About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Politics & Security

Antara Fleksibilitas PolitikPolitik dan Kepastian Institusional

Rusman

Rusman·12 September 2026·3 min read

Share
Antara Fleksibilitas Politik dan Kepastian Institusional

Oleh: Kolier L. Haryanto, pemerhati hukum-ekonomi dan pemerintahan

Melalui tulisannya di Orbit Indonesia, Bung Satrio Arismunandar mengajukan sebuah tesis yang menarik: bahwa ketika visi besar berhadapan dengan realitas lapangan, seorang pemimpin memerlukan “kepemimpinan korektif”. Ia menyandingkan dinamika ini dengan pengalaman Barack Obama di AS atau David Cameron di Inggris, untuk menunjukkan bahwa koreksi bukanlah tanda kekalahan, melainkan bagian dari kedewasaan politik.

Sebagai sesama pengamat kebijakan publik, saya menemukan poin ini sangat relevan. Dalam teori administrasi publik modern, kemampuan untuk beradaptasi (adaptive governance) memang menjadi indikator utama ketahanan sebuah rezim. Namun, agar konsep “kepemimpinan korektif” ini tidak sekadar menjadi narasi pembenaran (justification narrative), ia perlu diperdalam dengan beberapa catatan kritis dari perspektif hukum, ekonomi, dan kelembagaan.

Pertama, Koreksi Harus Berbasis Bukti, Bukan Sekadar Impuls Politik.

Michael Barber, dalam bukunya How to Run A Government (2015), membedakan antara “koreksi strategis” dan “improvisasi reaktif”. Agar kepemimpinan korektif diterima secara akademis dan publik, perubahan arah kebijakan harus didasarkan pada data empiris yang kuat (evidence-based policy), bukan karena tekanan sesaat atau kesalahan perhitungan awal yang seharusnya bisa dihindari.

Jika Presiden Prabowo melakukan koreksi terhadap Program Strategis Nasional (PSN), hal itu akan dianggap sebagai kekuatan jika disertai dengan transparansi data: mengapa rencana A tidak lagi efektif, dan mengapa rencana B lebih unggul. Tanpa transparansi data yang dapat diakses publik, koreksi berisiko dicap sebagai inkonsistensi politik yang melemahkan kepercayaan pasar dan birokrasi.

Kedua, Menjaga Asas Kepastian Hukum di Tengah Perubahan.

Dari kacamata hukum tata negara, Jeremy Waldron dalam The Rule of Law and the Measure of Property (2012) mengingatkan kita tentang pentingnya legitimate expectations (ekspektasi yang sah), yakni kepercayaan publik bahwa janji negara akan ditepati. Ketika negara mengumumkan sebuah program, warga negara dan pelaku usaha membuat perencanaan berdasarkan janji tersebut.

Kepemimpinan korektif yang bijak harus menghormati prinsip kepastian hukum. Artinya, setiap perubahan kebijakan harus memiliki mekanisme transisi yang adil dan perlindungan bagi pihak-pihak yang sudah terlanjur berinvestasi atau bersiap. Jika tidak, koreksi bisa berubah menjadi sumber ketidakpastian hukum yang justru menghambat iklim investasi dan keadilan sosial. Di sinilah letak seni memimpin: menyeimbangkan kebutuhan untuk memperbaiki arah dengan kewajiban untuk menjaga komitmen konstitusional.

Ketiga, Efisiensi Biaya Transisi dalam Perspektif Ekonomi.

Daron Acemoglu dan Simon Johnson dalam Power and Progress (2023) menekankan bahwa institusi yang konsisten adalah kunci pertumbuhan jangka panjang. Setiap “koreksi” memiliki biaya transaksi (transaction cost) yang tidak kecil. Ada biaya pembatalan, biaya negosiasi ulang, dan biaya sosial akibat kebingungan publik.

Oleh karena itu, kepemimpinan korektif harus dihitung secara ekonomis. Apakah manfaat dari koreksi tersebut lebih besar daripada biaya yang harus dikeluarkan untuk mengubah arah kapal? Jika jawabannya ya, maka itu adalah keputusan strategis. Jika tidak, maka itu hanyalah pemborosan sumber daya negara. Perbandingan dengan Obama atau Cameron menjadi relevan jika kita melihat bagaimana mereka melakukan cost-benefit analysis yang ketat sebelum mengubah kebijakan besar seperti Obamacare atau Austerity Measures.

Menuju Sintesis yang Lebih Kuat

Gagasan Bung Satrio tentang kepemimpinan korektif adalah kontribusi yang penting untuk mendinamiskan diskusi publik. Ia mengingatkan kita bahwa pemimpin tidak boleh kaku. Namun, sebagai akademisi, kita perlu menambahkan lapisan kedalaman: bahwa koreksi tersebut haruslah terukur, terlembaga, dan bertanggung jawab.

Kepemimpinan korektif bukan berarti menyerah pada kenyataan, melainkan menguasai kenyataan dengan instrumen negara yang tepat. Ia membutuhkan sinergi antara intuisi politik pemimpin, rigor analisis birokrasi, dan kepatuhan pada rambu-rambu hukum.

Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh pemerintahan saat ini tidak hanya dilihat sebagai “perubahan haluan”, tetapi sebagai proses pembelajaran institusional (institutional learning) yang matang. Inilah esensi sejati dari negara kesejahteraan yang adaptif: mampu bergerak cepat, namun tetap berdiri kokoh di atas fondasi kepastian dan keadilan.

Referensi:

1. Barber, M. (2015). How to Run a Government: So That Citizens Benefit and Taxpayers Don’t Go Crazy. Penguin Books.
2. Waldron, J. (2012). The Rule of Law and the Measure of Property. Cambridge University Press.
3. Acemoglu, D., & Johnson, S. (2023). Power and Progress: Our Thousand-Year Struggle Over Technology and Prosperity. PublicAffairs.
4. Hood, C. (2018). The Blame Game: Explaining the Politics of Responsibility. Princeton University Press.

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

NextPilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis

More in Politics & Security

View all
Pilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis
Analysis

Pilpres 2029Pilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis

9 June 2026 · 3 min read

Untuk Mencegah Masuk Perangkap Orbit AS atau Cina, Saatnya Indonesia Memprakarsai Non-Aligned Cyber Diplomacy
Analysis

Untuk Mencegah Masuk Perangkap Orbit AS atau Cina, Saatnya Indonesia Memprakarsai Non-Aligned Cyber DiplomacyNon-Aligned Cyber Diplomacy

1 May 2026 · 9 min read

Kebijakan Industrialisasi Hilir Indonesia: Kontra Skema Mengakhiri Skema Neokolonialisme AS di Indonesia
Analysis

Kebijakan Industrialisasi Hilir Indonesia: Kontra Skema Mengakhiri Skema NeokolonialismeSkema Neokolonialisme AS di Indonesia

29 April 2026 · 12 min read

Most Read

  1. 01Antara Fleksibilitas Politik dan Kepastian Institusional
  2. 02Airlangga Pribadi Kusman: Ketika Intelektual Memilih Berdiri di Sisi Republik
  3. 03Strategi Indo-Pasifik Amerika Serikat, Apa Agenda Strategis Australia?
  4. 04Botok: Makanan Tradisional Jawa yang Sederhana tapi Bergizi Tinggi
  5. 05Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents