Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Ukraina Hanya Mempolitisasi IslamMempolitisasi Islam Untuk Galang Dukungan Politik dan Dana Dari Negara-Negara Muslim

Hendrajit

Hendrajit·15 Maret 2024·4 menit baca

Bagikan
Ukraina Hanya Mempolitisasi Islam Untuk Galang Dukungan Politik dan Dana Dari Negara-Negara Muslim

Saat kita menyorot konflik Rusia versus Ukraina, keberadaan suku Tatar Muslim sepertinya luput dari telaah mendalam kalangan jurnalis maupun ilmuwan. Padahal Suku Tatar Krimea merupakan penduduk asli yang bermukim di Krimea tersebut, berlokasi di Ukraina Timur.

Sewaktu Tatar Muslim Krimea ini masih bergabung dalam wilayah kedaulatan Ukraina, dan belum bergabung kembali ke dalam Republik Federasi Rusia Pasca Referendum 2014 lalu, pemerintah Ukraina sama sekali tidak punya itikad baik untuk memenuhi aspirasi warga Tatar Muslim terkait dengan identitas budaya dan jatidiri yang melekat pada suku Tatar Muslim tersebut, tetap melestarikan penggunaan bahasa Tatar. Justru pada saat bergabung dengan Republik Federasi Rusia, Bahasa Krimea Tatar dijadikan bahasa resmi di Krimea Timur.

Sebagai Suku Tatar Muslim Krimea, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang berasal dari cabang Kipchak atau singkatnya masih dekat dengan bahasa Turki. Adapun mayoritas penduduknya beragama Islam.

Mengapa saya katakan pemerintah Ukraina tidak peduli dengan aspirasi sosial-budaya Suku Tatar Muslim Krimea? Berdasarkan penelisikan pustaka, Tatar Krimea sebenarnya sudah lama berjuang untuk mencapai status formal sebagai masyarakat adat. Memang awalnya parlemen Ukraina mengadopsi resolusi yang menetapkan Tatar Krimea sebagai masyarakat adat.

Namun pemerintah Ukraina tidak pernah memberlakukan undang-undang nasional mengenai masyarakat adat hingga Tatar Muslim Krimea akhirnya bergabung dengan Rusia Pasca Referendum 2014 sebagaimana dijanjikan semula. Bahkan sebagai Rancangan Undang-Undang yang mengakui yang mengakui sejumlah besar masyarakat Krimea seperti Karaiete Krimea maupun Krymchaks sebagai masyarakat adat, pemerintah Ukraina pun juga ingkar janji. Sehingga Rancangan Undang-Undang tersebut pun akhirnya gagal diadopsi jadi Undang-Undang oleh Parlemen Ukraina pada Juni 2015 lalu.

Maka dari situ dapat kita simpulkan bahwa Ukraina hanya berniat untuk membentuk Negara Mono-Nasional, dan sama sekali tidak mau membentuk Negara Ukraina berbasis multi-etnik atau ragam suku. Sehingga suku-suku lainnya secara sengaja diabaikan.

Baca: Tatar Krimea di Ukraina

Sebaliknya, ketika Ukraina menyusun pasukan militer yang cukup kuat dan ganas untuk menghadapi pasukan militer Rusia, pemerintah Ukraina malah mengerahkan personil-personil militer dari Suku Tatar Krimea di gari depan, sebagai tumbal bagi pasukan militer Ukraina.

Dalam kaitannya dengan penduduk Tatar Muslim Krimea yang mayoritas beragama Islam yang semula terintegrasi dengan kedaulatan pemerintah Ukraina, pemerintah Ukraina pada kenyataannya hanya bermaksud mempolitisasi kesamaan agama Suku Tatar Krimea yang beragama Islam untuk mendapatkan dukungan politik dari negara-negara berpenduduk Muslim seperti Indonesia maupun negara-negara Muslim dari kawasan Asia, Afrika, dan Timur-Tengah. Untuk memperoleh dukungan internasional membatalkan Referendum bergabungnya kembali Ukraina Timur yang mana Suku Tatar Muslim Krimea bermukim.

Baca: Dubes Ukraina Berharap Indonesia Peduli Nasib Muslim Tatar Krimea

Namun seperti saya kemukakan tadi, Islam hanya dijadikan isu politik oleh pemerintah Ukraina untuk menggalang dukungan dan simpati negara-negara berpenduduk Muslim, yang mana tujuan sesungguhnya adalah mendorong aksi-aksi separatisme Suku Tatar Muslim Krimea yang bermukim di wilayah Ukraina Timur, bergabung kembali dengan Ukraina dan melepaskan diri dari Rusia.

Tapi anehnya ketika pemerintah Ukraina berupaya mempolitisasi Islam untuk menggalang dukungan dan simpati negara-negara berpenduduk Muslim, Majelis Tatar Krimea yang dibentuk dan dibina oleh aparat-aparat birokrasi pemerintahan Ukraina, dalam menyikapi kasus serangan Israel ke Gaza, malah mendukung aksi militer Israel. Sehingga ini merupakan penghianatan terhadap Perjuangan Rakyat Palestina. Sebab  semua negara berpenduduk Muslim di seluruh dunia mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Dengan demikian sikap double standard pemerintah Ukraina tersebut bukan didasaari kesungguhan dan ketulusan dalam membela Islam dan mendukung status Suku Tatar Krimea sebagai masyarakat adat. Melainkan semata-mata mengangkat isu agama untuk menarik dukungan negara-negara Muslim yang sampai saat ini dipandang bersikap netral dalam menyikapi Konflik Rusia-Ukraina.

Alhasil, di balik manuver pemerintah Ukraina mempolitisasi kesamaan agama terhadap negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, nampaknya selain untuk memperoleh dukungan politik negara-negara berpenduduk Muslim di pelbagai kawasan, juga untuk mendapatkan bantuan dana, seperti yang diperlihatkan di Jakarta, ketika berbagai elemen dari Ukraina yang berkunjun ke Jakarta,  telah mengajak umat Islam Indonesia memberikan bantuan dana.

Dubes Ukraina Berharap Indonesia Peduli Nasib Muslim Tatar Krimea

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin saat menyampaikan pidatonya di Umaniara De Brawijaya, Jakarta Selatan, pada Kamis (5/10)/RMOLBegitulah. Dengan mencermati sikap pemerintah Ukraina maupun Majelis Tatar Muslim Krimea yang mendukung dan membenarkan aksi militer Israel di Gaza, berarti dukungan Ukraina pada Islam dan nasib Suku Tatar Muslim Krimea, sebenarnya hanya retorika dan slogan saja. Karena tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Manuver diplomatik pemerintah Ukraina dengan mempolitisasi Islam dalam rangka menggalang dukungan dan simpati dari negara-negara berpenduduk Muslim, termasuk menggalang bantuan dana dari Umat Islam di negara-negara Muslim, nampaknya dimaksudkan untuk menggalang dukungan dana dari Global South atau negara-negara berkembang.

Ukraina nampaknya mulai menyadari akan kalah dalam perang melawan Rusia, sehingga pihak AS maupun Barat mulai tidak tertarik lagi untuk memberi bantuan militer maupun bantuan dana.

Salah satu negara berkembang dari Amerika Latin, Ekuador, semula tertarik akan membantu Ukraina, namun belakangan karena khawatir Rusia akan menghentikan ekspor pisang ke negeri tersebut, Ekuador akhirnya batal memberi bantuan pada Ukraina.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

Sebelumnya“Kudeta Konstitusi”SelanjutnyaKebijakan Luar Negeri AS Terhadap India Masih Didasari Skema Neokolonialisme

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents