Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

KebenaranKebenaran Tak Bisa Dikalahkan

Rusman

Rusman·29 Desember 2025·3 menit baca

Bagikan
Kebenaran Tak Bisa Dikalahkan

Kontemplasi Kecil di Ujung 2025

Dalam teori politik dan hukum, legitimasi kekuasaan ialah prasyarat utama bagi keberlanjutan suatu negara. Max Weber membedakan legitimasi menjadi tiga hal yakni legitimasi tradisional, karismatik, dan rasional-legal.

Dalam konteks negara demokratis kontemporer, legitimasi rasional-legal —yang bertumpu pada hukum, prosedur, dan keadilan— menjadi fondasi utama. Akan tetapi, ketika kekuasaan lahir dari kecurangan serta dipertahankan melalui jejaring koalisi, kolusi, nepotisme bahkan korupsi sistemik, maka fondasi tersebut niscaya mengalami erosi sangat serius.

Kekuasaan yang dibangun di atas manipulasi prosedural memang tidak seketika kehilangan bentuk formalnya, ia hanya kehilangan substansi moral politik.

Secara formal, hukum tetap berlaku, namun secara praktis — hukum berfungsi selektif. Jadi, (hukum) tidak lagi menjadi instrumen keadilan sosial, melainkan mekanisme legitimasi bagi kepentingan elit. Dalam kondisi ini, ia berubah dari rule of law menjadi rule by law — hukum menjadi alat kekuasaan.

Fenomena ini menciptakan distorsi struktural fundamental dalam hubungan antara negara dan warga. Negara yang seharusnya berperan sebagai pelindung hak-hak sipil dan politik, ia bergeser serta bertransformasi hanya memprioritaskan perlindungan bagi jaringan kepentingan elit kekuasaan saja. Akibatnya, keadilan tidak lagi diukur berdasarkan prinsip kesetaraan di depan hukum, tapi berbasis kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Rezim dengan legitimasi lemah cenderung membingkai narasi politik serta membalik nilai-nilai moral dan etis. Contoh, kejujuran diposisikan sebagai ancaman stabilitas, kritik dianggap gangguan, dan kebenaran direduksi menjadi opini yang dapat dinegosiasi.

Dalam lanskap ini, fabrikasi isu-isu, misalnya, atau tebaran informasi dan lain-lain tidak untuk pencerahan publik, namun sekadar mengaduk alam bawah sadar rakyat, dan mengendalikan persepsi publik. Gilirannya, ruang publik dipenuhi disinformasi (hoaks), polarisasi, bahkan adu domba horizontal dalam rangka melemahkan konsolidasi warga.

Secara struktural, kebijakan publik pada rezim semacam ini jarang berorientasi pada kepentingan umum. Regulasi dirancang cuma untuk mengamankan kekuasaan, melestarikan privilese (hak-hak istimewa) ekonomi politik, serta menutup ruang akuntabilitas. Memang. Demokrasi tetap dipertahankan secara prosedural —melalui pemilu dan lembaga formal dan lain-lain— namun kehilangan dimensi substantif, yaitu partisipasi ikhlas, kepercayaan, dan keadilan dalam kompetisi politik.

Dalam literatur ilmu politik, kondisi ini sering berujung krisis legitimasi. Ketika saluran koreksi institusional dibatasi, aspirasi transparansi dan perlawanan sipil dilemahkan — bahwa ketegangan sosial bukannya menghilang, tetapi justru terakumulasi. “Ada api dalam sekam.” Dan ia bisa muncul sewaktu-waktu —menunggu momentum— dalam bentuk gejolak sosial, misalnya, atau krisis multidimensional —ekonomi, politik dan kemanusiaan— bahkan gejolak alam.

Di sinilah relevansi dimensi normatif dan moral etis menjadi penting. Kebenaran, dalam pengertian moral dan epistemik, tidak dapat dieliminasi sepenuhnya oleh kekuasaan. Ia bisa ditekan, disingkirkan dari ruang formal, atau dikaburkan melalui kontra (opini) narasi, tetapi sebenarnya ia tetap eksis dalam kesadaran sosial dan alam bawah sadar masyarakat serta pengalaman kolektif warga.

Sejarah mengajarkan, bahwa rezim yang secara sistematis memusuhi kebenaran pada akhirnya akan kehilangan legitimasi, baik melalui perubahan politik secara gradual maupun kejatuhan mendadak. Ataupun, diterjang gejolak alam.

Dengan demikian, kekuasaan yang menafikan kebenaran sejatinya sedang mempercepat delegitimasi bagi dirinya sendiri. Kenapa? Sebab, negara tidak hanya berdiri di atas kekuatan koersif, tapi mutlak kudu ditopang oleh kepercayaan publik. Sebuah keluarga misalnya, ia tak akan pecah hanya karena kemiskinan. Tetapi, jika di antara anggota keluarga sudah saling tidak percaya, maka tinggal menunggu waktu saja. Dan kepercayaan hanya dapat tumbuh dari kejujuran, kebenaran, akuntabilitas, serta upaya serius merajut keadilan sosial.

Kebenaran —pada akhirnya— tidak bisa dikalahkan. Ya. Kebenaran hanya dapat ditunda hingga struktur kekuasaan yang menopang kehilangan alasan untuk bertahan. Sekali lagi, ia tak dapat dikalahkan, karena kebenaran itu dari Tuhanmu (Al-Baqarah 147). Ia hanya bisa disingkirkan. Itupun sebentar. Percayalah.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaMenyoal Marunda: Hierarki Sosial dalam Krisis Ekologi UrbanSelanjutnyaKe Mana Trump Corollary Melaut dan Berlabuh?

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents