Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Timur Tengah

Memprediksi Suriah Pasca Bashar al-AssadBashar al-Assad

Rusman

Rusman·11 Desember 2024·3 menit baca

Bagikan
Memprediksi Suriah Pasca Bashar al-Assad

Yang mengkhawatirkan dalam situasi Suriah Pasca-Assad adalah kondisi bisa berkembang penuh komplikasi seperti di Irak Pasca-Saddam Husein.

Assad memimpin Suriah lebih dari dua dekade.

Baru setelah meletus Arab Springs pada 2011 menyusul tumbangnya Ben Ali, Tunisia, Hosni Mubarok, Mesir, Moammar Gaddafi, Libya, barulah ide penggulingan Bashar al Assad dimulai. Namun berbeda dengan kasus Tunisia dan Mesir yang murni mengerahkan people power berbasis aksi massa, dalam melumpuhkan dan menghancurkan Libya dan Suriah, kekuatan-kekuatan mapan di Barat  strateginya dengan mengubah peoplle power berbasis aksi massa yang sejatinya bersifat nirmiliter,  diubah menjadi kombinasi antara people power berbasis massa dengan operasi militer dengan mengerahkan milisi-milisi bersenjata dari berbagai kelompok untuk melancarkan pemberontakan terhadap pemerintahan Bassar-al Assad. Dengan ini, berarti bukan lagi people power berbasis aksi massa, melainkan menjelma menjadi Perang Saudara (Civil War).

Dalam kasus Suriah nampak jelas sejak 2011 para pemberontak dimotori oleh Free Syrian Army dan Jabal al Nusra yang sekarang telah berubah menjadi Hizbut Tahrir al Sham (HTS), yang mendapat dukungan dari AS, Inggris dan Prancis. Bahkan sampai tingkat tertentu, juga dari Turki.

Namun yang mengkhawatirkan masa depan Suriah justru pasca tumbangnya Assad. Kenapa?

Sebab sebelum tumbangnya Assad pun, sudah ada pemain pemain tambahan yang melengkapi campur tangan asing seperti AS, NATO dan Rusia. Seperti Turki yang notabene masih anggota NATO, dan Iran yang bertumpu pada Hizbullah di Libanon. Selain itu juga suku Kurdi di Suriah Utara, AS dan Turki bertemu kepentingan untuk mengipasi Kurdi mendirikan negara sendiri lepas dari Suriah. Seperti halnya Kurdi di Irak menuntut negara sendiri di Irak Utara.

Malah menurut amatan saya AS jauh-jauh hari sudah mengincar sebagian wilayah Iran dan Turki untuk bisa mendirikan negara Kurdistan.

Begitulah modus negara-negara adikuasa untuk melemahkan negara yang dipandang melawan skema neokolonialisme politik ekonomi dan militer mereka.

Paling tidak rakyatnya diadu domba, saling berselisih dan ekonomi negaranya dihancurkan.

Kebetulan saya baru sekilas baca buku: Plan of Attack (rencana menyerang Irak dan menjatuhkan Saddam Hussien) karya wartawan senior Bob Woodward. Dengan itu, kasus Irak pasca Saddam kiranya dapat jadi rujukan buat memprediksi Suriah pasca Assad.

Ternyata invasi ke Irak sudah diputuskan Geirge W Bush pada Januari 2002. Padahal serangan ke Irak kan baru pada 2003 ya.

Menurut penelisikan Woodward, 72 hari setelah peristiwa 9/11 2001 secara amat rahasia di lingkungan kabinetnya, Bush merancang skenario perang sebelum Irak benar benar diserang akhir 2003.

Perintah perang ini semula hanya diketahui Menhan Rumsfeld (lantaran) diperintah Bush agar dirahasiakan, dan baru beberapa bulan ia panggil dan diperintahkan Komandan Kombatan Komando Tengah Jenderal Tommy Frank untuk menyiapkan rencana perang.

Jenderal Frank semula keberatan lantaran pasukannya yang ribuan personel sedang perang di Afghanistan yang menghadapi perlawanan hebat di sana.

Frank akhirnya menerima keputusan pimpinan Pentagon. Setelahnya baru Direktur CIA, George Tenet diberi tahu dan selanjutnya yang diberi tahu adalah Wapres Dick Cheney dan Penasehat Keamanan Nasional. Cindoleeza Rice.

Menariknya, Wapres Cheney mantan Menhannya G.W Bush senior, saat AS bersama pasukan multi nasional menyerang Irak 1991, Perang Teluk I, Desert Storm. Rumsfeld ternyata mantan Station Manager CIA di Timteng yang atas arahan bosnya merancang naiknya Saddam Hussein ke puncak kekuasaan.

Sedangkan Direktur CIA, waktu itu, adalah Bush senior yang kemudian jadi Wapresnya Reagan dan lalu jadi Presiden.

Jadi memang sudah lama direncanakan dan mencari momentum yang pas saja kapan untuk menghancurkan Irak.

Tapi ya itu tadi. Walau Saddan benar-benar sudah tumbang, ternyata AS gagal menguasai Irak menurut rancangan awalnya. Yaitu dirancang sebagai negara demokrasi, namun mayoritas rakyatnya yang penganut Syiah dan pro Iran yang justru memenangi pemilu sehingga sulit dikendalikan.

Di sini saya jadi berpikir. Apakah skenario lepas kendali ini benar benar karena AS dan Blok Barat memang gagal paham membaca peta geopolitik Irak, atau jangan jangan memang buah dari Skenario lepas kendali?

Sehingga dari chaos dan kekacauan inilah, memunculkan para pemain lokal yang selama ini tiarap di pinggir lapangan, sontak pada bermunculan ke pentas politik nasional.

Melihat skenario kejatuhan Assad sebagai buah dari Perang Saudara, saya khawatir kejatuhan Assad akan menjadi momentum bagi demokrasi Suriah berbasis SARA alih alih demokrasi berbasis masyarakat sipil.

Artinya, demokrasi bukannya sarana pemberdayaan masyarakat sipil. Melainkan jadi sarana memunculkan sentimen sentimen nasionalisme sempit dan sektoral untuk menggunakan demokrasi sebagai momentum mendirikan negara negara terpisah dari Suriah.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaSeharusnya Indonesia Bisa Berperan Sebagai Global Player Dalam Persaingan AS-CinaSelanjutnyaSkandal Karim Khan, Merusak Kredibilitas dan Legitimasi ICC Sebagai Mahkamah Pidana Internasional

Lainnya di Internasional

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analisis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 Agustus 2026 · 6 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents