Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Politik-Keamanan

Membaca Pembubaran GP ManiaGP Mania

Rusman

Rusman·11 Februari 2023·2 menit baca

Bagikan
Membaca Pembubaran GP Mania
Jab-Jab Kecil di Warung Kopi Siapapun. Entah GP Mania, Ganjarian, dan lain-lain, mereka adalah kelompok buzzer. Kumpulan orang yang diorganisir untuk meng- endorse, mendukung, serta melambungkan seseorang (objek) supaya ngetop dan dikenal publik. Sasarannya tak lain, agar si objek yang di- endorse memiliki elektabilitas tinggi di masyarakkat terkait konstelasi politik yang sedang berlangsung. Lazimnya para buzzer dalam menjalankan misi si tuan menggunakan ‘kacamata kuda’. Tak peduli cara yang ditempuh keliru, hoax, ataupun menyalahi adab, yang penting sasaran tercapai. Hampir segala cara dijalankan. Doktrin lazim yang dianut kelompok ini ialah ‘ketika tulang ada di mulut anjing, kebenaran hanya dari mulut tuannya’. Makanya era kini, kerap kali disebut post truth. Sebuah masa di mana kebenaran informasi diletak pada urut kesekian, sedangkan ‘kebohongan’ diframing sedemikian rupa seolah-olah kebenaran. Inilah era pembenaran alias post truth yang konon dimulai sejak serbuan koalisi militer Barat pimpinan Amerika Serikat ke Afghanistan tahun 2001-an atas nama War on Terrorism. Mereka —para buzzer —menyalak dan saling bersaut-sautan di ruang publik dalam rangka membentuk opini agar sesuai keinganan si tuan. Dan atas kerja tersebut, mereka memperoleh imbalan atau kompensasi. Kalau di dunia militer terdapat tentara bayaran, di dunia maya, itulah mereka. Jadi, kalau dibilang relawan, itu hanya eufemisme. Penghalusan kata belaka. Lebih tepat jika mereka dinamai ‘pamrihwan’. No free lunch. Tidak ada makan siang gratis di dunia politik praktis. NPWP. Nomer piro, wani piro? Buzzer kini menjadi ‘industri’ yang memproduksi komoditas (isu-isu) post truth, black campaign, dan lain-lain. Seiring konstelasi politik menjelang pemilu, misalnya, kelompok ini akan tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Mereka bukan partai politik, namun sering kali power-nya bisa sejajar dengan partai. Bahkan usai konstelasi pemilu, ada yang nekat membentuk partai politik berbasis jaringan buzzer. Sungguh unik, ketika dinamika politik semakin mengerucut, tetapi GP Mania kok justru membubarkan diri. Ini fenomena asyik lagi menarik untuk dicermati. Ada apa gerangan? Beberapa hipotesa muncul terkait pembubaran GP Mania, antara lain: 1. Apakah dukungan logistik sudah tersendat, bahkan tidak menetes lagi; 2. Adakah power di atas objek yang didukung justru menyuruh mereka menghentikan endorsement; 3. GP dipersepsikan sebagai capres tak potensial karena hingga kini belum ada sinyal-sinyal ia didukung PDI-P, atau partai lainnya; 4. Kebangkrutan peran ‘relawan’ (buzzer) dalam Pemilu 2024, dalam arti — semakin cerdasnya publik/nitizen. Dan buzzer kini bukan lagi kekuatan independen yang sejajar dengan partai; 5. Lazimnya kelompok buzzer memiliki ‘mentor’ ataupun bohir yang mengarahkan dan memproduksi isu-isu (‘komoditas’), atau tema gerakan. Bohir juga bisa semacam backing. Dan sang mentor-lah yang punya jaringan luas dengan entitas lain. Nah, pada isu pembubaran GP Mania ini atas instruksi si bohir alias mentor. Inilah lima asumsi dan/atau hipotesa yang terbaca dengan bubarnya GP Mania. Tidak ada maksud menggurui apalagi menyinggung para pihak yang keciprat tulisan ini. Mohon maaf. Juga bukan kebenaran, tak pula pembenaran. Hanya sharing uneg-uneg hilir hasil obrolan di warung kopi. End M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaMelacak Jejak Para Elit Pada Pemilu 2024SelanjutnyaStrategi Perang Indonesia

Lainnya di Politik-Keamanan

Lihat semua
Pilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis
Analisis

Pilpres 2029Pilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis

9 Juni 2026 · 3 menit baca

Untuk Mencegah Masuk Perangkap Orbit AS atau Cina, Saatnya Indonesia Memprakarsai Non-Aligned Cyber Diplomacy
Analisis

Untuk Mencegah Masuk Perangkap Orbit AS atau Cina, Saatnya Indonesia Memprakarsai Non-Aligned Cyber DiplomacyNon-Aligned Cyber Diplomacy

1 Mei 2026 · 9 menit baca

Kebijakan Industrialisasi Hilir Indonesia: Kontra Skema Mengakhiri Skema Neokolonialisme AS di Indonesia
Analisis

Kebijakan Industrialisasi Hilir Indonesia: Kontra Skema Mengakhiri Skema NeokolonialismeSkema Neokolonialisme AS di Indonesia

29 April 2026 · 12 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents