About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Kalah Dalam Persaingan Geopolitik, AS Mengguncang Kerajaan Sutra dan Petrokimia ChinaPetrokimia China

Hendrajit

Hendrajit·16 June 2026·5 min read

Share
Kalah Dalam Persaingan Geopolitik, AS Mengguncang Kerajaan Sutra dan Petrokimia China

Kalau kita pikir secara seksama, Amerika Serikat (AS) bukan sekadar menganut standar ganda, lebih buruk dari itu, tidak konsisten dengan azas yang mereka promosikan ke seluruh dunia. Katanya dunia internasional harus menganut sistem ekonomi pasar bebas. Kenyataannya, begitu kalah dalam persaingan dagang, AS malah membantin papan caturnya.

Hengli Group, yang dibangun oleh pasangan suami istri selama tiga dekade dari sebuah pabrik tekstil yang bangkrut menjadi raksasa Fortune Global 500 dan salah satu penyuling minyak swasta terbesar di China, secara tiba-tiba jadi korban persaingan antar dua negara adikuasa, AS versus China.

Hengli, perusahaan penyulingan minyak terbesar di Tiongkok yang dikenai sanksi oleh AS. Gara-gara membeli minyak dari Iran, musuh besar negara Paman Sam. Padahal pihak Hengli menyangkal tudingan AS tersebut.

Namun kalau dari awal memang Hengli sudah jadi target utama AS untuk dilumpuhkan, kebenaran sudah tidak penting lagi. Yang jadi pertimbangan Washington untuk melumpuhkan perekonomian China sudah barang tentu karena fakta bahwa Hengli merupakan perusahaan penyulingan minyak terbesar di China. Bulan lalu saja, anak perusahaan Hengli Petrochemical, berhasil mengoperasikan kilang minyak berkapasitas 400.000 barel per hari di kota Dalian di timur laut. Itu baru salah satu anak perusahaannya.

Untuk Data-Data Penting terkait Hengli saya olah dari kantor berita Reuters.

Silahkan Baca:

Hengli, China’s silk-to-petrochemicals empire, faces the chill of US sanctions

Singkat cerita, Hengli bukanlah perusahaan penyulingan kecil-kecilan atau abal-abal. Hengli boleh dibilang masuk kategori pabrik berskala dunia, yang berhasil menyediakan dirinya sebagai fasilitas penyulingan dan Petrokimia secara terintegrasi. Adapun para pendiri Hengli adalah pasangan suami isteri Chen Jianhua dan Fan Hongwei.

Fakta bahwa Hengli yang semula merupakan sebuah pabrik tekstil yang bangkrut menjadi raksasa Fortune Global 500 dan salah satu penyuling minyak swasta terbesar di China, dalam telaah strategis AS sebagai negara adikuasa pesaingnya, pastinnya telah memandang Henglu sebagai sasaran strategis yang dalam perhitungannya akan melumpuhkan perekonomian China secara menyeluruh.

Bagaimana dampak langsung dari penetapan terhadap Hengli oleh oleh Washington?  Unit utama Hengli di luar negeri, sebuah cabang perdagangan  di Singapura yang mempekerjakan sekitar 100 orang, sudah ditutup pada Mei lalu. Apakah ini dampak langsung tersebut cukup signifikan untuk melemahkan perekonomian nasional China? Masih perlu telaah secara lebih mendalam.

Namun terkait kepentingan strategis China dengan Arab Saudi, bisa jadi hal itu bisa berdampak lebih serius. Sebab dengan sanksi ekonomi tersebut, bisa merusak kesepakatan awal antara China dengan perusahaan rakasasa minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco pada 2024.  Dalam kesepakatan tersebut Saudi Aramco akan mengambil 10% saham Hengli Petrochemical.

Namun kalau mengetahui situasi dan konstelasi yang sesungguhnya, Hengli sejatinya fokus bisnisnya tetap di dalam negeri China dan sepenuhnya berada dalam proteksi dari Beijing. Sehingga pada prakteknya tetap beroperasi seperti biasa meskipun ada sanksi ekonomi dan masuk daftar hitam Washington.

Hengli, China's silk-to-petrochemicals empire, faces the chill of US sanctions

Sumber Foto: Colleen Howe and Chen Aizhu 22 Mei 2026. Reuters, Bahkan bukan itu saja. Hengli  menyatakan bahwa mereka akan terus membeli minyak dalam yuan mata uang China – di luar sistem pembayaran dolar.  Bahkan tidak tertutup kemungkinan malah ini semakin menginspirasi negara-negara berkembang untuk menggunakan mata uang lokal untuk keluar dari belenggu ketergantungan pada mata uang dolar.  Baca juga artikel terdahulu saya: 

Dari Globalisasi ke De-Globalisasi, Apa Langkah Strategis Indonesia dan Global South?

Anehnya, kebijakan AS yang menggunakan sanksi ekonomi atau embargo terhadap negara-negara yang membeli minyak ke negara pesaing atau musuh, malah semakin bergantung pada negara yang dijadikan dalih penetapan sanksi.

Sebagai misal, Shandong Yulong Petrochemical, pesaing Hengli, terkena sanksi Inggris dan Eropa karena membeli  minyak dari Rusia. Namun akhirnya Inggris dan Eropa malah semakin bergantung pada minyak mentah Rusia.

Beberapa pelaku usaha memprediksi bahwa Hengli kemungkinan besar juga akan menerapkan kebijakan seperti halnya Shandong Yulong ketika dikenakan sanksi oleh Inggris dan Eropa. Justru malah memutuskan untuk membeli minyak dari Iran.

Hengli, bisa dibilang merupakan salah satu contoh success story China di bidang industri yang patut jadi sumber inspirasi. Pada tahun 2025 lalu, Hengli berhasil membukukan laba sebesar 7,07 miliar yuan ($1,04 miliar) dengan pendapatan sebesar 201 miliar yuan.

Baiklah. Ini memang baru soal angka. Chen Jianhua, kelahiran dari distrik Wujiang, Suzhou,  mulai merintis ekayaan pertamanya dengan berdagang sutra sisa. Mungkin karena nama depannya dalam bahasa China berarti “Membangun China, ” kodrat Chen memang selalu merintis dari awal dan berhasil.  Chen Jianhua pada usia 23 tahun membeli sebuah pabrik tekstil yang bangkrut dengan hanya 27 karyawan, pada 1994. Yang berarti ketika Program 4 Modernisasi China di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping mulai menggeliat dan bangkit dari masa keterpurukannya antara 1960-1980.

Chen Jianhua boleh dikatakan merupakan anak kandung reformasi China era Deng Xiaoping. Betapa tidak. Untuk membantu upaya China dalam mematahkan dominasi asing atas produksi serat sintetis, Hengli milik Chen melakukan ekspansi ke hulu, dan akhirnya memasuki sektor penyulingan yang didominasi negara untuk menjadi produsen petrokimia yang terintegrasi penuh.

Bagi Indonesia, kisah sukses Chen Jianhua dan Hengli, sudah seharusnya menjadi sumber inspirasi kebangkitan perekonomian nasional kita. Dan terutama bagaimana peran sentral negara dalam mendorong keberhasilan pengusaha berbakat seperti Chen Jianhua. Menjadikan Chen Jianhua oleh sebab minat dan bakat khususnya, menjadi salah satu pengusaha berbasis industri papan atas di China.

Ketika Hengli kemudian menjadi contoh bagi jenis baru produsen petrokimia swasta besar yang memproduksi bahan baku untuk membuat plastik dan produk lainnya bagi sektor manufaktur China yang berkembang pesat. Bahkan saat ini Hengli menjadi produsen asam tereftalat murni (PTA) terbesar di dunia, yang digunakan dalam pembuatan serat sintetis.

Industri Berat Hengli  juga berhasil memenangkan pesanan untuk 115 kapal senilai lebih dari 100 miliar yuan, dengan pelanggan termasuk perusahaan pelayaran Yunani, Norwegia, dan Jepang.

Inilah bukti nyata buah keberhasilan Program 4 Modernisasi China yang mulai diluncurkan Deng Xiaoping pada akhir 1970-an. Menyatupadukan sektor Pertanian, Industri, Ilmu-Pengetahuan dan Teknologi, serta Militer-Pertahanan, secara terintegrasi. Yang mana kunci kata kunci buah keberhasilan China sekarang karena bertumpu pada Kemandirian Teknologi dan Keamanan Rantai Pasok.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousPusat Data Menjamur, Masyarakat AS ResahNextAktivitas Bio-Militer AS di Indo-Pasifik Harus Diwaspadai

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents