Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Greenland, Iran atau Kanada: Dilema Pada Senja Hegemoni AmerikaHegemoni Amerika

Rusman

Rusman·11 Januari 2026·4 menit baca

Bagikan
Greenland, Iran atau Kanada: Dilema Pada Senja Hegemoni Amerika

Ngobrol dengan Ichsanuddin Noorsy tentang Titik Kritis Geopolitik dan Senja Hegemoni Amerika di Tebb-Six Coffee, Cab. Gd Serpong

Dinamika geopolitik global hari-hari ini bergerak semakin gaduh, cepat, ke segala arah dan sulit diprediksi (unpredictable). Salah satu pemicunya ialah kepemimpinan Donald Trump yang terang-terangan menafikan hukum internasional dan tatanan berbasis hukum, digantikan oleh kehendak sepihak kekuasaan. Para analis hubungan internasional menyebutnya, rule-based order yang berintikan syahwat kuasa kekuatan Trump.

Pernyataan Trump, “I don’t need international law, only my own mind can stop me” bukan sekadar retorika. Itu cermin perubahan besar dalam cara Amerika Serikat (AS) melihat dunia. Fenomena ini dapat disebut sebagai Trump Corollary. Sebuah pola respons geopolitik agresif yang lahir dari kekalahan konflik ekonomi global. Kekalahan ini menggelar watak personalnya. Trump bukan penyebab utama kekacauan global, melainkan gejala dari berakhirnya hegemoni Amerika. Ia menggantikan hegemoni menjadi dominasi.

Transisi Tatanan Global

Setidaknya ada tiga perubahan besar yang membentuk lanskap geopolitik kontemporer. Yaitu:

Pertama, pergeseran esensi geopolitik dari “follow the oil” menuju “follow the rare earth elements (REE)”. Isu transisi energi, misalnya, atau teknologi hijau, kecerdasan buatan, dan persenjataan presisi menjadikan REE sebagai komoditas strategis di abad ke-21 ini. Maka negara yang menguasai sumber, rantai pasok, dan teknologi pengolahan akan menentukan arah kekuatan global ke depan. Trump bahkan ingin menahan laju persaingan REE (mineral tanah jarang) dengan minyak fosil.

Kedua, tersudutnya Rezim Petrodolar yang sejak 1974 menjadi pilar utama dominasi ekonomi AS. Menguatnya proses dedolarisasi —yang didorong BRICS dan Global South— secara perlahan menggerogoti hak-hak super istimewa AS dalam sistem keuangan internasional.

Ketiga, berakhirnya pola unipolar menuju multipolar, bahkan bipolar. Hegemoni tunggal AS tidak lagi diterima sebagai keniscayaan. Sedang kekuatan baru —Cina, Rusia, dan jejaring non-Barat— semakin percaya diri membangun poros tersendiri.

Improvisasi Kekuasaan: dari Hegemoni ke Dominasi

Ketiga faktor di atas membidani tahapan yang disebut “titik kritis geopolitik”. Di mana tatanan lama melemah, tapi tatanan baru belum mapan, bahkan masih mencari bentuk. Dunia memasuki masa yang dinamai improvisasi kekuasaan. Di sanalah hegemoni berubah menjadi dominasi.

Greenland, Iran, atau Kanada?

Dalam konteks inilah muncul pertanyaan strategis, “Mana yang akan diprioritaskan AS — menganeksasi Greenland, melumpuhkan Iran, atau mencaplok Kanada terlebih dulu?”

Kanada adalah negara yang lebih dulu bereaksi menolak. Dan itu memantik dukungan Inggris dan enam anggota NATO lain. Seketika syahwat kuasa Trump pun surut. Lalu ke Greenland yang melambangkan investasi masa depan. Pulau es ini menyimpan cadangan REE yang sangat besar, sekaligus memiliki nilai strategis ekonomi dan militer —jalur pelayaran baru— di Kawasan Arktik. Namun, aneksasi Greenland secara terbuka justru berisiko makin melemahkan legitimasi AS sendiri. Penolakan keras dari sekutu NATO —termasuk Denmark, Inggris, Prancis, dan Jerman dan lain-lain— menunjukkan bahwa langkah tersebut akan memukul fondasi aliansi Barat yang selama ini menjadi pilar hegemoni AS. Menganeksasi Greenland sama dengan bubarnya NATO. Artinya, Greenland memang penting, tetapi secara geopolitik — tidak mendesak. Juga terlalu mahal jika ditempuh melalui aneksasi terang-terangan. Sebaliknya, Iran adalah investasi geopolitik masa kini. Dalam logika klasik Deep Stoat —follow the oil— Iran tetap menjadi simpul strategis utama. Negara ini merupakan aktor kunci di Asia Barat, penghubung geopolitik Cina-Rusia, pemain sentral di BRICS, sekaligus ancaman eksistensial bagi Israel.

Dan terpenting, Iran adalah penjaga Selat Hormuz, ini chokepoint energi terpenting dunia. Penutupan Hormuz bisa melambungkan harga minyak global, mengguncang ekonomi dunia, memicu inflasi sistemik, dan berpotensi menyeret banyak negara ke dalam konflik terbuka. Inilah kartu truf Iran yang membuat AS selalu berhitung ekstra hati-hati. Melumpuhkan Iran bukanlah opsi mudah. Perang terbuka akan menjadi konflik jangka panjang dengan biaya ekonomi, pengerahan militer, risiko (geo) politik yang tak terukur, dan tak ada jaminan kemenangan.

Kegalauan Amerika

Di sini tampak jelas kegalauan strategis AS. Timbul spill over. Di satu sisi, memilih Greenland berisiko merusak aliansi tradisionalnya; pada sisi lain, memprioritaskan Iran identik membuka “kotak pandora” konflik global. Nah, Trump Corollary lahir dari dilema ini.

Tatkala kapasitas ekonomi dan legitimasi moral hegemoni jatuh ke titik nadir, kekuasaan cenderung tampil lebih kasar, lebih impulsif, dan lebih unilateral. Maka arogansi bukan tanda kekuatan, melainkan indikasi kelelahan imperium. Tampaknya, AS kini berhadapan dengan realitas pahit. Tampak masih kuat, namun terlihat lelah, tak mampu lagi membiayai dominasi global seperti sebelumnya. Maka ia pun keluar dari 66 organisasi internasional yang sebelumnya didukungnya.

Senja Hegemoni

Di kalangan intelektual AS, hegemoni mereka memang di ambang senja. Kegaduhan geopolitik hari-hari ini pada dasarnya adalah potret transisi sejarah. Dunia tengah mencari keseimbangan baru — baik secara ekonomi, politik, maupun keamanan. Pola lama justru menciptakan ketidakseimbangan struktural yang kini meletus dalam bentuk konflik, krisis, dan instabilitas global. Jika tujuan AS hanya menunda keruntuhan hegemoninya, maka memilih salah satu antara Greenland atau Iran mungkin masih relevan. Namun, bila AS memaksakan keduanya secara simultan —meski dengan intensitas berbeda— justru akan mempercepat runtuhnya hegemoni itu sendiri. Invasi ke Irak, membom Nigeria dan negara lain adalah bukti runtuhnya legitimasi internasional. Dan AS secara sadar menggantinya menjadi dominasi militer.

Sejarah mengajarkan, tidak semua imperium runtuh karena kalah perang, melainkan gagal beradaptasi dengan perubahan zaman. Dan dalam pusaran perubahan ini, kita bukanlah aktor utama. Kita adalah saksi dari pergeseran lempeng sejarah. Dan semua transisi besar, hasil akhirnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh kehendak manusia, melainkan justru oleh hukum perubahan itu sendiri.

Tulisan ini bukan kebenaran, juga tak ada maksud untuk pembenaran — setidaknya sebagai bekal kecil guna mencermati kegaduhan geopolitik, yang salah satunya akibat Trump Corollary. Bagi penyanjung dan pejuang sistem dan model ekonomi politik AS di Indonesia, AS justru telah mempermalukan mereka.

Demikianlah adanya. Terima kasih.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaGrand Design Disorientasi Ekonomi Indonesia: Memahami Watak Kolonial yang Terus BerevolusiSelanjutnyaSerangan Berantai Ukraina Terhadap Kapal Tanker Armada Bayangan, Skema AS-Barat Lumpuhkan Rusia Lewat Modus “Pembajakan”

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents