Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sosial

Memahami Realisme Radikal TolstoyTolstoy

Rusman

Rusman·14 April 2025·2 menit baca

Bagikan
Memahami Realisme Radikal Tolstoy

Ketika kita membaca “Anna Karenina” dengan teliti, juga karyanya yang lain “War and Peace”, kita akan merasakan betul teknik penulisan Tolstoy yang seperti “terobsesi” dengan detail. Tidak ada satu gerakan kecil pun yang lolos dari pengamatannya. Bahkan hal yang tampaknya sepele—Stepan Arkadyevitch menarik mansetnya atau menepuk-nepuk remah roti dari rompinya—semuanya disajikan secara teliti.

Orang menyebut teknik ini sebagai realisme radikal atau realisme ekstrem atau, lebih spesifik, realisme Tolstoy.

Dengan realisme radikalnya, Tolstoy menciptakan ilusi totalitas, dan ia melakukannya dengan sabar, untuk membuat pembaca tidak sekadar membayangkan dunia cerita tetapi juga seperti berada di dalamnya. Kita mencium harum parfum di jambang Oblonsky, menyaksikan remah roti jatuh ke lantai, atau merasakan senyum kaku Oblonsky kepada anak bungsu yang tidak begitu ia cintai.

*

Dalam bab 3 (yang terjemahannya baru saja saya posting pagi ini), Tolstoy tidak terburu-buru menyodorkan konflik besar. Ia mengajak kita menikmati setiap detail dalam rutinitas pagi Oblonsky. Bagaimana lelaki itu mempersiapkan diri untuk menemui istrinya, mulai dari merapikan manset, mengisi saku-sakunya dengan benda-benda pribadi, hingga membuka koran pagi yang masih lembap oleh tinta cetak, semuanya diberi perhatian penuh—demi ilusi totalitas itu.

Stepan Arkadyevitch, dengan segala kecerobohan yang merusak hubungannya dengan istrinya, tetap berusaha tampil rapi dan memikat. Maka, gerakan kecil seperti merapikan manset atau membusungkan dada sesudah sarapan menjadi simbol tentang kegamangan: di permukaan ia tampak riang, tetapi semua itu hanya tabir tipis untuk menutupi kekacauan batin yang pelan-pelan menggerogotinya. Senyum riang yang muncul “karena pencernaan yang baik”, seperti yang digambarkan dengan setengah ironi oleh narator, segera memudar begitu ia teringat akan keretakan rumah tangganya.

Gaya mirip Tolstoy, dengan penggambaran detail yang memukau, dilakukan sebelumnya oleh Gustave Flaubert dalam Madame Bovary, namun Tolstoy melangkah lebih jauh. Jika Flaubert menggunakan detail untuk membangun atmosfer, Tolstoy menjadikan detail sebagai jalan masuk ke psikologi karakter. Hal kecil seperti Tanya, putri Oblonsky, yang ragu menjawab pertanyaan apakah ibunya ceria, dan memerah karena malu terhadap kepura-puraan ayahnya, menjadi celah masuk bagi pembaca untuk melihat ketegangan batin anak-anak di tengah rumah tangga yang retak.

Dari teknik realisme radikal Tolstoy dan usahanya menciptakan ilusi totalitas, kita belajar bahwa detail renik dalam kehidupan sehari-hari—gerakan tangan yang tampaknya tanpa makna, bayangan pada cermin, aroma parfum di jambang—dihadirkan oleh penulisnya bukan melulu sebagai hiasan naratif. Dengan cara itu, Tolstoy tidak menulis cerita; ia menciptakan kehidupan. Jika anda sudah pernah membaca Anna Karenina sampai selesai, anda akan merasakan Tolstoy seolah-olah sedang menceritakan tokoh yang benar-benar ada, bukan tokoh khayalannya.[]

AS Laksana, Wartawan Senior dan Sastrawan

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKelas yang Sibuk dengan DirinyaSelanjutnyaWaspadai Agenda AS dan Uni Eropa Promosikan LGBT di Indonesia Dengan Dalih Hak-Hak Asasi Manusia

Lainnya di Sosial

Lihat semua
Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026
Geopolitik

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika SerikatAmerika Serikat 2026

24 Juli 2026 · 7 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents