About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Upaya AS dan Inggris Mendorong Persekutuan Militer di Asia PasifikAsia Pasifik Akan Memicu Militerisasi dan Perlombaan Senjata

Hendrajit

Hendrajit·29 April 2023·4 min read

Share
Upaya AS dan Inggris Mendorong Persekutuan Militer di Asia Pasifik Akan Memicu Militerisasi dan Perlombaan Senjata

Februari 2023 lalu Amerika Serikat (AS) dan Filipina mengumumkannya rencananya untuk meningkatkan eskalasi kerjasama militer kedua negara di bawah naungan the Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA), yang mana telah menyepakati penentuan empat lokasi strategis pembangunan pangkalan militer AS di Filipina (Camilo Osias di Santa Ana, Cagayan; Camp Melchor Dela Cruz di Gamu, Isabela; pulau Balabac di Palawan; dan  Lal-lo Airport di Cagayan).

Baca lebih rinci: Philippines, U.S. Announce Locations of Four New EDCA Sites

Adapun EDCA merupakan pilar utama persekutuan militer AS-Filipina guna mendukung beberapa ragam kerjasama militer kedua negara seperti pelatihan militer maupun latihan militer bersama kedua negara yang bertujuan agar meningkatkan kapabilitas militer bersama. Selain itu untuk menyamarkan tujuan strategisnya dalam meningkatkan pengerahan pasukan militernya di Asia Tenggara melalui Filipina, AS juga memberikan bantuan kemanusiaan (humanitarian aid) maupun bencana alam.

Padahal AS tetap menetapkan prioritas utamanya pada pembangunan infrastruktur militer di Filipina dengan mengalokasikan anggarannya sebesar 82 juta dolar AS. Terutama untuk membangun pangkalan militer pada empat lokasi strategis yang sepertinya dimaksudkan sebagai pengganti Subic and Clark. Pembangunan tersebut diklaim pihak AS maupun Filipina telah membangu peningkatan pertumbuhan ekonomi maupun penciptaan lapangan kerja.

U.S. Marines Embark for Deployment to Asia-Pacific Region

Sisi paling mengkhawatirkan dari pembangunan lima pangkalan AS di Filpinan melalui skema EDCA tersebut adalah kemungkinan digunakan sebagai pangkalan untuk meletakkan sistem pertahanan anti-rudal seperti yang dilakukan AS di Korea Selatan beberapa tahun yang lalu.

Bahkan bukan itu saja. Melalui adanya lima pangkalan militer AS di Filipina tersebut, AS punya peluang yang semakin leluasa  mempersiapkan landas pacu untuk pesawat pembom B1 dan B2. Seraya membangun pelabuhan berskala modern dan canggih untuk melabuhkan kapal-kapal perangnya di Filipina, sehingga bisa mengendalikan keamanan maritimnya di kawasan Asia Tenggara.

Seperti artikel-artikel saya sebelumnya, nampak jelas bahwa AS seturut dengan diterapkannya Indo-Pacific Strategy sejak 2017, berupaya keras untuk semakin meningkatkan kehadiran militernya di Asia-Pasifik. Selain itu AS juga  semakin intensif menjalin kerjasama militernya dengan beberapa negara di kawasan Asia-Pasifik. Seperti melalui skema persekutuan QUAD, AS menggalang persekutuan militer bersama Australia, Jepang dan India.

Khususnya dengan Jepang, pada 2016 lalu AS dan Jepang telah menandatangani kerjasama militer di bawah skema ACSA khusus dalam mendorong kerjasama logistik antara pasukan militer kedua negara. Melalui skema ACSA itu pasukan bela diri Jepang dapat memasok kebutuhan tentara AS antara lain seperti pangan, minyak, tambang, transportasi, maupun berbagai ragam jasa lainnya.

Hal ini merupakan indikasi kuat semakin intensifnya eskalasi kerjasama militer AS-Jepang sebagai bagian integral dari skema QUAD dan Indo-Pacific Strategy. Sedangkan Australian dan Jepang juga menjalin persekutuan militer yang juga semakin agresif di bawah skema Reciprocal Access Agreement (RAA). RAA merupakan Pakta Pertahanan bilateral Australia-Jepang di bidang pertahanan dan keamanan sebagai sarana latihan militer bersama maupun operasi militer bersama.

Bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN yang masih menganut azas politik luar negeri yang bebas dan aktif, kerjasama AS lewat skema EDCA, AS-Jepang melalui skema ACSA maupun Australia-Jepang melalui skema RAA, sangatlah mengkhawatirkan. Oleh sebab dalih yang dijadikan alasan pembenaran adalah untuk membendung ekspansi Cina di kawasan Asia-Pasifik.

Pertanyaan krusialnya adalah, benarkah persekutuan militer ala QUAD, EDCA, ACSA dan RAA merupakan respons yang efektif untuk menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan Asia-Pasifik dan Asia Tenggara pada khususnya?

Saya meragukan hal itu. Pendekatan Hard-Power berupa pengerahan pasukan militer berskala besar terbukti tidak menjamin terciptanya keamanan di kawasan Asia-Pasifik. Yang akan terjadi justru semakin meningkatnya eskalasi ketegangan militer di kawasan Asia-Pasifik. Perlombaan persenjataan strategis antara AS versus Cina di kawasan Asia-Pasifik utamanya di Asia Tenggara, justru semakin meningkat. Sehingga ASEAN sebagai zona damai, bebas dan netral yang sudah dibangun sejak 1970-an akan hancur berantakan. Alhasil, upaya Indonesia sebagai Ketua ASEAN 2023 untuk memprakarsai terciptanya Desain Keamanan Kawasan Asia Tenggara tidak akan kondusif.

United States Marines ride an amphibious military vehicle during an amphibious landing exercise with Filipino counterparts on a beach on the coast of the Naval Education and Training Command in Zambales Province, northwest of Manila, Philippines, 09 May 2018. The Philippines-US Balikatan (Shoulder to Shoulder) Military Exercise is on its 34th iteration, which is aimed to enhance interoperability between security forces of the two countries. EPA-EFE/ROLEX DELA PENA

Mengapa meningkatnya Pengerahan Pasukan Militer yang diterapkan AS dan NATO tidak akan efektif dalam menciptakan stabilitas dan kemanan kawasan? Sebab dalam upaya menjamin terciptanya Collective Security AS dan NATO cenderung menggunakan cara-cara konfrontatif dan mengangkat isu yang mengada-ada untuk membendung pengaruh ideologis Cina dan Rusia yang dipandangnya sebagai musuh utama seperti ditetapkan Pentagon dalam National Security Strategy dan National Defense Strategy pada 2017 lalu.

Pendekatan model hard-power berupa pengerahan pasukan militer di Eropa terbukti gagal total, dan upaya yang saat ini sedang dilakukan di Asia-Pasifik bisa dipastikan akan mengalami kegagalan yang sama.  

Selain terbukti pendekatan hard-power AS dan NATO tidak akan menjamin terciptanya stabilitas dan keamanan di Asia-Pasifik, dukungan AS dan Inggris untuk memiliterisasi negara-negara sekutunya di Asia-Pasifik misalnya dengan Jepang dan India lewat skema QUAD maupun mendorong pembangunan teknologi nuklir melalui skema persekutuan AS, Inggris dan Australia (AUKUS), pada perkembangannya malah akan memicu meningkatnya militerisasi dan perlombaan persennjataan di Asia-Pasifik

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousKonflik (TNI versus Polri) di Jeneponto: Kemana akan Berlabuh?NextSinta Obong dan Ruptura Pactada

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents