Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Budaya

Kaki Tangan HerenHeren di Timur

Rusman

Rusman·7 Agustus 2025·5 menit baca

Bagikan
Kaki Tangan Heren di Timur

“Banyak sejarawan mengatakan bahwa VOC runtuh karena korupsi. Tapi banyak pula, di antaranya sejarawan terkenal van Leur dan Schrieke, menyangkal hal itu… Soal lain yang disinggung Boxer dapat menyebabkan kebangkrutan VOC adalah terlibatnya mereka pada perang dan politik. VOC adalah perseroan dagang dengan tujuan mengambil untung sebanyak mungkin. Karena perdagangan itu dipaksakan dengan kekerasan tentu ada pembiayaan bagi perang dan politik.”

Resensi oleh: Onghokham
(TEMPO, No. 23 Thn. XIII, 6 Agustus 1983)

Judul Buku: Jan Kompeni Dalam Perang dan Damai: Sejarah Singkat tentang Persekutuan
Dagang Hindia Belanda
Pengarang: C.R Boxer
Penerbit: Sinar Harapan, Jakarta, 1983, 160 halaman

Kalau cuma membaca judulnya saja orang akan mengira buku ini adalah mengenai sejarah Indonesia. Jan Kompeni atau VOC sebenarnya memiliki kegiatan yang lebih luas daripada di Indonesia saja – pada masa jayanya di bad ke-17. Kegiatannya menjangkau seluruh Asia.

Peran VOC terbesar memang di Indonesia. Dan markasnya di Asia adalah di Kota Batavia (sekarang Jakarta). Tapi dalam buku ini soal sejarah Indonesia hampir tidak disinggung. Misalnya, mengapa kerajaan-kerajaan di Indonesia demikian mudah dikuasai VOC?

Sebagai sejarawan kolonial di Asia, Boxer hanya menunjukkan perhatian pada segi Barat saja. VOC dilukiskan dengan strukturnya, yang di Nederland dikuasai oleh Heren XVII, sebagai wakil para saudagar besar dari berbagai provinsi yang tergabung dalam satu uni. Kota Amsterdam dalam VOC memiliki saham terbesar sebagai kota terkaya di Belanda pada zaman itu. Berhasil didirikannya VOC merupakan sesuatu yang besar dan raksasa mengingat renggangnya uni Belanda di masa itu. Hanya kesadaran akan saingan dari negara lain yang merealisasi adanya VOC.

VOC adalah perseroan dagang dengan tujuan mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Tapi beroperasi di daerah Timur di mana kedudukan dagang harus direbut dengan kekerasan dari raja-raja Indonesia dan Timur lainnya. Pada abad itu antara perdagangan, pembajakan laut, perang, dan politik memang tidak ada perbedaan yang besar. Tipe (model) ideal tokoh VOC yang berhasil adalah serdadu pedagang (soldier-merchant) seperti Laksamana Speelman yang menaklukan Makassar dan mengadakan aliansi pertama antara VOC dan raja Mataram. Namun dalam organisasi para pejabat pedagang VOC tetap lebih unggul dari militer. Ini terlihat dari kedudukan para gubernur-jenderal yang merupakan wakil tertinggi dari Heren XVII di Belanda.

Tidak saja terhadap raja-raja Indonesia VOC berlaku keras. Juga pada saingannya yang terbesar: Inggris. VOC pernah mengusir orang Inggris dari Banten dan membantai mereka di Maluku, yang terkenal sebagai Ambonse Moord, pada abad ke-17.

VOC, menurut Boxer, penting bagi perekonomian Belanda, antara lain, karena memberikan pekerjaan, kesempatan pada modal untuk berkembang, dan mobilitas sosial. Boxer benar. Kemiskinan dan taraf hidup rakyat bawahan di Batavia pada abad ke-17 menyolok sekali. Ruangan tidur tanpa jendela dan didiami sepuluh orang atau lebih. Hal inilah yang mendorong orang mencari jalan keluar dari sana dan berpetualangan di Timur. Dan ini sekaligus menghindarkan Belanda dari keresahan, bahkan revolusi sosial, di dalam negeri.

Dalam abad ke-18 VOC menurun dan akhirnya menghadapi kebangkrutan. Sebabnya? Menurut Boxer, mutu orang yang dipekerjakan sebagai pejabat, serdadu, kelasi, dan sebagainya menurun kualitasnya. Sebab tenaga-tenaga itu diperoleh VOC melalui ronselarij – pembujukan dengan cara memabukkan gelandangan di kota-kota pelabuhan. Setelah mereka dalam keadaan tidak sadar lalu dimasukkan ke dalam tangsi-tangsi VOC dan kemudian dikirm ke Timur.

Banyak sejarawan mengatakan bahwa VOC runtuh karena korupsi. Tapi banyak pula, di antaranya sejarawan terkenal van Leur dan Schrieke, menyangkal hal itu. Boxer sendiri mengatakan dalam serikat dagang Inggris, East India Company (EIC) juga banyak korupsi. Namun dalam zaman itu mereka justru unggul.

Soal lain yang disinggung Boxer dapat menyebabkan kebangkrutan VOC adalah terlibatnya mereka pada perang dan politik. VOC adalah perseroan dagang dengan tujuan mengambil untung sebanyak mungkin. Karena perdagangan itu dipaksakan dengan kekerasan tentu ada pembiayaan bagi perang dan politik. Batavia, umpamanya, merupakan suatu pos kerugian. Sebab pembiayaan pertahanannya selalu tinggi. Tidak demikian halnya dengan markas lain di Persia dan Jepang.

Ekspansi kolonial Hindia Belanda ternyata sering juga tidak didasarkan atas kepentingan ekonomi. Tapi pada kepentingan politis. Sebab dilihat dari sudut ekonomis sama sekali tidak ada motivasi kuat bagi ekspansi di Kalimantan Barat, Aceh, Bali, Flores, Sumba, Sumbawa, ataupun Irian. Pertimbangan politis dan militer adalah dasar dari ekspansi tersebut.

Politik ekspansi VOC ini tentu ada dasar ekonomisnya. Yakni: obsesi VOC akan monopoli perdagangan. Dengan demikian para sejarawan yang selalu mencari motif ekonomis dapat dibenarkan. Dalam rangka ini harus ditunjukkan, seperti juga Boxer melakukannya, bahwa bukan perdagangan Asia-Eropa yang menjadi tujuan VOC, ataupun EIC, tapi penguasaan perdagangan inter-Asia.

Kalau perseroan dagang Barat hanya bertujuan untuk mengimpor rempah-rempah Indonesia dan hasil bumi Asia lainnya ke Eropa, benua terakhir ini akan ditempatkan dalam kedudukan yang sama seperti kini dihadapi Barat dalam persoalan perdagangan dengan negara penghasil minyak di Timur Tengah dan Jepang. Negara-negara Asia ini menjadi kaya-raya karena ekspor minyak dan lain-lain. Sedang mereka hanya membeli sedikit dari Barat. Demikian juga sebenarnya negara-negara Asia dalam abad ke-17-an. Mereka tidak memerlukan bir, gandum, atau barang ekspor lainnya dari Barat. Tapi Barat memerlukan teh, sutra, tekstil, rempah-rempah dari Asia. Penguasaan perdagangan antar-Asia oleh Barat harus membayar impor Eropa ini dan menjadikan Barat suatu kekuatan politik di Asia.

Buku Jan Kompeni sebenarnya kurang mendalam mempersoalkan hal-hal pokok itu – yang kini oleh sejarawan F. Wallerstein banyak dikemukakan. Buku ini lebih menekankan semangat dan budaya. Sebagai buku demikian ia sangat berharga – khususnya karena banyak gambar-gambar.

Mungkin karena sifat-sifatnya, buku ini lebih menjelaskan mengenai warisan VOC atau Kompeni pada kita dibanding buku-buku lain. Saya sangat menganjurkan bagi sejarawan, para peminat sejarah, dan lain-lain untuk membacanya. Khususnya karenaBOxer ini adalah seorang ilmuwan yang menulis dengan cara populer tanpa mengurani nilai akademisnya. Di sinilah terletak kelebihan Boxer yang menjadikan semua sejarawan iri hati.

Onghokham

Sumber: TEMPO, No. 23 Thn. XIII, 6 Agustus 1983

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaAmerika Latin Dalam Jebakan TransisiSelanjutnyaIslamophobia dan Muslim di Eropa

Lainnya di Budaya

Lihat semua
Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
Budaya

Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi DerridaDekonstruksi Derrida

6 September 2026 · 1 menit baca

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Budaya

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 Agustus 2026 · 9 menit baca

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents