About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Science & Tech

Tralalero Tralala, Chatbot AIChatbot AI, dan Sprunki: Apa yang Dicari dan Ditonton Anak-Anak Secara Online Tahun 2025

Rusman

Rusman·5 June 2025·5 min read

Share
Tralalero Tralala, Chatbot AI, dan Sprunki: Apa yang Dicari dan Ditonton Anak-Anak Secara Online Tahun 2025

Untuk memperingati Hari Anak Internasional, Kaspersky telah merilis laporan tahunannya tentang minat digital anak-anak. Analisis yang mencakup periode Mei 2024 hingga April 2025 ini mengungkap ketertarikan yang semakin besar terhadap chatbot bertenaga AI, maraknya meme-meme Italia yang membingungkan seperti “tralalero tralala”, dan meningkatnya perhatian terhadap Sprunki — permainan berbasis ritme yang menggabungkan musik dan gerakan. YouTube tetap menjadi aplikasi paling populer di kalangan anak-anak secara global, sementara WhatsApp menyalip TikTok untuk posisi kedua. Selengkapnya dalam laporan berikut ini.

Di dunia yang saling terhubung saat ini, anak-anak lebih banyak terlibat dengan teknologi digital daripada sebelumnya. Studi terbaru menunjukkan bahwa anak-anak berusia 8-10 tahun menghabiskan rata-rata enam jam setiap hari di depan layar, sementara anak praremaja (usia 11–14) menghabiskan rata-rata sekitar sembilan jam per hari. Dengan sebagian besar kehidupan mereka yang dihabiskan secara daring, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memahami apa yang menjadi minat mereka di ruang digital, konten apa yang mereka cari, platform apa yang mereka gunakan, dan tren apa yang memengaruhi perilaku mereka.

Setiap tahun, tren digital baru membentuk cara anak-anak menjelajahi dunia. Dalam laporan tahun ini, Kaspersky menemukan lonjakan minat pada perangkat kecerdasan buatan. Meskipun tidak ada aplikasi AI yang muncul dalam 20 aplikasi paling banyak digunakan di periode waktu 2023-2024, “Character.AI” kini telah masuk dalam daftar, menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya ingin tahu tentang AI tetapi juga secara aktif mengintegrasikannya ke dalam kehidupan digital mereka. Lebih dari 7,5% dari semua kueri penelusuran adalah tentang chatbot AI, yang dipimpin oleh nama-nama terkenal seperti ChatGPT, Gemini, dan terutama Character.AI — sebuah platform yang memungkinkan pengguna membuat atau berinteraksi dengan bot yang meniru karakter fiksi atau nyata. Ini menandai peningkatan tajam dari tahun lalu: dalam laporan 2023–2024, kueri terkait AI hanya mencapai 3,19% dari semua penelusuran, meningkat lebih dari dua kali lipat tahun ini.

Namun, tidak semua interaksi chatbot bebas risiko. Beberapa bot dapat memaparkan anak-anak pada konten yang sangat emosional, misinformasi, atau tidak sesuai, terutama saat dibuat atau disesuaikan oleh pengguna lain. Karena platform ini sering kali mengandalkan konten yang dibuat pengguna dan mungkin tidak memiliki moderasi ketat, sangat penting untuk berbicara secara terbuka dengan anak-anak mengenai cara mereka menggunakan alat AI — dan menyiapkan aplikasi pengasuhan digital yang membantu keluarga tetap waspada, terlibat, dan terlindungi.

Meskipun meme hanya menjadi sebagian kecil penelusuran tahun ini, meme tetap mengungkap lapisan lain dari budaya digital anak-anak. Banyak meme paling populer tergolong dalam apa yang disebut “brainrot” — sejenis humor absurd yang sengaja dibuat kacau yang menyebar melalui video pendek. Di antara yang paling banyak ditelusuri adalah frasa Italia “tralalero tralala” dan lagu meme yang disebut “tung tung tung sahur”. Frasa-frasa ini mungkin terdengar acak bagi orang dewasa, tetapi bagi banyak anak, meme tersebut merupakan lelucon bersama yang berpindah dengan cepat dari satu platform ke platform lainnya.

Contoh frasa brainrot dalam bahasa Italia

Di antara pendatang baru yang menarik perhatian analis adalah Sprunki — gim peramban berbasis ritme yang memadukan musik dan interaksi visual. Pemain harus memainkan ketukan yang selaras dengan audio yang berirama cepat, sehingga pengalaman bermain menjadi lebih mendalam dan menarik secara fisik. Desainnya yang cerah dan seperti kartun serta permainan yang adiktif telah membuatnya semakin populer di kalangan anak muda. Hal ini tercermin tidak hanya dalam pencarian Google tetapi juga di YouTube, di mana Sprunki masuk dalam lima besar topik gim yang paling banyak dicari, sejajar dengan favorit lama seperti Brawl Stars dan Roblox.

Lagu-lagu Sprunki

Pada saat yang sama, kebiasaan yang lebih familiar tetap kuat. Aktivitas daring yang paling umum di antara anak-anak adalah pencarian platform streaming di Google — hampir 18% dari semua kueri terkait dengan menonton video. Tidak mengherankan, YouTube tetap menjadi aplikasi Android favorit, tumbuh dari 28,13% menjadi 29,77% selama setahun terakhir. WhatsApp naik ke posisi kedua dengan 14,72%, menyalip TikTok (12,76%), sementara Snapchat dan Facebook terus menurun. Pergeseran ini mungkin mencerminkan kebiasaan komunikasi yang berkembang — anak-anak lebih sering menggunakan aplikasi obrolan untuk berbagi tautan, meme, dan video pendek dengan teman-teman.

Konten video dan gim juga tetap menjadi topik populer dalam perilaku pencarian anak-anak. Platform seperti Netflix, Twitch, dan Disney+ tetap kuat — tren yang juga menggemakan temuan dari laporan streaming terbaru Kaspersky, yang menyoroti bagaimana platform hiburan sering menjadi target penjahat dunia maya. Pada saat yang sama, di dunia gim, anak-anak terus menyukai Roblox, Minecraft, dan semakin banyak, portal berbasis peramban Poki — portal yang menawarkan ratusan gim gratis, seringkali sederhana, cepat, dan langsung dapat diakses di peramban.

Di Indonesia sendiri, topik yang berkaitan dengan perangkat lunak, audio, dan video menjadi topik yang paling banyak dibicarakan anak-anak dengan persentase sebesar 64,72%. Untuk aplikasi yang paling banyak digunakan anak-anak di Indonesia, Youtube masih memimpin di posisi teratas dengan 28,02% disusul WhatsApp (22,15%) dan Tiktok (16,01%).

“Tren tahun ini menunjukkan betapa cepatnya budaya digital anak-anak berkembang — suatu hari mereka mengobrol dengan bot AI, hari berikutnya mereka semua menyenandungkan lagu meme Italia yang belum pernah Anda dengar. Namun, di balik setiap tren terdapat peluang untuk terhubung. Ketika orang tua meluangkan waktu untuk memahami apa yang ditonton, dimainkan, atau dicari anak-anak mereka, hal itu membuka pintu untuk percakapan bermakna — dan membantu membangun kebiasaan digital lebih aman dan dapat dipercaya. Aplikasi untuk pengasuhan digital dapat menjadi alat yang membantu dalam perjalanan ini — tidak hanya untuk melindungi, tetapi juga untuk tetap terlibat,” komentar Anna Larkina, pakar privasi di Kaspersky.

Temuan dalam laporan ini didasarkan pada data anonim yang diberikan secara sukarela oleh pengguna solusi kontrol orangtua Kaspersky Safe Kids antara Mei 2024 dan April 2025. Temukan laporan lengkapnya di KDaily.

Untuk menonton acara favorit dengan aman, Kaspersky merekomendasikan hal berikut:

  • Jaga komunikasi terbuka dengan anak-anak tentang potensi risiko daring dan tetapkan panduan yang jelas untuk memastikan keselamatan mereka.
  • Amankan pengalaman bermain gim dengan memasang solusi keamanan tepercaya, seperti Kaspersky Premium, untuk mencegah pengunduhan file berbahaya.
  • Tetap terinformasi tentang ancaman yang muncul dan pantau aktivitas daring anak-anak secara aktif untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.
  • Perkenalkan anak-anak pada dasar-dasar keamanan siber menggunakan alat pendidikan seperti Kaspersky Cybersecurity Alphabet — buku yang dapat diunduh gratis yang menjelaskan konsep utama, aturan kebersihan siber, dan cara menghindari penipuan.
  • Gunakan aplikasi pengasuhan digital seperti Kaspersky Safe Kids untuk melindungi anak-anak baik daring maupun luring, mengatur waktu layar, memblokir konten yang tidak pantas, dan melacak lokasi mereka untuk kenyamanan.

Jangan lewatkan penawaran Mid-Year Sale yang menarik dari Kaspersky. Dapatkan diskon hingga 44% yang berlaku mulai 1 Juni – 30 Juni 2025. Untuk informasi lebih lanjut, silakan akses tautan berikut: https://id.kaspersky.com/premium

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousHegemoni Global AS Melalui Kebijakan Keamanan Siber Harus DiakhiriNextWaspada Email Palsu Meniru Gaya Komunikasi CEO Perusahaan Untuk Mencuri Uang

More in Science & Tech

View all
Chatbot AI Dapat Mempengaruhi Hasil Pemilihan Umum
Culture

Chatbot AIChatbot AI Dapat Mempengaruhi Hasil Pemilihan Umum

15 July 2026 · 6 min read

140 Juta Upaya Phishing dan Penipuan di Kuartal Pertama 2026, Kaspersky Merespons Dengan Perlindungan Berbasis AI
Science & Tech

140 Juta Upaya PhishingUpaya Phishing dan Penipuan di Kuartal Pertama 2026, Kaspersky Merespons Dengan Perlindungan Berbasis AI

9 July 2026 · 3 min read

Malware yang Menyamar Sebagai Layanan AI Terhadap UMKM di Asia Tenggara Meningkat Hampir Tujuh Kali Lipat di Tahun 2026
Science & Tech

Malware yang Menyamar Sebagai Layanan AI Terhadap UMKM di Asia TenggaraAsia Tenggara Meningkat Hampir Tujuh Kali Lipat di Tahun 2026

6 July 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents