About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Aktivitas Bio-Militer ASBio-Militer AS di Indo-Pasifik Harus Diwaspadai

Hendrajit

Hendrajit·15 June 2026·8 min read

Share
Aktivitas Bio-Militer AS di Indo-Pasifik Harus Diwaspadai

Program Kimia-Biologi Departemen Pertahanan Amerika Serikat ternyata memiliki Misi Global. Bisakah dikatakan bahwa aktivitas laboratorium biologi-militer merupakan bagian dari Pertahanan Nasional AS yang diperluas sehingga bersifat agresif dan ofensif?

Program Pertahanan Kimia dan Biologi, atau CBDP, dalam alasan resminya, dibentuk untuk menjaga keselamatan prajurit dari penyakit menular dan agen kimia adalah upaya Departemen Pertahanan yang membutuhkan berbagai kemampuan, mulai dari pengawasan biologis global dan respons cepat hingga penanggulangan medis serta kolaborasi antarlembaga dan internasional.

Masalah krusial dari fakta tersebut, mungkinkah hal itu menjadi celah bagi pemerintah AS khususnya Pentago, untuk menghidupkan kembali laboratorium biologis bagi kepentingan strategi pertahanan AS ala NAMRU-2 yang terbongkar aktivitasnya di Indonesia sebagai sarang intelijen Angkatan Laut AS pada 2008?

Untuk itu, perlu disorot secara tajam apa aktivitas sesungguhnya dari the US. Army Medical Research Directorate (USAMRD). Sebab seperti diutarakan melalui salah satu tugas pokoknya, Program Pertahanan Kimia dan Biologi, atau CBDP bertugas  mengkoordinasikan pengembangan alat dan kemampuan yang membantu para prajurit mencegah, melindungi diri dari, menanggapi, dan pulih dari ancaman dan dampak kimia-biologis. Sampai di sini, masih cukup masuk akal, karena program tersebut masih bersifat defensif.

Baca: US bio-labs overseas: Time to open the doors

Namun bagaimana jika Program Pertahanan Kimia dan Biologi beroperasi di bawah naungan Pentagon tersebut kemudian berkembang dan diperluas ruang lingkupnya menjadi program yang bersifat offensif, ketika kemudian Angkatan Bersenjata AS mengadakan aktivitas laboratorium biologi-militer di negara-negara di luar wilayah teritorial AS seperti NAMRU-2 AS?

Dalam konteks inilah, keberadaan USAMRD dalam memfasilitasi pengembangan yang lebih offensif dari program Pertahanan Kimia dan Biologi Pentagon, patut dicermati dan diwaspadai secara lebih mendalam.

Russia has called for a UN Security Council meeting to discuss purported US-backed biological weapons programs in Ukraine.Photo:VCG

usia menyerukan pertemuan Dewan Keamanan PBB untuk membahas dugaan program senjata biologis yang didukung AS di Ukraina. Foto: VCGSebab seperti diutarakan oleh Dr Christian Hassell sebagai wakil menteri pertahanan untuk pertahanan kimia dan biologi yang ditugasi memimpin program ini pada 2016, program tersebut diorganisir sebagai tim fisik dan tim medis tergantung apakah untuk menghadapi ancaman internal atau eksternal.

Dari penyataan Dr Christian Hassel itu terkesan kuat bahwa Program Pertananan Kimian dan Biologi Pentagon tersebut sewaktu-waktu dapat berubah dari bersifat defensif menjadi offensif.

Apalagi alat yang sedang dikembangkan adalah peralatan yang dapat berfungsi pengawasan biologis global menggunakan arsitektur teknis yang mencakup teknologi diagnostik, deteksi, manajemen informasi, dan analitik canggih. Berdasarkan fakta tersebut, sangatlah potensial untuk membuat senjata kimia-biologis dalam pelbagai jenis.

Mengapa USAMRD penting untuk disorot? Sebab sebagai Direktorat Penelitian Medis Angkatan Darat Amerika Serikat, merupakan Kegiatan Luar Negeri Khusus dari Institut Penelitian Angkatan Darat.

USAMRIID atau bisa juga Institut Penelitian Medis Penyakit Menular Angkatan Darat Amerika Serikat ( USAMRIID), merupakan lembaga dan fasilitas utama Angkatan Darat AS untuk Penelitian Pertahanan dalam penanggulangan Perang Biologis, bermarkas di Fort Detrick, Maryland, tidak jauh dari Washington DC. Yang krusial adalah, USAMRIID juga berlokasi di luar Amerika Serikat seperti di kawasan Afrika dan Indo-Pasifik atau Asia Pasifik dalam perspektif geopolitik negara-negara yang berada di kawasan Asia.

Baca juga:

Jejak Misterius Penelitian Militer Amerika di Indonesia

Keberadaan USAMRIID di Afrika, Indo-Pasifik dan bisa jadi kemudian berkembang di pelbagai kawasan lainnya, sangatlah rawan mengingat fakta bahwa beberapa laboratorium biologi militernya telah dilengkapi peralatan-peralatan untuk mempelajari virus-virus yang sangat berbahaya untuk Keamanan Hayati.

Apalagi ketika USAMARIID berfokus dalam riset penyakit menular, pengawasan terhadap kesehatan masyarakat (public health), dan pertahanan kesehatan untuk menghadapi ancaman-ancaman biologis.

Memang kalau kita merujuk pada kasus timbulnya wabah Ebola di Afrika Barat, USAMARIID mengklaim hanya sebatas menguji  vaksin tiga strain yang mengandung strain Ebola Zaire yang menyebabkan wabah di Afrika Barat, strain virus Ebola Sudan, dan virus Marburg, virus mematikan lainnya dalam kelompok filovirus yang sama dengan Ebola.

Namun dalam aktivitas Disease Surveillance, atau pengawasan terhadap penyakit menular yang mencakup beberapa aktivitas yang berpotensi digunakan sebagai operasi intelijen. Seperti melalui monitoring(pemantauan), deteksi, dan pemetaan terhadap penyebaran patogen seperti Ebola, Marburg, Malaria, dan Zika. Pihak Pentagon dengan mudah dapat berdalih bahwa aktivitas tersebut bertujuan untuk melindungi dan menyelamatkan para personil militer yang dikerahkan ke pelbagai negara yang mengoperasikan USAMARIID, maupun Komunitas Global.

Baca:

US criticized for clandestine bio-military activities

Modus Operandi lainnya yang bisa digunakan sebagai sarana terselubung aktivitas bio-military AS adalah melalui Medical Counter Measure Development (pengembangan penanggulangan medis).   Istilah ini merujuk pada proses riset, pengujian, dan produksi produk-produk kesehatan (seperti vaksin, obat antivirus/antibiotik, dan alat diagnostik) yang digunakan untuk mendiagnosis, mencegah, atau mengobati penyakit dalam kondisi darurat kesehatan masyarakat (seperti pandemi atau serangan agen biologis).

Nah, justru di sinilah segi rawannya. Frase kata yang dipakai “Pencegahan Penyakit dalam Kondisi Darurat Kesehatan yang mencakup adanya serangan agen biologis,” merupakan formulasi yang berpotensi untu dimanipulasi untuk pengembangan program-program kesehatan yang bersifat ofensif terhadap negara-negara lain di luar wilayah kedaulatan AS.

Selain itu melalui aktivitas Medical Countermeasure Development berupa penelitian dan tes uji coba vaksin, diagnostic, dan proses penyembuhan-pemulihan-pengobatan (therapeutic) terhadap penyakit menular di negara-negara beriklim tropis, juga sangat rawan digunakan sebagai aktivitas bio-militer AS yang berada dalam kendali Pentagon.

Dan seiring dengan itu, keberadaan laboratorium biologis-kimia militer dapat merekrut para agen-agen proksi di negara-negara mana USAMARDII beroperasi, melalui proyek Biosecurity Capacity Building. Sebuah proyek kegiatan dalam upaya sistematis untuk memperkuat ketrampilan, pengetahuan, dan sistem suatu organisasi atau negara agar mampu mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman biologis seperti patogen dan penyakit menular.

Sebab melalui skema proyek kegiatan Biosecurity Capacity Building, Pentagon di negara mana USAMARDII beroperasi dapat bermitra dengan kementerian kesehatan dengan dalih untuk meningkatkan standardisasi laboratorium untuk keselamatan dan perlindungan dari ancaman biologis seperti patogen dan penyakit menular. Selain dengan dalih untuk aktivitas pengembangan kemampuan diagnostik, maupun dalam merespon munculnya wabah penyakit.

Namun seturut terbongkarnya Laboratorium bio-militer NAMRU-2 AS pada 2008 lalu, misi dan keberadaan sesungguhnya laboratorium biologi militer, termasuk yang saat ini berada dalam naungan Angkatan Darat AS dan Pentagon, menjadi kontrovesial. Mengundang pro dan kontra.

Pemerintah AS mengklaim bahwa fasilitas-fasilitas tersebut murni bersifat defensif, transparan (terbuka), dan beroperasi sesuai dengan perjanjian internasional dengan negara tuan rumah, yang mana laboratorium bio-militer tersebut beroperasi. Pemerintah AS pun mengklaim bahwa semua aktivitas biologis yang berada dalam naungan Pentagon terikat secara hukum atau legally bound kepada the Biological Weapons Convention (BWC). Yang mana BWC telah melarang pengembangan, produksi dan penyimpanan agen-agen biologis sebagai peralatan untuk perang atau operasi militer.

Jejak-jejak aktivitas laboratorium  bio-militer ala NAMRU-2 AS inilah yang kemudian memicu ketegangan geopolitik antar-negara. China dan Rusia sudah berulangkali melayangkan pengaduan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menengarai adanya lokasi-lokasi yang secara rahasia digunakan untuk membangun senjata biologis yang sangat berbahaya.

Pada 2023 lalu, misalnya, aktivitas bio-militer AS di luar negeri, sempat masuk dalam sorotan Dewan Keamanan PBB, khususnya terkait  laboratorium biologinya di Ukraina. Begitu pula China, beberapa analisnya mengatakan kecurigaan telah lama muncul mengenai asal-usul COVID-19 di laboratorium AS di dalam dan luar negeri, yang gagal dijelaskan oleh AS, dan kredibilitas AS semakin terkikis karena tidak mengakui penelitiannya di Ukraina tetapi malah merilis informasi yang membingungkan. Mereka mendesak AS untuk memberikan penjelasan yang terbuka dan transparan kepada dunia.

Baca: US urged to come clean on bio-military activities as outcry grows after its ‘confusing, contradictory’ responses

Juga, yang tak kalah penting untuk dijelaskan oleh pemerintah AS,  indikasi adanya upaya yang secara selektif menargetkan   susunan genetik unik atau varian DNA ( Ethnic genotype) yang secara statistik lebih sering ditemukan pada kelompok etnis (bangsa atau suku bangsa) tertentu. Ini mencakup kombinasi gen yang diwariskan dari leluhur dan dipengaruhi oleh asal-usul geografis populasi tersebut. Bukankah hal ini secara potensial berbahaya jika kegiatan itu didasari motif-motif geopolitik?

Memang benar pemerintah AS dan negara-negara sekutunya mengklaim bahwa kerja sama pengoperasian laboratorium-laboratorium bio-militer yang berada di bawah Angkatan Darat dan Pentagon hanya dirancang untuk mencegah penyebaran penyakit yang muncul dan menyebar secara alami pada populasi manusia dan hewat, tanpa adanya campur tangan manusia (seperti rekayasa genetika atau senjata biologis), dan mencegah adanya terorisme  biologis (bio-terrorism).

Sayangnya, hingga kini klaim pemerintah AS tersebut tidak disertai dengan menyajikan data-data yang kuat, valid dan meyakinkan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Ibu Siti Fadilah Supari, untuk menghentikan kegiatan  Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) di Indonesia sejak Oktober 2009, merupakan bukti nyata bahwa aktivitas laboratorium bio-military AS di luar negeri yang mengancam kedaulatan nasional suatu negara bukan sekadar omong kosong atau halusinasi belaka. Bahkan dalam kasus Indonesia, seperti diutarakan Ibu Supari, keberadaan NAMRU-2 AS telah mengganggu kedaulatan nasional Indonesia.

Namun seperti dilansir oleh situs berita detikcom terbitan Selasa, 12 April 2022, pada 2016, muncul kembali penelitian oleh tentara Angkatan Laut Amerika Serikat di Indonesia yang diduga ilegal. Berdasarkan dokumen yang diperoleh detikcom berupa nota dinas Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan. Isinya, menemukan adanya aktivitas ilegal yang dilakukan tenaga medis tentara Angkatan Laut Amerika Serikat. Tindakan terlarang itu terselip dalam agenda Pacific Partnership 2016, yang digelar 16-31 Agustus 2016 di Kota Padang, Sumatera Barat.

Penelisikan detikcom selanjutnya, Pacific Partnership 2016 merupakan misi kemanusiaan dan persiapan tanggap bencana multilateral tahunan terbesar yang dilakukan di Indo-Asia-Pasifik. Mereka membawa kapal Angkatan Laut Amerika Serikat (USNS) Mercy (T-AH-19). Saat merapat di Padang, tenaga medis mereka memberikan pelayanan medis berupa operasi terhadap 23 pasien di kapal tersebut. Tindakan tersebut tanpa koordinasi dengan Kementerian Kesehatan.

Selain itu, Angkatan Laut Amerika Serikat kedapatan membawa tiga anjing di Padang yang terjangkit rabies. Ini dilakukan tanpa izin ke pemerintah Indonesia. Padang merupakan daerah endemik virus rabies dengan populasi hewan penular tertinggi di Sumatera Barat.

Temuan lain, bukan hanya operasi, tenaga medis Angkatan Laut Amerika Serikat juga mengambil sampel puluhan pasien secara rahasia.

Kesimpulan dalam lembaran dokumen tersebut: tentara Amerika Serikat telah melakukan pelanggaran undang-undang dan peraturan di Indonesia. Tindakan mereka membahayakan Indonesia dan harus diberi peringatan.

Terlepas data tersebut masih harus didalami dan diverifikasi validitas dan soliditasnya, namun disebut-sebutnya kawasan Indo-Pasifik, kiranya harus diwaspadai sebagai lonceng tanda bahaya. Bahwa aktivitas laboratorium bio-militer ala NAMRU-2 AS, sudah seharusnya dipantau dan dicermati dengan penuh kewaspadaan.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousKalah Dalam Persaingan Geopolitik, AS Mengguncang Kerajaan Sutra dan Petrokimia ChinaNextKerja Sama Strategis Indonesia-Rusia Dalam Bidang Pertanian, Alternatif Terhadap Pemasok Tradisional Blok-Barat

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents