Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Menagih Komitmen Prabowo Kembali ke UUDUUD 1945

Rusman

Rusman·2 April 2024·3 menit baca

Bagikan
Menagih Komitmen Prabowo Kembali ke UUD 1945
Telaah Kecil atas Fenomena Entek Amek Kurang Golek Semenjak menggunakan UUD NRI 1945 Produk Amandemen (1999-2002) alias UUD 2002, kemudian pada 2004 pertama kali digelar pemilihan presiden (Pilpres) Langsung ala liberal (one man one vote) merupakan awal perubahan model Pilpres dari MPR (sistem musyawarah mufakat) menjadi one man one vote, maka sejak itulah bangsa ini terjebak pada situasi dan kondisi yang dalam peribahasa Jawa disebut ‘entek amek, kurang golek‘. Secara letterlijk, ungkapan Jawa tadi artinya ‘habis ambil, kurang cari’. Habis mengambil lagi, kurang cari lagi. Namun, bukan begitu maksudnya. Makna entek amek kurang golek itu kurang lebihnya ialah: “Kalau sudah senang atau cinta semuanya dinilai baik, sebaliknya kalau tidak suka semua dianggap buruk”. Betapa tidak fair dan kurang sportif kondisi entek amek kurang golek. Kuatnya ego. Bener e dewe, karepe dewe. Dalam praktik empirik, kenyataan tersebut membidani apa yang disebut post-truth —pasca kebenaran— yaitu era dimana kebohongan menyamar sebagai kebenaran di publik melalui endorse para pendengung alias buzzers. Bagi bangsa yang terperangkap kondisi semacam (entek amek) ini, faktor subjektivitas dan hembusan isu sentimen kuat berkelindan di lorong-lorong nalar publik. Tak boleh dipungkiri, entek amek kurang golek ini merupakan bibit-bibit ego sektoral sekaligus bahan baku perpecahan yang berserak di tengah masyarakat, dan sungguh celaka — ladang suburnya justru tatkala bangsa ini menganut model Pilpres one man one vote. Dari perspektif kolonialisme gaya baru, UUD 2002 merupakan strategi devide et impera yang disisipkan pada sistem (konstitusi) negara oleh pihak asing secara senyap. Akan tetapi, anehnya sebagian warga tidak menyadari, justru menari-nari dalam gendang yang ditabuh oleh (kolonialisme) asing. Canggih. Sekurang-kurangnya, sewaktu Pilpres Langsung digelar kali ketiga (2014) silam, outcome jurus pecah belah via sistem ini mulai membuahkan hasil, misalnya, munculnya dua entitas (Cebong dan Kampret) yang saling serang di dunia maya. Kelahiran dua entitas di atas entah akibat dukung-mendukung dalam Pilpres; bahkan sempat ada pemikiran, jangan-jangan keduanya justru dibidani satu meja komando yang sama guna menggaduhkan akar rumput agar rakyat abai terhadap persoalan hulu bangsanya? Entahlah. Belum ada jawaban pasti. Yang jelas, kedua entitas tersebut menjadi permanen pada Pilpres 2019, bahkan memunculkan varian baru seperti Kadrun, contohnya, atau Cepret dan seterusnya yang kian meramaikan modus devide et impera di Bumi Pertiwi. Dan pada Pilpres 2024 banyak muncul varian buzzers lain yang seharusnya tak perlu terjadi —karena “satu sumber’— pada gilirannya selain menggaduhkan belantara sosial politik, juga menyisakan sayatan kecil atas nama Esprit de Corps. Apa yang akan terjadi kelak bila Pilpres 2029 dan 2034 masih memakai UUD 2002 serta bermodel one man one vote? Learning points yang bisa diambil dari beberapa Pilpres sebelumnya, bahwa selalu muncul keterbelahan sosial menganga secara berkala per/lima tahunan akibat fenomena entek amek kurang golek, dampak operasional UUD 2002. Pertanyaan menggelitik muncul, “Apakah UUD 2002 ini terus dipertahankan, sedang dalam praktiknya justru memecah-belah, high cost, bahkan dianggap sebagai sumber kegaduhan?” Ketika KPU mengumumkan pemenang Pilpres 2024 ini, publik khususnya para pegiat konstitusi berharap kepada Prabowo —selaku Presiden Terpilih— jika dilantik 20 Oktober 2024 nanti agar menepati komitmen kembali ke UUD 1945 sesuai naskah asli dengan teknik adendum. Kenapa? Sebab, dalam AD/ART Partai Gerindra sendiri tersurat jelas pada visi misi partai di Pasal 10 Ayat (1): “Mempertahankan kedaulatan dan tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945”. Ibu Pertiwi menunggu creative destruction (terobosan merusak) Prabowo guna menaikkan kembali harkat, martabat, dan kedaulatan NKRI yang nyaris lenyap akibat bangsa ini memakai UUD 2002. Demikianlah adanya, demikian sebaiknya. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaYaman dan Dinamika Blokade Laut Merah (Bagian 1)SelanjutnyaGeopolitical Flashpoints di Perkarangan NKRI

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents