Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Narasi Investasi: Modus Penjajahan Gaya BaruPenjajahan Gaya Baru Berwajah Halus

Rusman

Rusman·4 Desember 2025·2 menit baca

Bagikan
Narasi Investasi: Modus Penjajahan Gaya Baru Berwajah Halus

Kontemplasi Kecil atas Isu Morowali

Dulu penjajah datang dengan meriam. Hari ini, mereka datang dengan proposal. Apa bedanya? Sebenarnya sama saja. Yang berbeda hanya tampilan, bukan kepentingan.

Jika dulu merampas tanah dengan paksaan; kini mereka merampas melalui kontrak yang disodorkan dengan bahasa protokoler: itu untuk pembangunan, yang “ini” buat tuan-tuan. Asyik!

Bila dulu memaksa rakyat agar tunduk pada kekuasaan kolonial; kini mereka justru memaksa negara tunduk pada narasi modal global. Jika dulu penduduk pribumi dianggap penghalang, kini mereka cuma dianggap biaya operasional yang harus ditekan. Rekrut, tapi kecilkan gajinya!

Celakanya, mereka masuk bukan karena menyerbu, tetapi diundang. Atas nama investasi, korporasi raksasa diberi karpet merah untuk menguasai sumber daya strategis seperti tambang, lahan, bahkan hajat dan ruang hidup orang banyak. Atas nama pertumbuhan ekonomi, negara rela mengubah regulasi supaya investor merasa “nyaman” meski rakyat sendiri harus menanggung beban. Atas nama kemajuan, kita menggadaikan kedaulatan sedikit demi sedikit hingga nyaris tak berjejak. Inilah modus kolonialisme abad ke-21. Penjajahan gaya baru secara non militer.

Tatkala bangsa besar tidak lagi dijajah dengan peluru, tetapi dengan tanda tangan. Narasinya dibuat seindah mungkin: “Investasi sebagai penyelamat, modal asing sebagai solusi, kapital global sebagai kunci kemajuan.” Sedang sejarah dipenuhi bukti bahwa sebuah bangsa tidak akan pernah merdeka jika arah ekonominya dikendalikan pihak luar. Ya. Bangsa tidak bakal berdiri tegak jika sumber daya yang menjadi milik rakyat justru mengalir ke luar. Dan yang paling berbahaya bukanlah penjajahan itu sendiri, ia bisa diperjuangkan. Dilawan. Namun, ketika penjajahan dikemas rapi sehingga rakyat sendiri tak lagi mengenali. Bahkan tidak sedikit elit dan warga malah jatuh cinta kepada para pihak yang (hendak) merampas kehidupannya.

Pertanyaan sederhana tapi menohok muncul di ujung kontemplasi, “Apakah kita hendak membangun masa depan? Atau, kita sedang menyerahkan masa depan kepada mereka yang sejak dulu mempeta (mapping) negeri ini sebagai ladang rampasan?”

Jika sebuah bangsa ingin merdeka sepenuhnya, ia harus berani mempertanyakan, lihai menyelidiki, mengkritik, mengubah, menolak narasi, bahkan kalau perlu mengusir siapapun yang merugikan masa depan bangsa. Itu mutlak. Negara ini butuh kebenaran bukan sekadar etika. Jangankan pihak luar, dari pihak internal pun bisa dijerat pasal makar (106 KUHP) jika mereka menyerahkan sebagian wilayah kepada asing untuk dikolonisasi.

Bahwa narasi, kini dianggap sebagai medan tempur. Artinya, barang siapa unggul di kancah narasi, dia yang bakal keluar sebagai pemenang serta menentukan kompas sejarah.

Isu Morowali adalah salah satu jelaga dalam perjalanan bangsa ini menuju Indonesia Mercusuar Dunia alias Indonesia Emas 2045. Jasmerah, kata Bung Karno. Siapa melupakan sejarah, maka ia akan dipaksa mengulangi jejak buruk masa lalu.

Mau?

Yang bilang mau hanya tiga entitas: asing, antek asing dan para pemburu rente!

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaSaatnya Indonesia dan BRICS Memprakarsai Sistem Keuangan Global Alternatif yang Lebih Setara dan MultipolarSelanjutnyaIsu Morowali: Antara Investasi dan Kolonisasi

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents