About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Geopolitics

Swastanisasi TentaraSwastanisasi Tentara, Buah Dari Globalisasi Neoliberal dan Globalisasi Neokonservatif

Hendrajit

Hendrajit·14 October 2025·4 min read

Share
Swastanisasi Tentara, Buah Dari Globalisasi Neoliberal dan Globalisasi Neokonservatif

Sepertinya arus deras globalisasi di bidang ekonomi dalam bingkai Neoliberalisme yang benih-benihnya sudah bertumbuh sejak usai Perang Dingin pada akhir 1980an dan awal 1990an, hanya segelintir kalangan yang membayangkan bakal menjamurnya perusahaan-perusahaan jasa keamanan dan militer sejak paruh pertama abad ke-21.

Ambillah sebagai contoh, Vinel Corporation, anak perusahaan Northrop Grunman, ternyata tercatat merupakan salah satu perusahaan penyewa polisi global terkemuka. Vinel Corporation sewaktu AS menginvasi Irak pada 2003, memenangkan kontrak senilai 48 juta dolar AS, untuk melatih angkatan bersenjata Irak yang baru. Bukan itu saja. Sebagai informasi tambahan, Vinel Corporation adalah perusahaan milik Northrop Grunman, yang pernah dimiliki Carlyle Group, merupakan organisasi tentara bayaran. Dengan rekam jejak pernah melatih pasukan nasional Arab Saudi.

Analisis Bonnie Setiwan dalam pengantar buku karya Veronika Sintha Saraswati, Imperium Perang Militer Swasta, penting untuk kita renungkan: “Kapitalisme Global mengandung dua sisi, sisi ekonomi berupa globalisasi neoliberal, dan sisi politik-keamanan berupa globalisasi neo-konservatif.”

Artinya, perkembangan liberalasi pasar berimplikasi pula pada perkembangan perubahan-perubahan kebijakan dan bentuk sistem keamanan militer. Sistem keamanan ekonomi pasar terbuka ini sangat tergantung pada kekuatan militer dengan basis kewilayahan yang cukup kuat. Kebutuhan ekspansi pasar berskala global hal itu sejajar dengan kebutuhan adanya basis kekuatan militer secara global pula.

Dengan itu, dalam khazamah studi hubungan internasional, mencuat sebuah gejala baru, yaitu Private Military Corporations (PMC). Saya teringat diskusi saya dengan almarhum Hasyim Wahid (Gus Im), sekitar tahun 2005 lalu. Adik kandung mantan Presiden Abdurrahman Wahid, yang punya minat besar dalam mengkaji geopolitik internasional, tiba-tiba menunjukkan sebuah buku, yang kala itu belum saya pahami makna dan maksud Gus Im mempertunjukkan buku itu. Buku itu bertajuk “The Private Army (1950) karya Vladimir Peniakof.

Namun fenomena Vinel Corporation seperti saya gambarkan pada awal tulisan tadi, atau kiprah dari perusahaan sejenis seperti The Blackwater, yang diperlihatkan Gus Im kepada saya itu, seakan seperti sebuah ramalan atau nubuat. Betapa tidak. Sepak-terjang perusahaan korporasi militer swasta seperti DynCorp, yang memperoleh kontrak di Afghanistan dan Irak, bergerak dalam bisnis penyediaan tenaga polisi dan tentara. Perusahaan ini memperoleh nilai kontrak untuk penyediaan jasa ini di Afghanistan dan Irak, sebesar 50 juta dolar AS.

Vinel Corporaation atau DynCorp, hanya sekadar ilustrasi, betapa yang namanya Korporasi Militer Swasta  saat ini sudah berkembang menjadi industri besar dengan kontrak resmi mencapai 10-20  miliar dolar per tahun. Dari peta bisnis tersebut, korporasi militer swasta milik AS dan Inggris, berhasil meraup 70 persen dari bisnis PMC tersebut. Hal ini menjelaskan betapa AS dan Inggris merupakan dua negara besar yang begitu gigih mendesak dilancarkannya invasi militer ke Irak dengan dalih untuk menggulingkan Presiden Saddam Hussein. Rupanya, bagi AS dan Inggris, Perang pun sejatinya merupakan sebuah proyek binis.

 

Guns For Hire

SUMBER: https://www.gettyimages.com/detail/news-photo/private-security-contractors-pat-scott-mike-stocksett-neil-news-photo/79728488?adppopup=true

Sehingga invasi militer AS dan Inggris ke Afghanistan, Irak, Libya, dan Suriah dengan dalih Regime Change atau Aksi Mendorong Pergantian Kekuasaan, agenda tersembunyinya adalah untuk memberikan “lahan bisnis” kepada beberapa korporasi militer swasta seperti Vinnel Corporation, DynCorp, Blackwater, Stratfor, Defence System Ltd, California Microwave Inc, Executive Outcome, Sandline International, Halliburton, Defence Security, Elite Security Corps, dan masih banyak lagi.

Seperti pemaparan Veronika Sintha Saraswati, korporasi-korporasi militer swasta itu merambah pada bidang Garapan yang luas seperti jasa pelayanan, pelatihan dan pendidikan, rekonstruksi pasca-perang, bantuan tenaga ahli  untuk perencanaan pembangunan hingga keterlibatan dalam komunitas internasional dalam rangka mendirikan pemerintahan protektorat (istilah halus dari jajahan) di beberapa negara. Kasus Afghanistan dan Irak, merupakan ilustrasi yang pas sekali. Ketika Korporasi Militer Swasta terlibat secara langsung di medan-medan perang, termasuk jasa-jasa konsultasi dan pelatihan militer.

Dalam kasus invasi militer AS ke Afghanistan, Korporasi Militer Swasta seperti DynCorp digunakan untuk memberi perlindungan khusus kepada Presiden Hamid Karzai. DynCorp juga digunakan untuk melatih polisi di Bosnia-Herzegovina, Kosovo dan Timir-Leste.

Jadi ketika kita cermati secara jeli, ketika AS melancarkan invasi militer ke negara-negara lain yang disusul dengan pergantian kekuasaan seperti di Afghanistan, Irak dan negara-negara Balkan seperti Serbia, Kosovo dan Bosnia-Harzegovina,  Korporasi Militer Swasta tersebut juga berperan mendirikan pemerintahan protektorat (istilah lugasnya, pemerintahan boneka) di Balkan, Afghanistan, dan Irak. Termasuk memberikan pelatihan-pelatihan militer seperti peran yang dimainkan DynCorp.

 

Guns for Hire: Private Security Afghanistan

SUMBER: https://www.gettyimages.com/detail/news-photo/private-security-contractor-neil-gary-a-former-u-s-marine-news-photo/1388612202?adppopup=true

Pertanyaan pentingnya adalah, jika maraknya Korporasi Militer Swasta sebagai buah dari Globalisasi Neoliberal di bidang ekonomi-perdagangan dan Globalisasi Neokonservatif di bidang politik-keamanan, apakah akan berdampak secara langsung dengan melemahnya fungsi sosial negara? Nampaknya memang seperti itu.

Dalam konteks ekonomi-perdagangan, tujuan strategis skema Neoliberalisme adalah untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi, seraya mendesak agar lintas barang jasa dan modal tidak terhambat oleh regulasi negara. Pasar bebas mengandaikan dihilangkannya kontrol dan aturan-aturan yang menghambat laju pasar. Negara harus dibatasi perannya untuk mengontrol kepentingan-kepentingan umum. Dengan kata lain, keputusan-keputusan strategis harus berada di luar kendali negara.

Sayangnya, seperti juga diingatkan oleh Veronika Sintha Saraswati, dalam bukunya yang sangat informatif dan mencerahkan, kajian-kajian ihwal sepak-terjang Korporasi Militer Swasta itu, masih sedikit yang menaruh perhatian sebagai subyek studi hubungan internasional maupun ekonomi politik. Sepertinya korporasi-korporasi di bidang ekonomi-bisnis, saat ini sudah meluas lingkupnya ke ranah militer dan keamanan.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousSkema dan Struktur Penjajahan Gaya Baru Secara Non MiliterNextKonsepsi Indo-Pasifik Versi Karl Haushofer Sebagai Warisan Kolonial Yang Dihidupkan Kembali oleh AS

More in Geopolitics

View all
Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents