Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Teori MusaTeori Musa Di Pilpres 2024

Rusman

Rusman·21 Mei 2024·3 menit baca

Bagikan
Teori Musa Di Pilpres 2024
Ini tentang sejarah ribuan tahun silam. History repeats itself. Sejarah berulang dengan pola yang sama, hanya waktu, person dan kemasan berbeda. Termasuk, tebal dan tipis kualitasnya. Seandainya kelahiran bayi Musa dahulu tidak dirahasiakan, dilarikan, serta dihanyutkan oleh ibunya di Sungai Nil, kalau tertangkap oleh bala tentaranya Fir’aun diyakini Musa kecil bakal dibunuh. Kenapa? Sebab, Raja Fir’aun mendengar berita dari ahli nujum (strategi)-nya bahwa kelak ada sosok pemuda yang akan menjatuhkan takhta kekuasaannya. Menyikapi berita tersebut, seketika Fir’aun mengeluarkan perintah supaya membunuh setiap bayi laki-laki. Secara ontologi, pada kisah Musa terdapat hikmah dan pembelajaran mendalam dalam dunia (sejarah) politik, bahwa pada konstelasi serta kontestasi kekuasaan maka siapa pun orang bila ingin mencapai top management alias orang nomor satu di sebuah negara misalnya, atau perusahaan dll maka ia wajib mengikuti ‘arus sungai’ (tapi jangan terbawa arus). Kudu nyemplung, baik suka rela maupun terpaksa. Bahkan ‘menagis’ sekalipun —bayi Musa hanyut dan menangis dalam keranjang— serta harus menjalani hidup serta kehidupan pada sistem kekuasaan yang bertolak belakang dengan hati nuraninya. Singkat cerita, setelah dewasa, kuat dan berilmu maka Musa pun ‘memenggal’ si Fir’aun. Itulah sepintas kronologis. Dalam politik, tidak dikenal diksi karma, durhaka, atau ewuh pekewuh, yang utama ialah tujuan tercapai. Bagaimana meraih dan mempertahankan kekuasaan melalui aneka strategi, taktik, teknik dan trik alias siasat. Politik berasal dari dua kata. Poli dan Tik. Poli merupakan prefiks yang diambil dari Bahasa Yunani (polú atau polý) yang artinya “banyak”; sedangkan Tik dari kata “taktik”. Makna politik itu banyak taktik. Itulah sekilas POLA (pattern) pada ontologi politik yang dapat dipetik dari salah satu penggalan cerita nabi-nabi di al Qur’an. Beberapa retorika perlu disimak bersama untuk meyakinkan nalar dan logika: 1. Obama misalnya, apakah mungkin sosok kulit hitam bisa duduk di kursi presiden pada lingkungan super rasis tanpa ia terlebih dahulu masuk dalam inner circle kaum globalis di Amerika; 2. Dalam rangka mengganti Bung Karno, siapa berani bilang bahwa Soeharto dahulu tidak masuk dalam lingkaran imperialis kapitalisme; 3. Yang paling aktual pada Pilpres 2024 kemarin. Siapa berani menyangkal bahwa Prabowo harus ‘menyelam’ dulu ke lingkaran dalam rezim (sistem dan aturan) yang mengalahkannya dua kali —pada Pilpres 2014 dan 2019— sebelum akhirnya ia menjadi Presiden (Terpilih) 2024? Retorika-retorika di atas tak perlu dijawab, tapi tolong dicermati bersama, kemudian dirasak-rasakno. Yang agak repot itu gejolak di akar rumput, terutama kelompok militan. Tanpa wawasan dan pemahaman luas tentang sebuah strategi, mereka cenderung kehilangan jejak idolanya. Ibarat rajawali, tapaknya akan sulit diikuti burung pipit dikala rajawali terbang di angkasa nan tinggi. Inilah yang kerap terjadi. Sikap militansi terhadap sang idola mendadak hambar, muak, lalu berubah caci maki dan lain-lain akibat jejak langkah idolanya menghilang dalam ‘pandangan’. Tidak sesuai harapan, meski tebal tipisnya bersifat relatif. Makanya, menapaki tangga menuju 20 Oktober 2024 (pelantikan Presiden dan Wakil Presiden) mendatang, aroma silent conflict mulai tercium. Ibarat kentut, ada baunya tapi tak nampak barangnya. Teori Musa terbuka di ujung skenario. Silakan dicermati, dirasak-rasakno. Sejarah berulang dengan pola yang sama meski aktor, waktu dan kemasan berbeda-beda. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaSurat Terbuka Kepada Duta Besar AS Untuk Malaysia: Segera Akhiri Dukungan Membabi-Buta Terhadap Aksi Genosida IsraelSelanjutnyaMembaca Konflik Presiden Versus Presiden Terpilih

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents