Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Ketika Langit Dijaga Rudal, Rahasia BocorRahasia Bocor di Daratan

Rusman

Rusman·26 Maret 2026·6 menit baca

Bagikan
Ketika Langit Dijaga Rudal, Rahasia Bocor di Daratan

Membaca Paradoks Kekuatan Bangsa Arya dalam Perang Teluk 2026

Prolog: “Paradoks yang Diciptakan”

Ada satu paradoks telanjang jika membaca Iran hari ini. Dalam Perang Teluk antara Iran melawan Amerika Serikat (AS)-Israel sejak 28 Februari 2026 lalu, Bangsa Arya yang mampu membuat langit bergetar dan pihak lawan gentar, namun seperti gagal menutup kebocoran di dapurnya sendiri. Memang terdengar garang di angkasa, entah melalui rudal balistik, drone tempur, atau doktrin mosaik dalam peperangan atrisi-asimetri. Namun dari sisi daratan, terdapat celah yang terus dan terus berulang. Nyaris sistemik. Pokok persoalannya ternyata bukan teknis-ironi, karena “celah” itu bahkan sudah melembaga dalam kebijakan dan strategi di Iran – lalu dipersepsikan pihak eksternal sebagai kontradiktif.

Tak dapat dipungkiri, Iran bukan organisme sembarangan. Di tengah gempuran embargo pun mampu membangun arsenal rudal terbesar di kawasan. Berbagai laporan menyebut, ia memiliki ratusan hingga puluhan ribu rudal balistik dengan jangkauan 300 kilometer (km) hingga 2.000 km, bahkan sejumlah varian rudalnya diklaim mencapai 4.000-an km. Artinya, dari Teluk Persia, ia mampu menembak target strategis lintas kawasan hingga pangkalan militer musuh terjauh di Samudra Hindia. Kendati berita terakhir ini —isu Diego Garcia— masih debatable, liar berkelindan di antara hoaks, false flag operation, realitas serangan, atau sebuah counter-false flag.

Runtuhnya Superiotas Kapal Induk dan Jet Tempur F-35

Ditambah lagi dengan proliferasi (pembiakan) drone tempur berbiaya murah namun efektif — produksi cepat skala besar— Iran memainkan ritme yang tidak bisa diimbangi banyak negara terutama dalam strategi atrisi-asimetri. Sepertinya lahir doktrin perang terbaru di abad ke-21: murah, mematikan, masif dan non-konvensional. Hal ini terbukti, ketika platform raksasa seperti USS Abraham Lincoln dan USS Gerald Ford dipaksa balik kandang dengan alasan teknis-operasional. Padahal, kedua kapal induk itu rusak dihajar rudal-rudal Iran. Atau, legenda F-35 super-canggih ternyata bisa ditembak jatuh oleh Iran. Wow! Jet tempur seharga ratusan juta USD dilibas oleh rudal yang jauh harga di bawahnya. Isu pun menyeruak: “dunia tak lagi percaya kecanggihan teknologi-perang Barat”. Maka langit Iran merona bagi AS-Israel. Memang. Kendati tak bisa menyamai kapasitas lawannya (AS) secara fisik-kualitas, setidaknya Iran mengejutkan dalam hal intensitas serbuan, peristiwa tak lazim jatuhnya F-35 dan rusaknya kapal induk, ataupun penciptaan ketidakpastian kondisi. Inilah yang kini berlangsung dalam Perang Teluk 2026.

Akan tetapi, di balik gelegar rudal-rudal Iran, ada sisi gelap yang jarang diulas secara terbuka: kegagalan menutup rapat sisi dalam.

Kontra Intelijen: Nilai dan Doktrin Mosaik

Serangkaian operasi presisi tinggi oleh AS-Israel yang menarget individu (pimpinan dan tokoh) serta fasilitas strategis Iran —kerap dikaitkan kebocoran sisi internal— memperlihatkan konsistensi pola lawan, bukan sekadar faktor kebetulan. Target bergerak bisa dilacak. Lokasi sensitif dapat dipeta. Waktu serangan nyaris akurat. Hal ini, bukan tentang kecanggihan teknologi presisi, namun tercium ada penitrasi dan infiltrasi intelijen asing di lingkup internal elitnya.

Kontra-intelijen, begitu terminologinya. Seharusnya menjadi pelindung senyap bagi VVIP dan objek vital lainnya, namun tampaknya belum menjadi prioritas absolut di jajaran militer Iran. Kenapa? Tatkala menelisik lebih dalam, ternyata akar persoalan tidak lepas dari faktor non-teknis: NILAI.

Figur seperti Ali Khamenei, misalnya, bukan hanya pemimpin politik, ia merupakan simbol moral-spiritual, karena merepresentasikan kebenaran, keberanian, kesederhanaan, kenegarawanan, dan kedekatan dengan rakyat di segala situasi, bahkan saat situasi genting sekalipun. Narasi klasik kepemimpinan mengajarkan, bahwa pemimpin tidak bersembunyi, tidak berjarak, dan tetap terlihat bersama rakyat adalah poin utama legitimasi nilai kepemimpinan yang tumbuh subur di jajaran elit dan tokoh Iran. Namun, justru di sinilah letak ironi itu.

Di lapangan, dunia intelijen tidak memberi toleransi bagi simbolisme apapun. Dalam logika keamanan level tinggi: anonimitas adalah perlindungan; mobilitas itu bentuk kamuflase; dan ketertutupan ialah keunggulan. Ketika nilai-nilai keterbukaan dipertahankan dalam koridor ancaman tinggi, maka yang muncul bukan kekuatan moral, melainkan kerentanan. Dalam kalimat lain, Iran memang tidak selalu kalah meski lawannya besar dan kuat, ia kerap terbuka serta mudah dibaca pihak lawan. Manakala menelaah kelemahan (celah) ini, syukurlah — mosaic defense doctrine bisa menutup celah dimaksud. Karena otoritas-komando terbagi habis serta terdesentralisisi dalam unit-unit kecil, tangguh, lincah, dan sulit dipatahkan karena ia “miniatur negara”. Jadi, ketika sang pemimpin tewas pun, perlawanan tidak lantas luruh-mereda, sebaliknya — justru memberi amunisi moral-juang untuk terus dan terus melawan hingga titik darah penghabisan. Nilai-nilai inilah yang sekarang subur berbiak di Iran. “Mati satu tumbuh seribu”.

Menabuh Gendang Melalui Perang Atrisi-Asimetri

Di saat yang sama, Iran memilih risiko berbeda. Ia memang tidak mengembangkan angkatan udara seagresif negara lain. Ketika dunia berlomba memiliki jet tempur generasi kelima seperti F-35 —yang dilengkapi stealth, sensor canggih, dan teknologi udara modern— Iran memilih jalur berbeda. Mengapa begitu?

Bukan tanpa alasan. Sanksi internasional puluhan tahun membuat modernisasi jet tempur menjadi sangat mahal. Banyak armada udara Iran dinilai usang karena bertumpu pada platform 1970-an yang dimodifikasi. Alih-alih memaksa diri di arena yang serba mahal, ia mengalihkan investasinya ke rudal, drone, dan misil-misil murah dalam skala industri.

Secara matematis, ini masuk akal. Harga satu jet tempur modern bisa setara dengan ratusan drone, bahkan ribuan rudal balistik. Nah, dalam perang atrisi-asimetri yang tengah dikembangkan Iran, pilihan ini memberi daya tahan lama dalam pertempuran, meski secara teori – dianggap “blind spot” di angkasa. Ya. Tanpa dominasi udara, Iran tidak benar-benar menguasai ruang tempur, hanya mampu membuat langitnya berbahaya. Itu dua hal berbeda. Yang satu memberi kontrol karena ada celah, satunya lagi menciptakan risiko karena kemampuan serangan dari bawah. Jika risiko hanya bisa dikelola, kalau celah dapat dieksploitasi. Di titik ini, Iran hanya mampu mengelola serangan ke udara, namun tak bisa mengekploitasi melalui dirgantara.

Muncul pertanyaan provokatif, “Apakah Iran sedang membangun kekuatan jangka panjang, atau sekadar bertahan dengan menambal celah lalu menggertak lawan dengan rudal?” Kenapa demikian, bahwa fakta di lapangan menunjukkan dua hal tadi berjalan bersamaan. Satu hal, Iran cukup kuat untuk menjebak lawannya bermain dalam panggung atrisi-asimetris — perang tempo lama, penuh ketidakpastian, mahal dan melelahkan. Maka ibarat pagelaran, ia seperti penabuh gendang yang menentukan ritme dan tarian konflik, di mana AS-Israel selain tidak bisa berpolah seenaknya, kerap justru menari-nari dalam irama gendang yang ditabuh Iran. Tapi dalam hal lain, ia belum memaksimalkan rumahnya benar-benar steril dari infiltrasi intelijen asing.

Epilog: Target Bergerak Menuju Pyrrhic Victory

Dalam kronologi perang modern, kekalahan jarang datang dari serangan frontal. Kekalahan justru datang dari sisi internal — rahasia bocor, misalnya, atau sistem informasi diretas, kepercayaan dikhianati, dan lain-lain. Makanya Iran tidak mengejar kemenangan. No target. Ia hanya membuat perang menjadi panjang, menguras sumber daya lawan, menciptakan ketidakpastian — di mana ujungnya adalah: Pyrrhic Victory. Boleh “menang” tetapi Anda bangkrut. Tak mampu meneruskan pertempuran.

Menilai Iran hari ini ibarat membidik target bergerak: cepat berubah, penuh kabut, dan kerap kali menipu persepsi. Tapi, ada satu hal yang sulit dibantah, pada satu sisi, terdapat ketimpangan antara kekuatan yang disuguhkan, di sisi lain ada endapan kerentanan karena faktor keterbukaan. Iran ingin dunia fokus pada ledakan rudal. Namun terkadang ia lupa, bahwa dunia — khususnya AS-Israel justru fokus mengeksploitas sisi lemahnya: kontra-intelijen.

Pada akhirnya, dalam perspektif intelijen-geopolitik, memang bukan senjata canggih dan modern yang menentukan akhir pagelaran, namun siapa paling sedikit membuka celah, dan seyogianya menutup rapat-rapat semua informasi terhadap musuh-musuhnya.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaHormuz: Kuburan Ambisi PerangSelanjutnyaMembaca “Efek Domino” Dari Perang AS-Israel versus Iran Yang Belum Terlihat Secara Kasatmata

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents