About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Economy & Business

Transaksi JanggalTransaksi Janggal: Kemerosotan Birokrasi atau Kegagalan Institusi?

Rusman

Rusman·3 April 2023·3 min read

Share
Transaksi Janggal: Kemerosotan Birokrasi atau Kegagalan Institusi?

Akhir-akhir ini, berita ratusan triliun transaksi janggal yang melibatkan satu atau dua unit kerja di kementerian strategis menghebohkan publik. Sebagai lembaga kajian strategis non-pemerintah, rasanya kita perlu mengkaji persoalan ini dari sudut pandang kerangka yang diterima secara umum. Artikel ini mengeksplorasi konsep kemerosotan birokrasi dan kegagalan institusional, serta penyebab dan hubungan antara keduanya.

Kemerosotan birokrasi mengacu pada melambatnya atau menurunnya kinerja birokrasi dari waktu ke waktu, yang dapat terwujud dalam penurunan efisiensi dan efektivitas dalam memberikan pelayanan publik, merajalelanya korupsi dan nepotisme, keterlambatan inovasi dan pengembangan organisasi, serta kurangnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengambilan keputusan. Penyebab kemerosotan birokrasi antara lain kurangnya dukungan politik dan anggaran, tidak ada insentif untuk meningkatkan kinerja, kurangnya keterlibatan masyarakat, aturan dan prosedur yang kaku dan tidak tanggap, serta kurangnya kompetensi dan keterampilan jajaran staf/aparatur terkait.

Pertanyaan: Manakah di antara indikasi dan penyebab yang terlihat dari “kasus janggal transaksi trilunan” di Kementerian tersebut?

Kegagalan kelembagaan terjadi ketika suatu lembaga atau organisasi tidak mampu mencapai tujuan atau fungsi utamanya, yang dapat diindikasikan dengan maraknya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, kurangnya akuntabilitas dan transparansi, penurunan kinerja dan efektivitas dalam memberikan pelayanan publik, dan ketidakmampuan untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan. Penyebab kegagalan institusi antara lain kurangnya dukungan politik dan anggaran, tidak ada insentif untuk meningkatkan kinerja, aturan dan prosedur yang kaku dan tidak responsif, kurangnya keterlibatan masyarakat, dan keterbatasan sumber daya manusia dan teknologi.

Pertanyaan: Manakah di antara indikasi dan penyebab yang terlihat dari “kasus janggal transaksi trilunan” di Kementerian tersebut?

Kemerosotan birokrasi dan kegagalan kelembagaan sangat erat kaitannya, karena keduanya berkontribusi terhadap kinerja lembaga dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas. Kemerosotan birokrasi dapat menjadi penyebab utama kegagalan kelembagaan dalam mencapai tujuannya, karena birokrasi yang tidak efektif kehilangan kepercayaan dan dukungan masyarakat. Kegagalan kelembagaan juga dapat menyebabkan kebobrokan birokrasi, karena kurangnya dukungan politik dan anggaran membuat birokrasi sulit untuk memperbaiki kinerjanya.

Pertanyaan: Sejauh mana telah terjadi “kemerosotan birokrasi” dan “kegagalan institusi” di lembaga eksekutif itu?

Beberapa teori sosiologi menjelaskan kemerosotan birokrasi dan kegagalan kelembagaan. Teori konflik mengaitkannya dengan konflik kepentingan antara kelompok dan individu dalam masyarakat, dengan kelompok kuat yang mengendalikan birokrasi dan institusi lain, yang mengarah pada korupsi dan nepotisme. Teori kelembagaan menunjuk pada perubahan lingkungan sosial dan politik yang tidak diimbangi dengan perubahan struktur dan budaya organisasi. Teori struktural-fungsional melihat ketidakseimbangan antara struktur dan fungsi dalam organisasi sebagai penyebabnya. Teori rasionalisasi menyalahkan rasionalisasi yang berlebihan, yang dapat membuat birokrasi atau institusi menjadi terlalu formalistik dan kurang tanggap terhadap perubahan lingkungan.

Teori mana yang kira-kira dapat menjelaskan“kemerosotan birokrasi” dan “kegagalan institusi” yang terjadi di lembaga eksekutif itu?

Pemimpin memainkan peran kunci dalam mencegah atau menyebabkan kerusakan dan kegagalan birokrasi dan kelembagaan. Kepemimpinan yang lemah dapat menyebabkan penurunan kinerja dan kualitas kerja, serta menimbulkan ketidakpuasan di kalangan karyawan. Kurangnya pengawasan dapat menyebabkan perilaku tidak etis atau bahkan pelanggaran hukum oleh karyawan, merusak reputasi organisasi atau pemerintah dan mengakibatkan kerugian finansial. Korupsi dan nepotisme yang dilakukan pemimpin dapat merugikan kepentingan publik dan menimbulkan ketidakpercayaan. Kurangnya transparansi dan akuntabilitas dapat menyebabkan kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan publik, menyebabkan ketidakpuasan dan merusak reputasi organisasi atau pemerintah. Pemimpin harus memastikan berfungsinya organisasi atau pemerintahan secara efektif dan efisien, memperhatikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan, menghindari praktik korupsi dan nepotisme, serta memberikan pengawasan yang efektif terhadap staf dan Aparat Sipil Negara yang berada di bawah pimpinan beliau.

Pertanyaan: Sejauh mana peran eselon pimpinan dalam munculnya indikasi “kemerosotan birokrasi” dan “kegagalan institusi” di lembaga eksekutif itu?

Pertanyaan besarnya: “Apa yang harus dan dapat dilakukan oleh berbagai “aktor sosial” (individu dan organisasi) sebagai upaya mengurangi dampak dan mencoba mengusulkan (bahkan “mendesakkan”) perbaikan yang perlu?

Rahim Jabar, pemerhati sosial-ekonomi dan budaya dari Pusat Pengkajian Strategis Nusantara (PPSN)

Sumber rujukan:
Clifton D. Bryant, Dennis L. Peck, “21st century sociology: A reference handbook”, Vol.2, Specialty Fields, Sage Publications Ltd. London, 2007
Edgar F. Borgatta, Rhonda J. V. Montgomery, “Encyclopaedia of Sociology, Second Edition”, MacMillan Reference, USA, New York, 2000
Jonathan H. Turner University of California, “Theoretical Sociology, A Concise Introduction to Twelve Sociological Theories, SAGE Publications Ltd., London, 2012

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousKerjasama Strategis Indonesia-Eurasian Economic Union (EAEU) Bisa Menjadi Kekuatan Keseimbangan Baru Menghadapi Hegemoni AS-Uni EropaNextPara Elit Politik Aceh Perlu Mengaktualisasikan Kembali Visi Geopolitik Sultan Iskandar Muda

More in Economy & Business

View all
Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
Economy & Business

Rencana Merger Elnusa dan PDSIElnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo

6 September 2026 · 5 min read

Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
Economy & Business

Ekonomi Politik NU dan PesantrenNU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)

1 September 2026 · 3 min read

Perang AS vs Iran Mengguncang Ketahanan Energi, Perdagangan Dan Sistem Pangan Global
Analysis

Perang AS vs IranAS vs Iran Mengguncang Ketahanan Energi, Perdagangan Dan Sistem Pangan Global

25 July 2026 · 5 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents