Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Mencari Pemimpin Di Era Babat AlasBabat Alas

Rusman

Rusman·10 Februari 2025·4 menit baca

Bagikan
Mencari Pemimpin Di Era Babat Alas
Ibarat mencari jarum jam dalam tumpukan jerami, itulah kondisi bangsa Indonesia saat ini. Sulitnya mencari sosok pemimpin ideal yang mampu membawa bangsa dari keterpurukan dan kemiskinan, justru di tengah keberlimpahan aneka sumber daya. Paradoks Indonesia. Tatkala intelijen kesulitan ‘menciptakan’ pemimpin (karena larut dalam politik praktis). Ketika revolusi tak kunjung tiba sebab ketiadaan tokoh sentral yang dapat diterima berbagai pihak. Secara tata negara, biarlah “Sistem Politik” (dan situasi) yang kelak membidaninya. Pemimpin di strata manapun yang keluar dari situasi dan kondisi yang berkembang, misalnya, kemunculan nelayan Kholid yang berani tampil melawan korporasi, atau Si A, B, dan entah siapa lagi akan keluar dari “semak belukar”. Publik, barangkali cuma menyodorkan kriteria atau parameter kepemimpinan sesuai tuntutan zaman. Terkait kondisi Indonesia saat ini, kriteria pemimpin yang tepat misalnya: 1. Sosok independen. Tidak terjerat masa lalu dan terbebas politik balas budi; 2. Bukan bagian dari masalah yang tengah dihadapi bangsanya. Bahkan sosok tersebut justru terzalimi oleh situasi dan kondisi yang ada; 3. “Agak-agak gila”. Artinya, memiliki keberanian di atas rata-rata guna membalik keadaan (creative destruction) dalam koridor keselamatan rakyat ialah hukum tertinggi (solus populi suprema lex esto), dan bergerak atas nama jihad; 4. Memahami dinamika aktual geopolitik global serta mumpuni berselancar di tengah gelombang batu karang; 5. Lebih memprioritaskan kepentingan perjuangan daripada sekadar “baper” dan/atau kepentingan pribadi dan golongan; 6. Track record jelas dan memiliki background religi sedemikian rupa; 7. Dan seterusnya. Lalu, Sistem Politik seperti apa yang dapat membidani sosok pemimpin seperti kriteria di atas? Sudah barang tentu, sistem dimaksud bukanlah Sistem Politik yang berbasis UUD NRI 1945 Produk Amandemen atau kerap disebut UUD 2002, kenapa? Sebab, selain pola pencarian pemimpin pada UUD 2002 bermodel one man ove vote alias banyak-banyakan suara; memprioritaskan popularitas dan elektabilitas ketimbang integritas, kapasitas, dan akuntabilitas; proses pemilihan yang banyak kecurangan, terlalu gaduh, serta kental akan money politics dan lainnya. Model pencarian pemimpin seperti ini identik memilih kucing dalam karung. Trial and error. Bahwa jiwa UUD Produk Amandemen sangat individualis, liberal lagi kapitalistik. Hal ini bertolakbelakang dengan local wisdom, bertentangan dengan nilai-nilai keindonesiaan, high cost politics, mencapakkan Pancasila sebagai filosofi bangsa dan norma hukum tertinggi di republik ini. Juga, yang perlu digarisbawahi bahwa Sistem UUD 2002 merupakan “buah atau hasil” dari peperangan asimetris (asymmetric warfare) yang digelar oleh Barat cq National Democratic Institute (NDI) pimpinan Madeleine Albright, Menlu Amerika Serikat (AS) pada masanya sebagai penjuru dan didukung banyak lembaga swadaya baik Non-Government Oragnization (NGO) dari luar (asing) maupun NGO lokal serta sekelompok “londo ireng” selaku operator. Jadi, ketika bangsa ini gegap gempita menjalankan UUD Produk Amandemen, sebenarnya justru ia menari-menari dalam gendang yang ditabuh oleh (kepentingan) asing. Inilah yang sekarang terjadi. Namun, banyak anak bangsa ini tidak menyadari. Kenapa? Selain merebaknya stockholm syndrome, yakni fenomena sosial politik dimana mayoritas warga justru jatuh cinta kepada kaum penjajah yang merampas kehidupannya. Memang, kerangka kerja penjajahan supermodern kini telah berubah, yaitu: “The best way to keep a prisoner from escaping is to make sure he never knows he’s in prison” (Adrian P, 2024). Terjemahan bebasnya begini, “Cara terbaik untuk mencegah seorang tawanan melarikan diri ialah memastikan bahwa dia tidak merasa berada di penjara”. Itulah lingkungan strategis yang bergerak liar sebagai enviromental input serta mempengaruhi benak dan cara pandang publik terhadap sesuatu. Kembali pada judul catatan ini, retorika pun menyeruak kuat, apakah Prabowo Subianto, Presiden RI ke-8 tergolong dalam kriteria pemimpin sebagaimana parameter di atas? Retorika memang tidak untuk dijawab agar tulisan ini dilanjutkan. Kini membahas Babat Alas (2024 – 2029) sebagai tahap yang mutlak kudu dilalui oleh bangsa ini dalam rangka menuju Indonesia Mercusuar Dunia atau Indonesia Emas 2045. Pertanyaan filosofi muncul, mungkinkah kita mencapai Indonesia Emas di 2045 dengan Sistem UUD Produk Amandemen (1999 – 2002)? Jawabannya, nonsense! “Jauh panggang dari api”. Kenapa demikian, ada beberapa penyebab antara lain: Pertama, bahwa isi pasal-pasal dalam UUD Produk Amandemen bertolakbelakang dengan materi dalam Pembukaan UUD. Justru semakin menjauhkan rakyat dari pencerdasan, menjauhkan warga dari kesejahteraan (kemiskinan struktural), dan lainnya; Kedua, Indonesia hari ini, sudah Nir-Kedaulatan Rakyat yang ditandai oleh:
  • MPR selaku penjelmaan rakyat telah diturunkan statusnya dari Lembaga Tertinggi Negara menjadi Lembaga Tinggi Negara.
  • Dominannya unsur politik (Parpol) di parlemen dampak atas operasional Pasal 6A Ayat (2) UUD Produk Amandemen. Sehingga setiap produk UU nyaris dalam remote sembilan orang Ketua Parpol. Dan pada 2024-2029 kini justru kian mengecil yakni cuma delapan orang Ketua Parpol. Ya. “Kedaulatan rakyat telah dirampas oleh Parpol”. Bagaimana jadinya jika Parpol bersandar kepada oligarki atau korporasi?
  • Ketiadaan Utusan Golongan dan Utusan Daerah sebagai unsur (kedaulatan) rakyat di MPR.
Ketiga, demokrasi liberal yang dianut UUD 2002 bertentangan dengan “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”. Sila ke-4 Pancasila (Ichsanuddin Noorsy, Prahara Bangsa, 2025). Keempat, dan lain-lain. Dengan demikian, cara terbaik memilah, memilih dan mencari pemimpin dengan tujuh kriteria di atas tadi, tidak ada cara lain selain melalui MPR selaku lembaga tertinggi negara. Ini sesuai dengan Sila ke-4 Pancasila. Selain melibatkan segenap elemen bangsa (ada utusan daerah dan utusan golongan), tak hanya melulu perwakilan Parpol, biaya dan kegaduhan pasti menurun jauh, juga bangsa ini tidak lagi durhaka karena sejak 2002 dianggap telah meninggalkan sistem rumusan pendiri bangsa. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKedaulatan Rakyat: Di Antara Penegakkan Hukum, Korupsi, dan PolitisasiSelanjutnyaAntara BRICS, Executive Order, Dan Antisipasi Indonesia

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents