Botok: Makanan Tradisional Jawa yang Sederhana tapi Bergizi Tinggi


Mbok ya milih menu makan MBG itu yang kreatif dan inovatif, jangan yang itu itu saja. Mustika rasa nusantara itu kan kaya dan beragam. Antara lain Botok. Salah saru menu yang mulai hilang dari ingatan kolektif masyarakat.
Botok adalah makanan khas Jawa yang terbuat dari bahan utama parutan kelapa muda dicampur aneka lauk, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Rasanya gurih, aromanya khas, dan proses masaknya 100% alami tanpa pengawet.
Di desa-desa Jawa Tengah dan Jawa Timur, botok udah jadi “lauk sejuta umat” sejak dulu. Murah, ngenyangin, dan bisa buat bekal ke sawah.
1. Isi Botok itu Apa Saja?
Isian botok fleksibel, tergantung daerah dan selera. Yang umum:
– Bahan utama: Kelapa parut muda
– Lauk: Ikan teri, ikan pindang suwir, tempe, tahu, udang, atau telur puyuh
– Sayur: Daun singkong, daun kenikir, jantung pisang, atau pepaya muda
– Bumbu: Bawang merah, bawang putih, cabai, kencur, ketumbar, gula merah, garam, dan daun salam
Semua diaduk jadi satu. Rasanya: gurih dari kelapa + pedas + ada segarnya dari daun-daunan.
2. Bungkus dan Cara Membuatnya
Ciri khas botok = dibungkus daun pisang. Fungsinya biar aroma daun pisang masuk ke masakan pas dikukus.
Cara buat sederhana:
1. Campur semua bahan: Kelapa parut + lauk + sayur + bumbu halus. Aduk rata, koreksi rasa.
2. Bungkus: Ambil 2-3 sendok adonan, letakkan di atas daun pisang yang sudah dilayukan di atas api biar lentur. Bungkus bentuk persegi panjang, semat dengan lidi.
3. Kukus: Kukus selama 30-45 menit sampai matang dan daunnya berubah warna.
4. Siap Saji: Botok paling enak dimakan hangat.
3. Cara Makannya
Makan botok paling pas dengan nasi hangat + sambal + kerupuk. Buka bungkus daun pisangnya, cium dulu aromanya. Terus penyet sama nasi. Kuah dari kelapa dan bumbu meresap ke nasi. Rasanya nampol banget.
Di kampung, botok juga sering jadi bekal ke ladang karena tahan 1 hari.
4. Coocok Gak Buat Program MBG?
Sangat cocok. Alasannya:
1. Bergizi seimbang: Ada karbohidrat dari nasi, protein dari ikan/tempe/telur, serat dan vitamin dari sayur + kelapa, lemak baik dari kelapa.
2. Ekonomis: Bahan lokal, murah, mudah didapat di pasar/tani. 1 bungkus bisa Rp 3.000 – Rp 5.000
3. Praktis dan Higienis: Bungkus daun pisang ramah lingkungan, tidak perlu plastik. Tahan lama dan aman dibawa.
4. Edukasi budaya: Anak-anak jadi kenal makanan leluhur, bukan cuma nugget dan sosis.
5. Tanpa pengawet: Dikukus, jadi lebih sehat untuk anak sekolah.
Catatan untuk MBG: Variasikan isi botoknya tiap hari. Senin botok tempe, Selasa botok ikan, Rabu botok telur. Biar anak nggak bosen.
Kesimpulan:
Botok itu bukan cuma makanan. Dia simbol kearifan lokal Jawa: memanfaatkan yang ada di kebun, masak sederhana, bergizi, dan mengenyangkan. Kalau masuk MBG, ini bisa jadi “lauk kebanggaan daerah”.
Penulis: Kordinator AMPB (Aliansi Masyarakat Pembuat Botok) Jakarta

Rusman
Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.


