Realitas komitmen ialah sebuah kerja sama berbasis kesepahaman, keterbukaan dan kejujuran guna meraih kepentingan bersama yang lebih besar. Satu ‘dicubit’ maka semua merasa sakit lalu membela/menolongnya; sementara konspirasi cenderung kepada persekongkolan (jahat) demi kepentingan kelompoknya saja. Ada satu tersakiti, atau bangkrut, semua saling menyalahkan bahkan saling tikam. Ada contoh baik di level global maupun lokal, kendati kurang letterlijk. NATO dan Uni Eropa (UE) misalnya, ialah contoh pakta pertahanan dan/atau blok ekonomi yang dibentuk atas dasar prinsip konspirasi. Pakta/blok tersebut tak akan membuat dunia menjadi tempat yang aman, melainkan menghasilkan potensi konflik di masa depan. Menurut Putin, Presiden Rusia, pada Klub Diskusi Internasional di Valdai (2015), dikatakan: “Perusahaan-perusahaan Eropa telah menderita akibat sanksi Amerika Serikat (AS) yang dikenakan pada negara-negara. Jenis kebijakan yang diambil Washington mencerminkan bahwa AS memperlakukan negara lain bukan sebagai sekutu, tetapi seperti pengikut yang sedang dihukum”. Sedangkan contoh di tingkat lokal soal satgas nonstruktural yang berbasis konspirasi, misalnya, Satgassus Merah Putih yang kini telah dibubarkan oleh Kapolri. Memang kurang elok dan tidak apple to apple menyandingkan NATO dengan Satgassus, namun setidaknya hal itulah permisalan paling aktual pada kerja sama berbasis konspirasi. Karenanya, Kepemimpinan Nasional (Pimnas) ke depan seharusnya adalah sosok yang melekat ‘karakter panglima’. Dengan perkataan lain, bahwa karakter panglima itu bukan melulu militer atau mantan tentara, bukan! Sosok Bung Karno adalah contoh sipil namun kental ‘karakter panglima’-nya, atau Djuanda yang konsepnya mampu membidani UNCLOS 1982, ataupun Pak Harto dengan ‘repelita’-nya yang konsepsional lagi visioner, dan lain-lain. Poin inti karakter panglima misalnya, selain paham geopolitik negeri sendiri baik kekuatan, kelemahan, peluang maupun ancaman; konseptual lagi visioner; ia juga mengetahui kecenderungan geopolitik global, lalu mampu memetik momentum demi Kepentingan Nasionalnya. India merupakan contoh aktual terkini. Sebelumnya, ia merupakan negara pengimpor minyak. Namun, tatkala meletus konflik Ukraina (2022), India bisa memanfaatkan momentum (geopolitical leverage) konflik tersebut sehingga kini menjadi negara pengekspor minyak di dunia. Ya. Konflik Ukraina dijadikan key point guna mengubah kelemahan (net oil importer) menjadi kekuatan (net oil exporter). Dan tak bisa dipungkiri, Pimnas India saat ini merupakan sosok visioner yang berkarakter panglima, sebab ia mampu merajut geopolitical leverage untuk Kepentingan Nasionalnya. Di ujung cerpen ini, saya teringat wejangan guru ketika ngaji di kampung tempo lalu, “Le, jika Indonesia mau take off dan menjadi negara hebat, maka ia harus dipimpin ‘sosok panglima’, bukan politisi, tidak kaum akademis, apalagi golongan pedagang!” Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousBencmark: Di Antara Isu Keberlanjutan, Perubahan, dan Jalan TengahNextSkenario Di Atas Skenario

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents