Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Menarik Hikmah Dari Seorang Pemimpin Yang Mengenali Kodrat GeopolitikKodrat Geopolitik Negaranya

Rusman

Rusman·20 Maret 2023·2 menit baca

Bagikan
Menarik Hikmah Dari Seorang Pemimpin Yang Mengenali Kodrat Geopolitik Negaranya

Saya tidak bisa bayangkan kalau pas Jerman nyerbu rusia pada perang dunia kedua. Yang mimpin rusia Leon Trotzky. Bukannya Joseph Stalin.

Sebab waktu itu perseteruan ahli waris Lenin ini berdarah-darah. Kata Stalin. Kenyataannya sekarang Rusia lah satu-satunya kekuatan sosialisme di Eropa paska Perang Dunia I.

Meskipun kiri kanan depan belakang Rusia dikuasai negara-negara kapitalis. Maka pertahankanlah halaman rumah kita dulu. Jangan dulu mikir ekspor sosialisme. Kejauhan ente bro. Gitu kira kira kata Stalin kepada Trotzky.

Trotzky juga tidak mau kalah waktu itu. Kata Trotzky. Ente dah gila kali ye bro. Kodrat sosialisme kan mendukung dan menyatukan para buruh atau proletar sedunia. Jadi namanya revolusi kita ya harus mendunia. Revolusi harus lanjut. Gak boleh berenti di Rusia. Kata bung Trotzky.

Lantas Stalin yang terbiasa berpikir praktis namun koleksi bukunya hampir 10 ribu itu tidak mau kalah. Kata Stalin, yang ente bilang itu bener bro. Tapi itu teori. Kenyataan di depan mata kita di bawah pimpinan kamerad Lenin berhasil menang dan meruntuhkan Dinasti Romanov dan sistem feodalisme negeri kita. Opo ora hebat awae dewe iku cak. Begitu tandas kamerad Stalin.

Bahkan Stalin malah mengejek kualitas pembacaan Trotzky terhadap buku-buku yang dibawanya. Kata Stalin: “Ente ini banyak baca buku tapi herannya kok ya tetap aja naif. Padahal buku yang ente ama ane baca kan sama bro. Kenapa pengertian kita beda.”

Perbedaan pandangan mereka akhirnya tidak ketemu. Kenyataan akhirnya bicara. Stalin menggantikan Lenin pada 1924. Dus artinya, 7 tahun setelah revolusi Bolshewik 1917.

Trotzky tidak mau terima nasib begitu saja. Melawan dan galang kekuatan buat gusur Stalin. Tapi kalah kuat dan kalah pintar. Trotzky akhirnya mati dikampak di Meksiko. Gak jelas siapa yang bunuh. Pantes- pantesnya ya agennya Stalin.

Yang tidak kepikiran di benak Trotzky yang keminter dan sok intelektual itu. Keberhasilan Lenin memenangkan revolusi Rusia sebenarnya menyalahi pakemnya karl Marx yang tertuang dalam bukunya bertajuk Das Kapital. Langsung lompat dari feodalisme ke sosialisme. Tanpa lewati taraf borjuasi kapitalisme dulu seperti titah Das Kapital.

Makanya Stalin bilang. Yang udah di tangan pertahankan. Supaya kita siap sewaktu-waktu datang serangan dari luar. Selain itu dia bilang bangun secepatnya industri nasional Rusia. Karena kita mengambil kekuasaan dari kaum feodal. Bukan dari kaum kapitalis berbasis industri kayak Inggris. Jadi industri harus dibangun secepatnya.

Benar ternyata. Perang Dunia II meletus. Rusia jadi target utama Jerman buat dicaplok. Dikira Hitler nyaplok Rusia segampang nyaplok Polandia kali.

Ternyata Stalin dan angkatan bersenjata Rusia sudah siap menghadang dan membendung serangan Jerman. Stalingrat atau St Petersburg kalau sekarang, praktis jadi neraka dunia buat tentara Jerman.

Jerman gagal total. Bahkan jadi titik balik. Rusia balik nyerbu Jerman. Akhirnya selain berhasil membendung serangan musuh dari luar. Amerika dan inggris terpaksa bagi-bagi Jerman jadi dua dengan Rusia sebagai sesama negara pemenang perang.

Hikmah cerita ini buat kita jelas. Jangan remehkan nasionalisme dan rasa kebangsaan. Dan jangan meniru dan menganut ideologi impor ala Trotzky.

Stalin adalah contoh nyata pemimpin yang mengenali kodrat geopolitik negerinya. Dan menempatkan nasionalisme di atas pertimbangan lainnya.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaMasyarakat Sipil dan Politisi Partai Harus Berpedoman Pada Politik Luar Negeri RI Bebas-Aktif Menyikapi Konflik Rusia-UkrainaSelanjutnyaNo Viral, No Justice!

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents