Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Strategi Panik: Antara Ilusi Kemenangan dan Perampokan InternasionalPerampokan Internasional

Rusman

Rusman·22 April 2026·7 menit baca

Bagikan
Strategi Panik: Antara Ilusi Kemenangan dan Perampokan Internasional

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

(Ada perbedaan tipis antara strategi fleksibel dengan strategi yang panik. Dalam konflik di Teluk kali ini, perbedaan tipis itu sudah terlalui)

Pengantar: Stigma Bergerak, Cermin Runtuhnya Narasi

Perang Teluk 2026 yang digagas Benyamin Netanyahu dan Donald Trump bertujuan “menjual” solusi final atas ancaman dari Iran. Bangsa Arya ini divonis sebagai batu sandungan Israel menguasai Teluk sekaligus hambatan bagi AS untuk menundukan negara Islam dengan sistem politik dan ekonomi yang mereka paksakan. Tentu saja ini merupakan sebuah projek ambisius untuk mengakhiri kebuntuan puluhan tahun. AS menjual narasi, tanpa Iran dunia akan aman. Maka regime change alias pergantian rezim harus terjadi, pemimpin Iran wajib berganti dan kemampuan melakukan pengayaan nuklir berhenti untuk selamanya.

Namun, sejarah sudah berulang kali memperingatkan. Dari intervensi Amerika Serikat (AS) dan sekutu di Afghanistan (2001) dan Irak (2003) hingga intervensi lainnya, mengganti rezim dari luar hampir selalu berakhir mahal, panjang, dan gagal. Studi tentang invasi AS baik secara militer maupun secara sistem, kebijakan dan regulasi menunjukkan selalu berakhir buruk. Ketika AS mengabaikan fakta tergelar ini, maka hal tersebut bukanlah sekadar abai teknis atau lupa akan taktis. Ini justru kesalahan strategis. Suatu kesalahan struktural fundamental dan fungsional.

Ketika target (regime change) awal gagal, tujuan perang tidak diperbaiki, melainkan diturunkan. Dari mengganti rezim menjadi melemahkan militer. Atas nama retorika, isu dan stigma pun bergerak. Kemudian dari melemahkan militer, menjadi membuka jalur energi (Selat Hormuz). Dari sana, strategi menyusut lagi menjadi sekadar “mengamankan” jalur pasokan dan uranium. Lalu modus dialog atau perundingan pun digelar. Nah, perubahan stigma (bergerak) di atas bukanlah evolusi strategi, namun cenderung sebagai degradasi tujuan. Kondisi ini membuat kalangan global berpendapat, tujuan perang tidak jelas. Trump terlalu banyak bicara dan tidak konsisten. Vonis ini memberi dampak berlapis, yakni merosot keyakinan tempur pasukan perang AS. Sementara Israel merasa terlindungi atas sikap AS. Padahal kondisi domestik ke dua negara agressor dalam posisi tidak membaik.

Fakta Tak Bisa Dipoles

Setelah tujuh pekan dua hari dan menjelang ke pembicaraan ke dua di Islamabad, satu fakta tak terbantahkan tetap berdiri: Iran masih bertempur, Israel menyerang, dan AS menembak kapal Iran. Drone Iran pun masih diluncurkan. Rudal masih ditembakkan. Kapal cepat masih beroperasi. Infrastruktur militer Iran yang diklaim “dihancurkan” okeh AS-Israel, ternyata hanya tergerus sebagian — estimasi sekitar 30-an persen kerusakan, belum mendekati titik lumpuh.

Di sini, narasi kemenangan berubah menjadi ilusi kolektif. Keunggulan teknologi yang selama ini menjadi kebanggaan justru berhadapan dengan realitas klasik: perang asimetris (asymmetrical war) tidak bisa dimenangkan melalui bombardir semata. Tesa lama terbukti: jangan pernah menganggap enteng musuh selama musuh mampu menutupi kekuatan yang nyata.

Selat Hormuz: Kesalahan yang Mengglobal

Kesalahan terbesar AS-Israel bukan hanya salah membaca Iran, tetapi salah menghitung eskalasi. Ketika konflik menyentuh sistem negara secara non-konvensional, perang regional berubah menjadi krisis global. Sekitar 20 persen aliran minyak dunia melewati Selat Hormuz, dan setiap gangguan langsung mengguncang ekonomi internasional beserta dampak berantainya.

Maka Teluk Hormuz kini bukan lagi sekadar medan pertempuran, namun ia adalah saklar ekonomi dunia. Dan Iran —Bangsa Arya— yang kini memegangnya. Fenomena Selat Hormuz pun memperlihatkan bahwa persaingan energi fosil dengan energi terbarukan masih dimenangkan energi fosil. Dunia menghadapi situasi FLUX saat pasokan energi fosil terganggu. Dan AS tidak mengalkulasi mendalam bahwa gangguan itu berarti mengganggu perekonomian dunia. Tujuan memukul China pun gagal. AS hanya berhasil memukul negara yang sebagian elitnya adalah boneka Washington seperti Venezuela dan Indonesia.

Diplomasi Tanpa Kepercayaan adalah Ilusi

Pendekatan yang tidak konsisten —kerap diasosiasikan dengan gaya— mungkin efektif dalam taktik jangka pendek. Namun dalam diplomasi, ketidakpastian adalah racun. Lebih problematik lagi adalah keruntuhan kredibilitas. Di sini diplomasi bukan sekadar pandai bicara. Tapi kompetensi tinggi dalam pendekatan multidisplin sangat dibutuhkan. Dialog pertama di Islamabad yang menghasilkan gencatan senjata rapuh membuktikan, AS kalah. Sebabnya adalah soal kompetensi, penguasaan data, metodologi, kecepatan analisis dan keluasan wawasan sambil membawa muatan kepentingan nasional sebagai representasi kepentingan global. Tidak heran, kesepakatan hasil dialog pertama itu tidak dipercaya publik global disebabkan perilaku AS dan Israel sendiri.

Kesepakatan menjadi bernilai ketika dipercaya. Jika lawan yakin Anda bisa membalik posisi kapan saja, maka tanda tangan Anda hanyalah formalitas kosong. Ini soal seberapa teguh Anda memegang komitmen. Dalam konteks ini, penolakan Iran untuk menyerahkan uranium bukanlah sikap keras kepala, melainkan kalkulasi rasional. Menyerahkan satu-satunya leverage kepada pihak yang tidak kredibel adalah kesalahan fatal. Sebenarnya posisi JD Vance, Steve Witkoff dan Jared Kushner sebagai tim negosiator AS sudah dipermasalahkan oleh kalangan elit AS sendiri. Suara sinis bahkan amat mengejek tertuju kepada mereka. Tapi Trump tidak peduli.

Sekutu Mulai Goyah

Sementara itu, tekanan mulai merambat ke sekutu. Selain NATO yang mulai retak, tak mau terlibat dalam Perang Teluk, jajaran Monarki Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, Bahrain dan lain-lain menghadapi dilema ekonomi yang serius. Ketergantungan hampir total pada ekspor energi membuat mereka begitu rentan. Jika konflik berlarut, yang terancam bukan hanya pendapatan, tetapi stabilitas fiskal dan politik mereka sendiri. Pada titik ini, kepercayaan jajaran Monarki Teluk terhadap AS, mulai luruh. Satu-dua jajaran Monarki Teluk wait and see. Mereka mulai menghitung ulang atas kerjasama keamanan selama ini. Bahkan sebagian mereka merasakan, keberadaan pangkalan militer di negara mereka justru menunjukkan AS bermain multiple suitable standard. Dalam ragam kalkulasi ekonomi politik dan pertahanan, negara-negara Teluk merasakan kerugian ekonomi, sosial, politik dan moral.

Iran Memahami yang Lawannya Abai

Iran tampaknya memahami sesuatu yang gagal dipahami oleh Washington dan Tel Aviv: mereka tidak perlu menang — cukup tidak kalah. Iran membuat tempo peperangan menjadi lama. Iran belajar dari perang Vietnam, perang Afghanistan dan perang Irak. Pada tiga peperangan panjang ini, AS kalah secara militer. Secara moral pun, masyarakat AS sendiri melihat, pemerintahan yang menciptakan perang pada hakikatnya hanya memberi manfaat bagi segelintir elit AS.

Dalam perang berbasis ketahanan (Attrition Warfare) waktu adalah senjata utama. Dan setiap hari yang berlalu tanpa kemenangan jelas bagi AS dan Israel, itu berarti kemenangan diam-diam bagi Teheran. Ini yang tidak tertulis dalam teori perang konvensional. Memang AS mendefinisikan kemenangan dalam beragam makna. Misalnya, Ketika suatu negara sudah menerapkan demokrasi, hak asasi manusia, moneter bebas, fiskal tergantung pinjaman, dan negara tersebut menjadi sekuler, maka AS menang. Kemenangan ini pun hanya dinikmati para pemodal global. Makanya AS mengidap penyakit ketimpangan ekonomi dan ketimpangan rasial yang tajam.

Kesimpulan: Kebuntuan yang Mahal dan Perampokan Internasional

Kini kita sedang menyaksikan akumulasi kesalahan strategis saling mengunci. Itu dimulai dari regime change, lalu menjadi isu menghancurkan kekuatan militer. Tapi berubah lagi menjadi “menguasai” Selat Hormuz, dan terakhir isu pengayakan nuklir. Entah nanti stigma apalagi. Isu perampokan internasional? Sangat mungkin, karena di balik semua ini semua korporasi AS pemain energi fosil bersiap menerima durian runtuh (windfall profit). Ini terjadi di Venezuela, kendati mereka bilang butuh dua tahun untuk kembali berproduksi normal.

Sementara kampanye kecanggihan militer yang menjadi tumpuan utama kemenangan, dihadapkan oleh isu kecanggihan teknologi informasi kedirgantaraan. Maka tujuan perang terus menyusut, realitas lapangan membangkang, eskalasi yang tak terkendali, dan diplomasi yang kehilangan kredibilitas. Semua mengarah pada satu titik: terseok-seok, kalau tidak mau disebut kebuntuan. Bayangkan, jika Trump sebagai pemimpin berhadapan dengan Pope Leo XIV yang merupakan pemimpin Katolik sedunia. Pasti reputasi dan kredibilitas Trump luruh.

Lagi, dalam geopolitik, kebuntuan bagi kekuatan besar jarang netral. Ia mahal, menggerus reputasi dan legitimasi. Perlahan hal itu berubah menjadi kekalahan yang tidak pernah diumumkan secara resmi, tetapi dirasakan oleh semua pihak yang terlibat. Namun jika hati membatu, kekalahan ini tidak pernah akan menjadi pelajaran seperti kekalahan di Vietnam, Afganistan dan Irak. Suatu studi membuktikan, dampak perilaku AS baik secara militer maupun non militer, pasti melahirkan kebodohan, pengangguran, kemiskinan, kerusakan sosial dan infrastruktur, serta luruhnya kelembagaan pemerintahan. Tak ada kebaikan di balik sikap serakah, menipu, arogan, dan berhayal tentang keabadian.

Di sini, sesuai prolog di awal tulisan ini, bahwa antara strategi fleksibel dengan strategi panik itu hanya berbeda tipis. Degradasi tujuan bukanlah fleksibilitas strategi, tetapi cermin kepanikan yang dapat berujung pada tindakan di luar nalar dan hukum. Pada titik ini, pencegatan dan penyitaan kapal-kapal yang keluar masuk dari/ke Selat Hormuz atas nama “penegakkan hukum” —secara UNCLOS 1982 justru illegal karena bukan teritorial AS— jelas merupakan narasi “perampokan internasional” oleh Amerika. Itulah ujung dari kepanikan strategi AS yang bolak-balik gagal mengalahkan Iran. Perang yang dihadapi dengan kemarahan dan kepanikan tidak akan pernah dimenangkan.

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKunjungan Prabowo Subianto ke Moskow, Semakin Memperkuat Kerja Sama Strategis Indonesia-Rusia Dalam Skema BRICSSelanjutnyaAntara Banjir dan Bahtera: Menagih Sumpah Jabatan

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents