Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Timur Tengah

Rencana Donald TrumpDonald Trump Merelokasi Warga Palestina di Gaza, Menyingkap Konspirasi Global AS-Israel di Timur-Tengah Sejak 1948

Hendrajit

Hendrajit·1 Maret 2025·3 menit baca

Bagikan
Rencana Donald Trump Merelokasi Warga Palestina di Gaza, Menyingkap Konspirasi Global AS-Israel di Timur-Tengah Sejak 1948

Pada akhir Januari 2025 lalu beredar Surat Terbuka Kepada Presiden AS Donald Trump yang menyuarakan jeritan warga Palestina di Gaza, ihwal adanya rencana pemerintah AS untuk merelokasi penduduk Palestina di Gaza ke negara-negara Arab tetangga, sebagai bentuk ketidakpeduliaan terhadap keadilan dan kemanusiaan. Maka tak heran jika kebijakan Presiden Trump tersebut ditentang keras oleh rakyat Mesir, Yordania, dan tentu saja Palestina.

Baca: Open letter to Trump: Gaza belongs to Palestinians

Mengingat fakta sejarah bahwa Gaza merupakan milik rakyat Palestina, maka setiap upaya untuk mencabut akar budaya rakyat Palestina dari Gaza sama sekali tidak  bisa diterima.

Selain melanggar hukum internasional, rencana Presiden Trump untuk merelokasi warga Palestina dari Gaza, juga melanggar peraturan-peraturan hukum yang ditetapkan oleh Mahkamah International (International Court of Justice), dan Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Yang secara tegas menganfirmasi hak-hak rakyat Palestina untuk memperoleh seluruh wilayah Palestina yang dikolonisasi oleh Israel sejak tahun 1948.

Maka itu, mengerti dan memahami konteks sejarah sangatlah penting. Jika tidak, seperti disampaikan dalam surat terbuka tersebut, maka masyarakat dunia internasional tidak akan memahami betapa mengakarnya keterhubungan rakyat Palestina terhadap wilayah-wilayah yang saat ini diduduki Israel.

Maka itu menarik menyimak buku hasil wawancara dengan Noam Chomsky dan Ilan Pappe, On Palestine. Untuk penyelesaian masalah Palestina harus menelaah kembali apa yang telah menimpa warga Palestina tahun 1948 dan setelahnya sebagai kejahatan, alih-alih sekedar tragedi atau bencana. Apa yang terjadi pada rakyat Palestina pada 1948 sejatinya dibingkai oleh Paradigma Pembersihan Etnis.

Dengan itu, akan tersingkap hubungan antara ideologi Zionis dengan kebijakan gerakan di masa lalu dan kebijakan Israel saat ini. Keduanya bertujuan mendirikan negara Yahudi dengan mengambil alih sebanyak mungkin wilayah Palestina histrois dan menyisakan sedikit mungkin orang Palestina di dalamnya. Israel dalam tujuan strategisnya, berupaya mengubah Palestina yang beretnis campuran menjadi ruang beretnis tunggal berbasis penduduku mayoritas Yahudi. Inilah yang menjadi inti konflik yang telah berkecamuk sejak 1882 sampai sekarang.

Adapun metode pembersihan etnis yang paling disukai adalah pengusiran dan pemindahan, tetapi dalam kasus Israel tidak selalu mungkin dilakukan. Maka alternatif yang Israel lakukan adalah: Tidak mengizinkan orang-orang Palestina bergerak. Berarti, mengurung orang di desa dan kota serta melarang ekspansi spasial habitat manusia menjadi ciri khas pembersihan etnis Israel setelah tahun 1948. Hal ini masih diterapkan hari ini secara sangat efektif. Dengan demikian, Noam Chomsky dan Ilan Pappe sepakat bahwa misi dasar Zionis Israel adalah kontrol langsung atau tidak langsung atas seluruh Palestina. Setiap konsesi taktis atas ruang ini hanya dipengaruhi pertimbangan demografis, bukannya atas dasar itikad baik menciptakan perdamaian dan rekonsiliasi yang adil dan setara antara Yahudi dan Arab Palestina.

story image

Menyikapi skema tersebut, Amerika Serikat dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa, sepenuhnya mendukung Israel. Dan mengabaikan inti masalah sesungguhnya adalah kolonisasi dan aneksasi terhadap wilayah-wilayah Palestina.

Maka itu, konsep Dekonolonisasi Palestina harus jadi Paradigma Penyelesaian Konflik Arab Palestina-Israel. Dengan itu, berarti Perjanjian Camp David dan Perjanjian Oslo, sejatinya hanya “Dialog Palsu” dengan berkedok koeksistensi Damai Arab Palestina-Israel.

Di sinilah perspektif dalam memandang krisis Arab Palestina-Israel harus atas dasar paradigma Dekolonisasi Palestina. Betapa tidak. Yang namanya Pembagian suatu negara menjadi dua atau tiga bagian, haruslah atas dasar semangat penegakan perdamaian dan rekonsiliasi. Namun dalam kasus Palestina, pembagian dalam sejarah Palestina pada 1948 tersebut sejatinya merupakan tindakan penghancuran yang dilakukan dalam kerangka ‘rencana perdamaian PBB.

Tragisnya, pembagian wilayah  Palestina yang tidak adil dan didasari paradigma kolonialisme dan imperialisme AS dan Barat, sama sekali tidak mengundang reaksi atau kecaman internasional. Dengan itu, maka istilah-istilah dalam kamus internasional seperti pembagian wilayah dalam konteks Palestina, sejatinya adalah newspeak, meminjam istilah novelis Inggris George Orwell, yang artinya realitas palsu.

Dengan demikian bisalah kita katakan bahwa dalam skema pembagian wilayah Palestina pada 1947-1948 itu, dunia internasional yang dimotori oleh Inggris dan AS, turut terlibat dalam kejahatan dan penghancuran Israel terhadap warga Palestina. Ironisnya, siapa yang dipandang menentang pembagian wilayah Palestina, berarti merupakan musuh perdamaian.

Masalah krusial dalam Penyelesaian Palestina-Israel haruslah bertumpu pada: Dekolonisasi, Penghapusan Apartheid ala Afrika Selatan di Isral yang bertumpu pada etnis tunggal berbasis penduduk mayoritas Yahudi (Yahudinisasi Israel),dan Solusi Satu Negara Palestina.

Hendrajit, Ppengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaInvestigasi The Telegraph: AS dan Inggris Sejak Awal Secara Terselubung Membantu HTS Gulingkan Bashar al-AssadSelanjutnyaIndia Mulai Menyadari Bahayanya Bersekutu Dengan AS

Lainnya di Internasional

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analisis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 Agustus 2026 · 6 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents