Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Amerika Latin

Apakah Etos Kejuangan Simon Bolivar dan Hugo Chavez Masih Hidup Dalam Sanubari Rakyat VenezuelaRakyat Venezuela?

Hendrajit

Hendrajit·4 Januari 2026·3 menit baca

Bagikan
Apakah Etos Kejuangan Simon Bolivar dan Hugo Chavez Masih Hidup Dalam Sanubari Rakyat Venezuela?
Aksi gangster-gangsteran ala Presiden Donald Trump bisa dipastikan akan menuai kecaman dunia internasional. Bahkan yang berasal dari kalangan di di negeri Amerika Serikat itu sendiri. Tapi buat Venezuela, perkembangan menyusul penangkapan Presiden Nicholas Maduro  bisa jadi malah akan menjadi batu ujian yang melampaui  soal  Nicholas Maduro semata. Namun jauh lebih fundamental karena ini menyangkut etos kejuangan rakyat Venezuela sendiri. Apakah sosok mendiang Presiden Hugo Chavez dan bapak bangsa Venezuela, Simon Bolivar, sejatinya masih tetap hidup dalam hati sanubari rakyat Venezuela? Potret Simon Bolivar - Bebas Royalti Simon Bolivar ilustrasi stok Simon Bolivar, Bapak Bangsa Venezuela. Semasa hidup, Hugo Chavez pernah punya sebuah buku yang sangat mempengaruhi jalan hidupnya kelak sebagai pejuang maupun negarawan. Entah saat sedang jaya apalagi saat sedang terpuruk. Buku itu karya Lucas Estrella Schulz, penulis asal Agentina. Buku itu bertajuk Path of the Warrior. Apa yang bikin Chavez kesengsem.banget buku itu? Rupanya ada ungkapan Estrella yang buat Chavez seakan petuah yang secara langsung ditujukan kepada dirinya Chavez sendiri: “Pejuang, ketika anda memenangkan sebuah pertempuran, jangan membuang waktu untuk menyarungkan pedang anda. Karena esok hari akan mengantarkan lebih banyak perang.” Buat Chavez yang sudah banyak baca buku buku berat tentang sejarah, teori perang dan teori politik, sejak masih menempuh pendidikan di akademi militer, kalimat Esterrla seakan mengingatkan dirinya bahwa kalah dalam pertempuran belum tentu kalah dalam peperangan. Bahkan kalah tempur justru bisa membuka jalan menuju kemenangan dalam perang. Buat Chavez buku itu mengilhami dirinya pada 1992 ketika upaya percobaan kudeta Letkol Hugi Chavez terhadap presiden Perez gagal. Chavez masuk bui dan dipecat sebagai tentara. Kalah dalam pertemluran. Namun 1998, Chavez setelah jadi orang bebas dan warga sipil, ikut pilpres dan menang 56 persen suara. Pada 1992 Chavez kalah dalam pertempuran. Namun pada 1998, Chavez memenangkan  peperangan. Apakah pengetahuan dan kebijaksanaan yang tertanam dalam jiwa Chavez seperti tersurat dalam buku Esterella itu masih hidup dalam jiwa kolektif rakyat Venezuela maupun para pemimpinnya? Kalau masih, berarti   Chavez yang oleh rakyat klas bawah Venezuela dipandang  sebagai personifikasi dan reinkarnasi Simon Bolivar, Bapak Bangsa Venezuela yang selain berhasil mengusir Spanyol, juga nyaris menyatukan negara-negara di kawasan Amerika Latin, tradisi perlawanan rakyat terhadap negara-negara asing, tak akan begitu cepat padam hanya gara-gara Nicholas Maduro ditangkap oleh pemerintah AS melalui “Operasi Absolute Resolve. Kalau menyelisik kesejarahanya, Venezuela punya tradisi perlawanan yang gigih dan  kuat terhadap kekuatan asing sejak era Simon Bolivar hingga Hugo Chavez. Pada 2008 Presiden George W. Bush  pernah coba coba mengkudeta Chavez,  namun dalam dua hari Chavez berhasil berkuasa kembali berkat kontra aksi yang dimotori Lingkaran Bolivarian yang jadi inti kekuatan akar rumput Chavez sejak memenangi Pemilu Presiden pada 1998.

Waktu yang akan menjawab, apakah penangkapan Maduro merupakan akhir atau justru awal dari kebangkitan rakyat Venezuela terhadap intervensi kekuatan asing ke bumi Venezuela. Dugaan terbaik saya, ini akan jadi permainan yang panjang. Mengingat Venezuela bukan Kolombia, Meksiko atau Costa Rica, yang begitu mudah tunduk pada tekanan pemerintah AS.  Terlepas nasib sial Maduro Sabtu lalu, dan bukan tandingan Chavez dalam hal kharisma kepemimpinan, namun perlakuan yang hina dina terhadap pemimpin Venezuela ini, malah bisa memantik perlawanan massif rakyat Venezuela dan negara-negara Amerika Latin pada umumnya. 

Inilah titik buta alias blind spot yang bisa jadi luput dari perhatian tim strategis Trump ketika menyusun skenario  aksi gangstet-gangsteran ala Trump yang di bawah payung Operasi Absolute Resolve. Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaPernyataan: Republik Bolivarian VenezuelaSelanjutnyaReaktualisasi Sosialisme Pasca Penyatuan Vietnam, Investasi Asing Jadi Sarana Kebangkitan Nasional

Lainnya di Internasional

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analisis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 Agustus 2026 · 6 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents