About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Visa dan Mastercard Panik, QRISQRIS Santai Saja

Rusman

Rusman·31 July 2025·2 min read

Share
Visa dan Mastercard Panik, QRIS Santai Saja

“QR Kecil dari Negeri Besar: Bagaimana Indonesia Mengajari Wall Street Membayar Kopi”

Catatan Peristiwa : Agus M Maksum

Sarah Williamson bukan sembarang orang. Lulusan terbaik MBA Harvard, 15 tahun berkarir di Wall Street, dan kini Wakil Presiden Divisi Pembayaran Digital Asia Pasifik di Goldman Sachs. Hidupnya penuh angka, grafik, dan jargon keren: “cross-border payment”, “merchant fee”, “global network”.

Sampai suatu pagi, Juli 2025, ia dapat laporan yang membuatnya hampir tersedak latte. Visa dan Mastercard—dua raksasa kartu dunia—mulai panik. Alasannya? Sebuah kode QR kecil dari Indonesia.

Sarah cerita, dulu ia menganggap Indonesia “negeri uang lusuh.” “Sepuluh tahun lalu, saya ke Jakarta,” katanya. “Mesin kartu rusak di bandara, taksi hanya terima tunai, bahkan hotel bintang lima pun lebih suka uang kontan.” Ia menyimpulkan cepat: negara berkembang harus ikut sistem kita.
Keyakinannya makin keras setelah kariernya meroket di Wall Street.

Lalu datang Juni 2025. Kementerian Keuangan AS memanggilnya.  “Investigasi sistem pembayaran Indonesia bernama QRIS,” kata pejabat itu serius.

“Ia menghalangi bisnis kartu Amerika.” Sarah tertawa. QR buatan negara berkembang? Paling cuma gimmick murahan, pikirnya.

Tapi laporan riset Goldman Sachs membuatnya bungkam:
* Volume transaksi QRIS kuartal pertama: Rp62 triliun.
* 56 juta pengguna aktif.
* 38 juta merchant.

Dan bukan cuma di Indonesia. QRIS sudah tembus Singapura, Malaysia, Jepang, bahkan Tiongkok. “Arab Saudi dan India pun lagi negosiasi,” kata analisnya. Sarah terdiam. Ini bukan main-main.

Ia terbang ke Jakarta. Tiba di Bandara Soekarno-Hatta—dan kaget. Kopi di bandara? Bayar pakai QRIS.
Naik taksi? Sopir tanya, “Tunai, kartu, atau QRIS?” Hotel yang dulu susah kartu, kini pakai QRIS untuk semua layanan. “Lima detik, selesai,” kata Sarah. Bayarannya lebih cepat dari senyuman kasir Starbucks di New York.

Hari kedua, Sarah bertemu Andi Pratama, direktur pembayaran digital Bank Indonesia. Lulusan MIT, mantan Silicon Valley. Andi menjelaskan:
* Biaya transaksi QRIS 0,7%. (Visa/Mastercard 3–5%)
* Transfer langsung antar-bank.
* Semua berbasis standar global EMVCo.

Dan yang paling mengejutkan: “QRIS bukan sekadar teknologi. Ini inklusi keuangan. Dari warung kaki lima sampai hotel bintang lima, semua bisa pakai,” kata Andi.

Sarah ikut Andi ke Pasar di Kawasan Menteng. Di sana ia bertemu Ibu Sari, nenek 70-an penjual mangga.
Ibu Sari mengangkat ponsel, menunjukkan stiker QR. Scan. Klik. Bayarannya masuk.
“Penjualan saya naik 40% sejak pakai QRIS,” kata Ibu Sari. “Tidak takut uang palsu. Tidak repot kembalian.”
Sarah menatap nenek itu lama-lama. Inovasi ini nyata. Dan ia lahir bukan di Wall Street—tapi di pasar tradisional Jakarta.

Di rapat resmi Bank Indonesia dan Pemerintah , Pejabat Indonesia bicara tenang:
“Kami tak menutup diri. Visa dan Mastercard boleh ikut. Tapi rakyat Indonesia memilih layanan yang lebih baik.”

Sarah akhirnya angkat tangan: “Saya datang dengan prasangka. Tapi setelah melihat sendiri… Amerika harus belajar dari QRIS.”

Ruang rapat hening. Menteri tersenyum. Di luar, Visa dan Mastercard panik. QRIS? Santai saja.
Karena ternyata, kode QR kecil dari negeri besar ini diam-diam sedang mengajari Wall Street… cara membayar kopi.

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousMembaca Pancasila dari Pandang FilsafatNextKenapa Umat Islam Kerap Dijadikan Sasaran Adu Domba?

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents