About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Sihir StatistikSihir Statistik Dalam Pilpres

Rusman

Rusman·20 February 2024·4 min read

Share
Sihir Statistik Dalam Pilpres
“Orang-orang yang memberikan vote (suara) tidak menentukan hasil dari Pemilu. Namun, orang-orang yang menghitung vote itulah yang menentukan hasil dari Pemilu” (Joseph Stalin, Pemimpin Uni Soviet) Ada tiga macam kebohongan: “Ngibul, Bohong dan Statistik” (Benyamin Disraeli, mantan PM Britania Raya) Kita mulai catatan ini. Bahwa menyimak dinamika Pemilu 2024, terutama tahapan Pilpres Langsung alias one man one vote, terdapat tiga clue yang mutlak dicermati secara seksama. Kenapa? Tak lain, agar kita waspada serta mampu melihat apa yang sesungguhnya terjadi, bukan cuma ‘emosi’ menonton apa yang terjadi. Minimal, kita bisa memahami hakiki peristiwa secara komprehensif dengan berbekal quotes dari dua tokoh (Stalin dan Disraeli) di atas. Adapun tiga clue dimaksud, antara lain: Pertama, “Berbohong dengan Statistik” (Darell Huff, How to Lie with Statistics, 1954, diterjemahkan oleh J Soetikno & Cristina M. Udiani, Gramedia, 2002); Kedua, “Siapa menguasa algoritma big data, itulah pemenangnya”. Ini dogma para hacker (peretas) yang ditelan tanpa kritik, tanpa selidik; Ketiga, “Politik praktis bukanlah apa yang tersurat, melainkan apa yang tersirat (Pepe Escober, wartawan AsiaTimes, 2007). Meski ketiga clue di atas terbaca jelas, namun hal itu sebatas asumsi penulis guna mengurai catatan ini. Pertanyaannya adalah, “Manakah di antara ketiga clue yang paling urgen dan prioritas?” Kualitas ternyata sama. Sederajat. Saling terkait antara satu dan lainnya. Dan khusus clue ke-2, sekali lagi — itulah doktrin komunitas peretas yang selama ini beroperasi, sekaligus sebagai ‘ruh’ gerakan. Dogma tersebut hidup, berkembang, serta berdaya lagi berperan di dunia hacker dan siber. Lantas, apa yang dimaksud dengan Berbohong dengan Statistik? Barangkali, inilah penyesatan tingkat tinggi. Memanipulasi data dan informasi melalui statistik sebagaimana quote dari Disraeli di atas. Canggih. Publik dibuat capek melihat atraksi angka-angka dan ‘bulkonah’ (bulat, kotak, panah), agar meyakini atraksi statistik sebagai ‘kebenaran’. Istilah lain modus tersebut di dunia praktisi kerap disebut ‘dark number’ alias penggelapan perkara/data. Masuk perkara 100 misalnya, ditulis hanya 10. Yang 90 tidak dilaporkan. Seakan-akan situasi normal, padahal tidak demikian. “Onani”. Menyenangkan diri sendiri. Atau kebalikannya, data riil justru digelembungkan. Angka 87 ditulis 887. Itu salah satu contoh. Dalam Pemilu, tahap sebelum dark number, biasanya diawali survei popularitas, elektabilitas, quick count, exit poll, dan lain-lain. Sebenarnya tahap tersebut cuma bagian dari taktik penggiringan opini. Psy-war. Membentuk opini publik. Upaya menjatuhkan mental dan moral para pihak (lawan politik). Hal-hal di atas, biasanya dilakukan secara terstruktur, bahkan gegap gempita guna menutupi apa yang sesungguhnya terjadi. “Tebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik, maka kebohongan akan menjadi kebenaran“. Itu poin teori propaganda ala Joseph Gobbels, Menteri Propaganda Jerman Raya di era Hitler silam. Namun, hal-hal tersebut di atas baru dari satu sisi pandang. Ada sisi lain yang justru perlu diwaspadai, apa itu? Bahwa di tingkat pusat — sudah dipatok apa yang disebut ‘algoritma rekayasa’. Secara kuantitatif misalnya, sekian persen (%) untuk si Anu, sekian persen buat si Fulan. Atau, kualitatifnya cukup satu putaran, dan seterusnya. Itu penjelasan sepintas soal clue ke-2, siapa menguasai algoritma big data, dia-lah pemenangnya. Dengan demikian, melihat apa yang sesungguhnya terjadi dalam peristiwa politik (praktis) bukan menengok apa yang tersurat, tetapi arahkan pisau kajian terhadap hal-hal tersirat. Di situ, akan terkuak ‘sesuatu dalam sesuatu’, misalnya, di balik kegaduhan di akar rumput, ternyata ada deal alias kompromi di level atas (elit politik). Menutup catatan sederhana ini, sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih urgen daripada narasi di atas, apa misalnya? Ternyata praktik operasional UUD NRI 1945 —kerap disebut UUD 2002— hasil amandemen UUD 1945 Naskah Asli, membuat wajah konstitusi kita sekarang berubah total. 180″. Selain menjadi liberal, individualis dan kapitalistik; mengubur Pancasila selaku norma hukum tertinggi; high cost politics; terlalu gaduh lagi memecah-belah bangsa; juga membuat marak kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Ya, pointers pernyataan ini bukanlah karangan bebas penulis, tetapi bersumber dari kajian Laboratorium Pancasila UGM oleh Prof Kaelan dkk. Maka dari lubuk hati yang paling dalam, mari bertanya kepada masing-masing diri: “Masihkah UUD 2002 ini dipertahankan? Sedangkan kita memiliki konstitusi sendiri yang lebih soft, beradab, selaras dengan local wisdom lagi berbiaya murah, yakni UUD 1945 Naskah Asli rumusan the Founding Fathers yang hingga kini belum pernah dilaksanakan secara murni dan konsekuen oleh orde manapun”. Kalaupun ada kekurangan dan perlu diubah, bukankah penguatan dan penyempurnaan dapat dilakukan melalui teknik adendum? Bukan dengan cara mengobrak-abrik isi Batang Tubuh (97%) sehingga tidak nyambung antara Pembukaan dan Batang Tubuh. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousJika Indonesia Ingin Bergabung Dalam BRICS, Harus Punya Specific TargetNextSaatnya Indonesia Bergabung Dalam BRICS Pada 2024

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Botok: Makanan Tradisional Jawa yang Sederhana tapi Bergizi Tinggi
  2. 02Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  3. 03Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  4. 04Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  5. 05Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents