Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Geopolitik

TehranTehran, Sabotase, dan Perang

Rusman

Rusman·19 Juni 2025·5 menit baca

Bagikan
Tehran, Sabotase, dan Perang

Serial Tehran produksi Apple TV bisa jadi hanya hiburan bagi sebagian besar penonton global. Namun bagi mereka mengikuti dinamika politik Timur Tengah dan permainan kekuasaan global, serial ini tampak seperti naskah bocor dari dokumen operasi intelijen. Ia menggambarkan upaya seorang agen Mossad menyusup ke Iran, menyabotase sistem pertahanan udara, dan menjalankan operasi senyap demi satu misi strategis—adalah melemahkan program nuklir Iran.

Tehran menggambarkan kehidupan agen Mossad Tamar Rabinyan menyusup ke jantung infrastruktur militer Iran. Dengan misi menggagalkan sistem pertahanan udara Iran, serial ini memetakan bagaimana negara seperti Israel menggunakan jalur teknologi, infiltrasi sosial, dan manipulasi psikologis untuk menjalankan agenda geopolitiknya.

Apa yang terlihat seperti fiksi justru mencerminkan berbagai operasi nyata. Israel, melalui jaringan intelijen Mossad, telah berkali-kali menjalankan aksi.

Yang menarik—atau justru mengkhawatirkan—adalah betapa narasi dalam serial ini kini tampak nyata. Iran meluncurkan serangan langsung ke wilayah Israel sebagai balasan atas serangan udara Israel ke konsulat Iran di Damaskus. Serangan ini mencakup ratusan drone dan rudal balistik, menandai bahwa “perang bayangan” selama ini terjadi telah berubah menjadi perang terang-terangan. Dalam momen itu, dunia sadar: Tehran bukan sekadar serial, tapi proyeksi nyata dari strategi kekuasaan.

Penyebabnya bukan satu-dua hal. Konflik antara Iran dan Israel adalah benturan panjang antara dua visi besar kawasan—poros perlawanan dan kedaulatan (Iran), melawan poros proteksi atas kepentingan Barat (Israel, didukung penuh oleh Amerika Serikat).

Israel dan AS selama bertahun-tahun membungkus operasinya terhadap Iran dengan narasi moral—mencegah proliferasi senjata nuklir. Namun pada dasarnya, ini adalah konflik geopolitik atas pengaruh dan kendali kawasan, terutama di tengah berubahnya peta dunia akibat kebangkitan Cina dan ketegangan baru antara Timur dan Barat.

Iran tak tunduk pada dolar dan tidak memberi ruang bagi pangkalan militer AS, menjadi anomali yang harus ditekan. Apalagi, Iran memiliki jaringan aliansi nonformal di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman. Dalam kacamata Washington dan Tel Aviv, ini adalah “lingkaran api” yang harus diputus.

Maka sabotase dilakukan. Mulai dari serangan cyber (seperti Operasi Stuxnet) hingga pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, semuanya menjadi upaya sistematis sejalan dengan strategi dalam Tehran. Serial itu bahkan terasa seperti narasi pembenaran publik atas operasi-operasi tersebut—sebuah kampanye lunak yang menyusup ke dalam ruang budaya populer.

Dalam perang modern, senjata paling awal bukan lagi peluru, melainkan narasi. Serial seperti Tehran memainkan peran penting dalam membentuk opini publik dunia:

Mossad digambarkan sebagai “korps profesional yang humanis”. Kemudian Iran digambarkan sebagai negeri yang penuh rahasia dan ketertinggalan. Penonton diarahkan untuk bersimpati pada agen penyusup, bukan korban operasi.

Kondisi ini menciptakan pembenaran publik global terhadap kebijakan luar negeri agresif Israel dan Amerika Serikat. Di sinilah pentingnya kesadaran publik untuk memisahkan fakta dan fiksi, serta membaca ulang serial populer dengan lensa kritis.

Iran dan Logika Bertahan

Yang tak banyak dibicarakan adalah kemampuan bertahan Iran di tengah tekanan yang luar biasa. Iran selama dua dekade terakhir telah menghadapi sanksi ekonomi, isolasi diplomatik,  tekanan narasi dan kini diserang secara milter oleh Israel. Namun alih-alih runtuh, Iran justru membangun sistem pertahanan sosial dan ideologis yang tidak mudah ditembus.

Meski memiliki keterbatasan ekonomi akibat sanksi internasional, Iran telah menunjukkan kapasitas bertahan yang mengesankan selama lebih dari 40 tahun. Mereka membangun sistem yang kuat berbasis ideologi, militer semi-negara (Revolusioner Guard), dan diplomasi bayangan.

Iran juga memiliki keunggulan eperti jaringan aliansi nonformal melalui Hizbullah, Houthi, PMU (Irak), dan kelompok milisi Syiah lainnya. Teknologi rudal dan drone buatan dalam negeri yang kian presisi dan murah. Kemampuan mobilisasi rakyat melalui sistem Basij dan jaringan keagamaan. Dukungan naratif dari negara-negara Global South yang melihat Iran sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat.

Kemenangan bagi Iran bukan berarti menaklukkan Israel, tetapi membuat Israel dan AS gagal mencapai tujuan strategis mereka mengganti rezim Iran, menghancurkan kekuatan militernya, dan memutus jaringan pengaruhnya.

Perang ini, jika terus berlanjut, justru bisa menjadi jebakan jangka panjang bagi Israel dan sekutunya. Perang terbuka dengan Iran bukan seperti operasi militer singkat di Gaza atau Lebanon. Ini adalah konflik dengan negara yang berdaulat, memiliki kekuatan industri militer, serta dukungan domestik berbasis ideologi.

Iran tidak perlu “mengalahkan” Israel dalam artian konvensional. Cukup bertahan dan menimbulkan kelelahan perang di pihak lawan, Iran telah mencetak poin strategis. Bahkan, dalam konteks politik global, Iran justru sedang memosisikan diri sebagai pusat solidaritas baru dari negara-negara Global South yang muak pada standar ganda geopolitik Barat.

Apakah Tehran hanyalah fiksi yang kebetulan sesuai kenyataan? Ataukah ia adalah bagian dari strategi naratif global—semacam soft campaign—yang ingin membentuk opini publik secara halus? Dalam dunia pasca-kebenaran, pertanyaan ini patut diajukan. Apalagi, dunia saat ini sedang berada dalam pusaran konflik informasi di mana narasi lebih dulu menyerang sebelum peluru ditembakkan.

Yang jelas, kita tak bisa lagi melihat perang Israel-Iran dengan lensa sempit. Ini bukan konflik dua negara semata, melainkan pertarungan besar antara model dunia yang ingin tetap unipolar dengan kekuatan yang menolak tunduk.

Dan jika sejarah mengajarkan satu hal, itu adalah bangsa yang memilih bertahan meski dihimpit dari segala arah, sering kali keluar sebagai pemenang. Mungkin bukan secara militer, tapi dalam sejarah dan martabat.

Dunia hari ini dibanjiri tontonan menghibur, tapi beberapa di antaranya membawa agenda yang dalam. Serial Tehran mungkin ditulis sebagai karya fiksi, tapi ia mencerminkan strategi realistik dari sistem kekuasaan global yang menghalalkan infiltrasi, sabotase, bahkan perang.

Sebagai masyarakat dunia yang terus dicekoki narasi tunggal, penting bagi kita untuk bertanya ulang: siapa penulis cerita ini? Dan siapa yang mengambil keuntungan dari alur yang tampaknya “kebetulan sama” antara drama layar dan drama diplomatik?

Iran menggambarkannya sebagai satu-satunya ancaman dan Israel sebagai satu-satunya demokrasi Timur Tengah adalah narasi yang terlalu hitam-putih untuk dunia yang serba kompleks ini.

Kemenangan tak selalu datang dari ledakan, tetapi bisa lahir dari keteguhan dan kemampuan bertahan di tengah badai. Dalam medan itu, Iran telah membuktikan diri sebagai aktor sulit ditaklukkan—baik dalam serial maupun kenyataan.

Sukarjito, Jurnalis

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaFPN: “Stop Genocide, Stop Arming Israel!”SelanjutnyaAS Berencana Menghidupkan Kembali Program Militerisasi Ruang Angkasa ala Strategic Defence Initiative (SDI)

Lainnya di Geopolitik

Lihat semua
Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents