Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Politik-Keamanan

Profiling The Killing GroundKilling Ground

Rusman

Rusman·10 Juli 2025·2 menit baca

Bagikan
Profiling The Killing Ground
Sebuah Metafora Politik Hari-hari ini, dinamika politik (praktis) di Tanah Air semakin eskalatif. Tak ada tanda-tanda merada. Isu panas terus bermunculan bahkan beranak-pinak dengan bobot nyaris sama dengan isu induk. Kompetitif isu. Namun, jika jernih mencermati — bacalah tanda-tanda alam bagi yang berpikir. Metafora kondisi di atas seperti kolam ikan yang tengah dikeringkan oleh sang empu. Alegorinya begini: “Ikan-ikannya menggelepar, ikannya melompat-lompat”. Maka tampaklah berbagai jenis ikan. Ada ikan teri, misalnya, atau ikan lele, wader, cupang ataupun ikan gabus dan lain-lain. Sedang isu yang bertebaran di publik, itu ibarat pakan ikan, selain membuat semakin terang siapa mereka, karena berebut pakan di permukaan, juga geliat dan peran (para person yang berseteru) terlihat jelas, contohnya begini, “O, si A kelasnya cuma buzzer. Penggaduh di ruang publik”; si B ternyata level man power; si C duduk di marketing dan lain-lain. Di kesenyapan, para pihak saling intip, menilai kekuatan dan kelemahan masing – masing pihak. Dalam bahasa intelijen, metafora kolam dan ikan tersebut disebut profiling dalam arti luas. Yaitu Proses analisis informasi baik individu maupun kelompok guna menggambar target secara detail. Lazimnya, ada dua sasaran pasca aktivitas ini, misalnya: 1) profiling sekadar update dan validasi data; atau 2) akan ada ‘eksekusi’ usai kegiatan dimaksud. Entah apa ujud eksekusinya kelak. Lantas, siapa melakukan profiling? Tentunya para pihak yang bertikai, minimal ia melakukan update situasi guna akurasi langkah ke depan. Pro kontra soal Wapres berkantor di Papua, misalnya, itu merupakan bentuk ‘perang senyap’ di masa transisi. Ya. Rezim de jure pada satu sisi, berhadapan dengan jejaring masa lalu di sisi lain. Sebenarnya sangat gaduh, tetapi di permukaan tampak sunyi; meski terlihat sepi, namun gemuruh dalam tataran strategi. Dalam kredo intelijen menggariskan, yang terlihat bukanlah seperti itu. Hal-hal yang tak nampak bukan berarti tidak ada. Ini perang sunyi. Saling menyerang dalam koridor the killing ground. Ia bukan tempat pembunuhan dalam arti harfiah, tak pula medan tempur terbuka. Killing ground itu strategi menggiring lawan agar masuk agenda yang diinginkan dan/atau menyingkirkan musuh tanpa perlu benturan secara langsung. Ya, killing ground ini lebih hebat daripada proxy war (perang perwalian), dan lebih canggih dari sekadar neocortex war atau perang pemikiran. Jadi, dalam membaca panggung the killing ground, jangan terjebak dengan apa yang terjadi, tetapi cermati apa yang sesungguhnya terjadi. Di permukaan terlihat layar. Namun, yang menentukan justru di balik layar. Itu pakemnya. Lengsernya Kabulog yang barusan duduk, kuat disinyalir merupakan buah perang senyap oleh para pihak. Entah siapa. Retorikanya, “Siapa diuntungkan dengan lengsernya Kabulog, apakah mafia pangan? Ataukah jejaring masa lalu, atau rezim de jure? Atau, gabungan dua di antaranya?” Let them think let them decide. Simpulan prematur catatan metafora ini, bahwa di era transisi — perang senyap, killing ground strategy itu ada, nyata dan berada (exsistence). Demikianlah potret kecil perpolitikan Tanah Air berbasis alegori politik. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaMuncul Tiga Kemiskinan Akibat Operasional UUD 2002SelanjutnyaAktivitas Laboratorium Biologi Militer AS di Luar Negeri Harus Segera Dihentikan

Lainnya di Politik-Keamanan

Lihat semua
Pilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis
Analisis

Pilpres 2029Pilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis

9 Juni 2026 · 3 menit baca

Untuk Mencegah Masuk Perangkap Orbit AS atau Cina, Saatnya Indonesia Memprakarsai Non-Aligned Cyber Diplomacy
Analisis

Untuk Mencegah Masuk Perangkap Orbit AS atau Cina, Saatnya Indonesia Memprakarsai Non-Aligned Cyber DiplomacyNon-Aligned Cyber Diplomacy

1 Mei 2026 · 9 menit baca

Kebijakan Industrialisasi Hilir Indonesia: Kontra Skema Mengakhiri Skema Neokolonialisme AS di Indonesia
Analisis

Kebijakan Industrialisasi Hilir Indonesia: Kontra Skema Mengakhiri Skema NeokolonialismeSkema Neokolonialisme AS di Indonesia

29 April 2026 · 12 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents