Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Pertemuan Multinasional Perdamaian Tentang Ukraina di Arab SaudiArab Saudi Berat Sebelah dan Tidak Netral

Hendrajit

Hendrajit·5 Agustus 2023·3 menit baca

Bagikan
Pertemuan Multinasional Perdamaian Tentang Ukraina di Arab Saudi Berat Sebelah dan Tidak Netral

Pada 5 hingga 6 Agustus 2023 di Arab Saudi akan bertindak sebagai tuan rumah Pertemuan Multinasional membahas persiapan sebuah Pertemuan Tingkat Tinggi (Peace Summitt) membahas draf 10 Poin usulan rencana perdamaian yang diprakarsai oleh Presiden Volodymyr Zelensky (Volodymyr Zelensky Plan) pada 2024 mendatang. Menurut Andriy Yermak, Kepala Staf Kepresiden Ukraina sebagaimana dilansir oleh situs berita Aljazeera, beberapa negara kabarnya akan ikut serta.

 

Baca: Saudi Arabia to host Ukraine peace talks, top official says

 

Ihwal adanya rencana tersebut bermula ketika harian terkemuka Amerika Serikat, The Wall Street Journal, mewartakan adanya rencana pertemuan tingkat tinggi di Jeddah, Arab Saudi, membahas usulan perdamaian Presiden Zelensky, dengan mengutip hasil pembicaraan beberapa diplomat senior. Sebagaimana dilansir The Wall Street Journal, para pejabat senior Ukraina maupun beberapa negara Barat berharap Pertemuan Tingkat Tinggi membahas 10 poin Formula Perdamaian Rusia-Ukraina rumusan Presiden Zelensky itu, akan  mencapai titik puncaknya dengan terselenggaranya Pertemuan Perdammaian Tingkat Tinggi (Peace Summitt tahun depan. Yang mana para pemimpin dunia yang hadir dalam Konferensi Perdamaian Tingkat Tinggi akan menandatangani Piagama Perdamaian berdasarkan skema 10 Poin Rencana Perdamaian yang diajukan Presiden Zelensky.

Namun anehnya, dalam pertemuan tingkat tinggi di Jeddah, Arab Saudi yang rencananya akan dimulai pada hari ini 5 Agustus 2023, tidak mengundang Rusia sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam Konflik Ukraina-Rusia.

Kedua, Pertemuan Tingkat Tinggi di Jeddah, Arab Saudi, hanya mengikutsertakan negara-negara berkembang yang dipandang Pro AS dan Barat, dan tentunya juga pro Ukraina. Tanpa mengikutsertakan Rusia maupun negara-negara berkembang yang dipandang netral, maka pertemuan internasional membahas 10 Poin Rencana Perdamaian atas usulan Presiden Ukraina Zelensky, maka akan dipandang sebagai manuver diplomatik Ukraina dan negara-negara blok Barat untuk menggalang dukungan internasional untuk melancarkan aktivitas politik anti-Rusia terkait Konflik Rusia-Ukraina.

Maka pertanyaan pentingnya di sini, bagaimana mungkin akan tercipta perdamaian yang menguntungkan semua pihak, ketika negara-negara yang ikut serta dalam Pertemuan Tingkat Tinggi yang direcanakan pada tahun 2024 mendatang, sejak proses persiapan yang berlangsung pada 5-6 Agustus 2023 tidak mengikutsertakan negara-negara yang terlibat dalam Konflik Rusia-Ukraina tersebut.

Padahal kalau kita cermati secara normatif, 10 Poin Usulan Perdamaian Ukraina tersebut bukan saja bertujuan menjamin perdamaian bagi Ukraina, melainkan juga untuk menciptakan mekanisme untuk menangkal potensi munculnya konflik berskala global di masa depan.

Sayangnya tujuan pertemuan yang dirancang untuk menggolkan 10 poin perdamaian usulan Presiden Zelensky, sudah tidak netral dari awal. Bagaimana mungkin akan tercapai Persetujuan Damai antara Ukraina-Rusia, ketika dalam salah satu 10 formula perdamaian Zelensky, menggarisbawahi pemulihan integritas territorial Ukraina sekaligus kesediaan Rusia untuk menarik mundur pasukannya dari wilayah-wilayah Ukraina yang diduduki tentara Rusia.

Menjelang pertemuan di Jeddah, 5 Agustus 2023, pihak Ukraina mengklaim akan menghadirkan sekitar 50 negara, Termasuk Chili, Mesir, Uni Eropa, Indonesia, Polandia, Inggris, Amerika Serikat, Zambia dan  Mexico. Nampak jelas dari daftar peserta negara-negara yang diundang ikut serta boleh dibiliang negara-negara yang Pro Amerika, Uni Eropa dan NATO. Lantas bagaimana dengan Indonesia? Menurut kabar Indonesia akan mengirim delegasi setingkat duta besar.

Namun kalau mencermati skema dan ide dasar pertemuan di Jeddah, Arab Saudi pada hari ini, nampak jelas bahwa kecuali Indonesia yang sejatinya menganut Politik Luar Negeri RI Bebas-Aktif, hampir semua negara peserta cenderung pro AS, NATO dan Uni Eropa. Sehingga sulit untuk dinilai sebagai Pertemuan Tingkat Tinggi Perdamaian yang bersifat Imparsial.

Maka itu, Indonesia dan negara-negara yang tergabung dalam Perhimpunan Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN), tidak perlu memandang penting prospek Pertemuan Tingkat Tinggi Perdamaian. Sehingga tidak ada untungnya bagi kepentingan nasional Indonesia. Bahkan bisa berimplikasi akan dipandang sebagai negara-negara yang tidak bersahabat dengan Rusia maupun negara-negara lainnya yang memandang aksi militer terbatas Rusia ke Ukraina sebagai langkah-langkah preventif membendung masuknya AS dan NATO ke wilayah Ukraina. Apalagi kalau nantinya akan memasukkan Ukraina sebagai negara anggota terbaru NATO.

Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute

 

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaTelaah Strategis Di Balik Kunjungan Jokowi ke CinaSelanjutnya“Semerbak Kembang Sore” (2/Habis)

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents