Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Khawatir Dengan Supremasi Cina di Asia Selatan dan Samudra Hindia, India Bergabung Dalam Persekutuan Militer Asia PasifikAsia Pasifik (QUAD)

Hendrajit

Hendrajit·13 Juli 2025·5 menit baca

Bagikan
Khawatir Dengan Supremasi Cina di Asia Selatan dan Samudra Hindia, India Bergabung Dalam Persekutuan Militer Asia Pasifik (QUAD)

Seturut terbentuknya Persekutuan Empat Negara (Quadrilateral -QUAD) di Asia Pasifik (AS, Australia, Jepang dan India) dalam bingkai Strategi Indo-Pasifik Amerika Serikat), menarik menyorot peran India. Bisakah kita anggap India melalui skema persekutuan militer QUAD, merupakan alat politik-militer AS dan blok Barat menghadapi meluasnya pengaruh Cina di Asia Pasifik?

Pada Maret 2021, ketika Quad mengadakan pertemuan para pemimpin puncaknya dan mengeluarkan komunike bersama untuk pertama kalinya, para pejabat Republik Rakyat Cina mulai memandang QUAD sebagai potensi ancaman. QUAD dipandang oleh Cina bertujuan untuk membangun suatu koalisi besar negara-negara di Asia Pasfik secara multilateral untuk melawan Cina.

Nah, sala satu negara yang oleh AS dan negara-negara Eropa  Barat yang tergabung dalam NATO cukup efektif sebagai ujung tombak menghadapi Cina di kawasan Asia Pasifik adalah India. Kondisi obyektif untuk memicu menajamnya konflik laten antara Cina versus India, adalah isu Kashmir dan Tibet.  Pada Juni 2020, pasukan militer Cina dan India terlibat konflik bersenjata di sepanjang wilayah-wilayah perbatasan kedua negara. Alhasil, walaupun sepanjang tahun 2017 pemerintah Cina bersikap setengah hati bergabung dalam persekutuan QUAD, sejak insiden Juni 2020 tersebut India mulai mempertimbangkan kembali prioritas strategisnya. Persekutuannya dengan AS dan blok Barat yang semula ragu-ragu, sejak itu semakin tegas berkomitmen dengan persekutuan QUAD.

Begitulah. Ketegangan India dengan Cina dibidang ekonomi, militer dan diplomatik dengan Cina, pada perkembangannya India kemudian memandang persekutuan QUAD menjadi suatu mekanisme yang cukup menarik terkait prioritas strategisnya yaitu melindungi India terhadap potensi ancaman militer dari Cina di masa depan.

Baca dan bandingkan:

As Quad Completes 20 Years, India Takes on Multiple New Responsibilities

Adapun di mata Cina, India juga merupakan negara yang patut diperhitungkan. Betapa tidak. di antara semua negara Quad, India adalah satu-satunya negara yang berbatasan dengan Cina. Bahkan seringkali terlibat konflik bersenjata di wilayah-wilayah perbatasan kedua negara. Misalnya di Himalaya Timur.

Sehingga kekhawatiran India terhadap wilayah-wilayah perbatasannya dengan Cina yang kerap memicu kontak senjata antara kedua negara, kemajuan Cina di bidang ekonomi dan militer yang semakin besar dan mengungguli India, menyebabkan India menetapkan prioritas strategisnya adalah melindungi kedaulatan nasionalnya terhadap ancaman militer Cina, sehingga  bersekutu dengan QUAD untuk melawan Cina menjadi opsi yang masuk akal dari sudut pandang kepentingan nasional India. Yang mana itu berarti India semakin masuk ke dalam orbit pengaruh AS dan sekutu-sekutu Eropa Barat yang tergabung dalam NATO.

Dalam perspektif geopolitik Cina maupun India, wilayah Himalaya utamanya Himalaya Timur, merupakan wilayah perbatasan antara India dan Cina yang celakanya belum ditentukan secara jelas batasan-batasannya. Sehingga Cina maupun India setiap saat bisa terpancing untuk terlibat konflik militer untuk mengklaim wilayah perbatasan tersebut.

Jika tren terbaru ini semakin menguat, bagi India hal ini merupakan suatu ironi. Sejak 1955, India bersama Indonesia, Pakistan, Sri Lanka dan Myanmar, merupakan negara-negara pemrakarsa Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Indonesia, dengan mengangkat tema anti-kolonialisme dan anti-imperialisme sebagai perekat di antara 29 negara peserta Konferensi Asia-Afrika. Pada 1961, India juga bersama Indonesia, Mesir, Ghana dan Yugoslavia, memparakarsai Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Nonblok 1961 di Beograd, dengan mengangkat tema Perjuangan Aspirasi Negara-Negara Berkembang (Developing Countries).

Kedua event internasional tersebut, sikap India seperti juga Indonesia dan negara-negara pemrakarsa KAA Bandung 1955 maupun Nonblok Beograd 1961, menganut garis kebijakan luar negeri yang berhaluan nonblok dalam arti tidak memihak kutub AS-Eropa Barat versus Uni Soviet-Cina dalam era Perang Dingin. Maka bagi AS, Inggris dan negara-negara NATO, India dipandang sebagai mata-rantai terlemah dalam kerangka persekutuan blok Barat. Bahkan hingga 2017, saat persekutuan QUAD dicanangkan, India pun masih dipandang sebagai mata rantai terlemah dari persekutuan QUAD.

Namun sejak 2020-2021, kebijakan luar negeri India telah berbalik arah. Sekarang lebih menganut garis kebijakan luar negeri yang berhaluan pro AS dan blok Barat. Sehingga persekutuannya dengan QUAD pun sepertinya semakin erat, dan tidak lagi ragu-ragu atau ambigu seperti pada awal terbentuknya QUAD pada 2017.

Padahal sebelumnya, India merasa sangat percaya diri bahwa seiring kebangkitan Cina, India pun berada dalam kondisi yang juga sedang bangkit sebagai kekuatan besar di Asia seperti halnya Cina.  Sehingga alih-alih bersekutu dengan QUAD yang berarti ikut dalam orbit pengaruh AS dan blok Barat, India waktu itu merasa lebih nyaman mengambil haluan kebijakan luar negeri dan pertahanan-keamanan yang berhaluan nonblok.

Selain dipicu oleh kekhawatiran India terhadap Cina di wilayah perbatasan kedua negara utamanya Himalaya, supremasi Cina dalam bidang ekonomi dan militer di kawasan Asia Selatan pun telah mengguncang ego India sebagai primadona Asia Selatan selama ini. Sehingga bergabung dalam persekutuan dengan AS dan blok Barat dalam Bingkai Strategi Indo-Pasifik AS, sepertinya dalam telaah strategis India, merupakan satu-satunya pilihan yang tersisa untuk menyeimbangkan kembali keunggulannya terhadap Cina. Termasuk memulihkan kembali keunggulan Cina di Asia Selatan maupun Samudra Hindia.

 

As Quad Completes 20 Years, India Takes on Multiple New Responsibilities

Baiklah, itu jika kita telaah dari sudut pandang prioritas strategis India. Bagaimana dengan pandangan AS terhadap India dalam bingkai Strategi Indo-Pasifik AS dan persekutuan empat negara (QUAD)? Menariknya, cara pandang geopolitik Washington terhadap Asia Pasifik sangat tergantung siapa presidennya. Di era pemerintahan Donald Trump pada 2017-2019 dan periode kedua kepresidenan Trump saat ini, cenderung memandang Cina secara konfrontatif. Sehingga cenderung membingkai Strategi Indo-Pasifik AS untuk melemahkan pengaruh Cina di Asia Pasifik (baca: Indo-Pasifik menurut versi AS).

Adapun pemerintahan Joe Biden yang berkuasa pada 2021-2024, memang tetap melanjutkan dan bahkan memperdalam komitmen komitmen AS terhadap persaingan strategis dengan Cina. Sehingga pemerintahan Biden lebih menginginkan Quad menjadi mekanisme kemitraan antara negara-negara demokrasi besar di Indo-Pasifik yang memberikan manfaat publik dan manfaat konkret lainnya bagi kawasan, dan telah beralih dari membingkai Quad secara terang-terangan sebagai alat anti-Cina.

Namun meskipun terang-terangan dan konfrontatif ala Presiden Trump atau ala mantan presiden Joe Biden yang lebih persuasif dan lebih mengutamakan kampanye dan penyebarluasan skema Neoliberalisme Ekonomi dan pasar bebas melalui tekanan diplomatik dan Kemitraan Strategis dengan negara-negara yang berada dalam lingkup Indo-Pasifik versi AS, namun hakekatnya tetap sama. Mendorong aliansi strategis negara-negara di Asia Pasifik, untuk melawan menguatnya pengaruh Cina di bidang ekonomi, diplomasi dan militer.

Dalam konstelasi geopolitik internasional seperti saya gambarkan tadi, rasa-rasanya sulit untuk membantah bahwa India saat ini melalui persekutuan Empat Negara (QUAD), merupakan instrument politik dan militer AS bukan saja untuk melawan Cina di Asia Pasifik, bukan juga berpotensi menjadi musuh bersama negara-negara yang menolak bersekutu dengan AS dan blok NATO, atau negara-negara yang lebih memilih kebijakan luar negeri yang berhaluan nonblok seperti Indonesia.

Lebih daripada itu, India seharusnya menyadari bahwa dalam dinamika global yang semakin berkembang pesat dan dinamis saat ini, membahas isu keamanan dan pembangunan tanpa melibatkan Cina, hanya ilusi dan omong kosong belaka.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaMuncul Tiga Kemiskinan Akibat Operasional UUD 2002SelanjutnyaProgram Hujan Buatan Untuk Operasi Militer 1966

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents